5 Jan 2017

nomoreworried

Akhir-akhir ini lalu lintas pikiranku cukup padat – merayap. Bersyukur masih padat merayap sih, setidaknya masih jalan walau pelan. Bukan lantaran long weekend atau libur akhir tahun 2016 lalu. Jujur saja semenjak  baju beserta topi toga itu resmi kukenakan dan aku dinyatakan lulus sebagai sarjana, berbagai jenis pikiran berlarian di benakku, baik yang positif maupun negatif. Berbagai rencana-rencana yang mengambang, dan angan yang mengumpal maupun menguap, berkumpul lengkap jadi satu.. disini.. tepat di atas kedua alis mataku.
Hal-hal yang disebut “proses menuju dewasa” itulah, yang sepertinya membuat jiwa “seni” ku semakin pudar. Realistis yang berlebihan memakan imaji-imaji yang dulu berkeliaran. Dulu aku lebih senang mendengarkan Ebit G.Ade, Mayumi Itsuwa dengan lagu Kokoronotomo yang old but gold, atau band-band semacam Payung Teduh, yang klasik, lembut, dan menyentuh. Namun kini, aku lebih sering (sering bukan berarti suka) mendengar musik pop beats yang menderu mengejarku, seperti Sia dengan Chandelier. Kadang terasa.. “Ini bukan diriku sama sekali.. terlalu cepat ritme-ritmenya, aku kesulitan untuk menikmati”
Memangnya musik itu pengaruh? Menurutku iya. Pernah dengar kan.. bahwa selera musik itu sedikit banyak menggambarkan pribadi si penikmatnya. Bukan berarti dengan menjadi penikmat Ebit G.Ade kemudian aku hendak mengaku-aku kan diri bahwa akulah si putri berhati lembut nan anggun.. hehe.. kurasa aku masih cukup jauh dari predikat yang sedemikian rupa. Mungkin aku lebih suka menikmati musik lembut karena dapat merasa rileks, nyaman dan tenang dalam ketukan demi ketukan nadanya. Bukankah musik itu didengarkan untuk hiburan? Jika tidak menghibur dan tidak menyenangkan... lalu... untuk apa :)
Selain terkait selera musik, proses pendewasaan ini nampaknya juga merubah kebiasaanku yang lain, misalnya... aku sudah sangat-sangat-sangat jarang menulis (terutama di blog ini). Aku bahkan sempat berpikir, “Menulis ngelantur kemana-mana hanyalah upaya memotong-motong waktu luang, agar nampak kita sibuk banyak gawean”.  Sedihnya, aku bahkan tak sibuk dan aku tak sempat menulis. Sibukku hanya dalam pikiran, bukan tindakan. Aku sibuk memikirkan bagaimana masa depan, apa yang terjadi jika aku memilih keputusan ini, bagaimana jika aku mengambil pekerjaan ini atau bagaimana jika aku mendaftar sekolah itu.
Padahal nyatanya.. sekeras apapun pikiran dan logikaku bekerja, tetap takkan mampu menandingi kuasa dan keputusan Allah Azzawajalla. Hal-hal demikianlah yang sering aku abaikan dan tanpa sengaja kukesampingkan. Pun sejatinya aku tahu betul akan hal itu... namun aku memilih berlarian bersama logikaku hingga larut malam dan terlelap barang 3 jam kemudian terbangun lagi untuk menyapa kenyataan. Takut berlebihan.. jika kutinggal tidur sebentar, kenyataan akan berubah terlalu jauh dari garis edar yang sudah kususun dan kuimpi-impikan.
Padahal... kegagalan demi kegagalan yang terjadi sebenarnya bukanlah pintu akhir dan jawaban dari panjang perjuangan itu. Barangkali Tuhan tengah mengajak kita berjalan-jalan terlebih dulu. Membiarkan kita menikmati ranum bunga-bunga mungil sepanjang perjalanan melelahkan atau menuntun kita untuk sejenak melihat senja diiringi kepak camar yang romantis. Barangkali Tuhan hendak mengajak kita kejalan lain yang lebih indah dari yang kita minta, sebab bila kita mengambil jalan yang kita impi-impikan.. sesuatu yang buruk mungkin terjadi. Mungkin.
Aku masih ingat betul... terakhir kali rajin menulis sekitar 4 tahun yang lalu. Saat pikiran-pikiran realis belum benar-benar menguasaiku. Nampaknya sejak sekarang aku harus mulai rajin menulis lagi, sekedar curhat fakta atau berimajinasi dalam cerita fiksi. Mungkin itu dapat menyeimbangkan kemampuan berpikirku agar lebih jernih lagi dan mampu melihat keadaan bukan hanya dari sisi yang terlihat saja namun juga dari sisi yang tertutup bayang-bayang.

Library, 10:28, 5/1/17 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BIG BIG thanks to you :)) silahkan beri komentar dan berkunjung kembali kawan. *hamidahsemi*