21 Agt 2017

Bijak Bermedia



Pagi tadi aku memasuki kelas Komunikasi dan Isu Kontemporer, dengan dosennya Mbak Gilang. Ada beberapa isu-isu komunikasi terkini yang disampaikan oleh dosen kami, namun ada satu topik yang begitu menarik perhatianku yakni “Isu Privasi di Era Digital”. Banyak dari kita yang sepakat bahwa privasi kita saat ini sedang diperjualbelikan dalam bentuk data: oleh Facebook (yang saat ini saya gunakan) maupun oleh aplikasi-aplikasi milik google seperti Google Maps dan lain sebagainya.
Kita nyaris tidak memiliki privasi, sebab google maps akan tau dimana kita berada jam ini hari ini detik ini, bahkan dengan siapa dan dimana, hanya ketika kita menyalakan GPS kita atau share foto yang menandakan lokasi.
Kita memang tidak bisa lepas dari teknologi berikut aplikasi-aplikasinya, namun yang tetap bisa kita lakukan adalah bijak dalam bermedia dan berteknologi. Usahakan memperluas pengetahuan mengenai dampak penggunaan teknologi yang berlebihan, karena sejatinya teknologilah yang harus kita kendalikan bukan kita yang dikendalikan teknologi. Selain itu, lebih berhati-hati dalam memposting foto (bijak memilih mana yang layak di posting dan mana yang tidak), dan berbagai upaya bijak bermedia yang lainnya.
Menurut Mbak Gilang, orang Indonesia cenderung tidak mementingkan privasi. Hal sesederhana pintu kamar tidur di rumah, hampir semua dari kita sepakat jika tidak ada yang mengunci pintu kamar tidur. Begitu pula dengan adanya fakta google maps yang terlalu tau privasi penggunanya, kita juga cenderung tidak mempermasalahkannya dan lebih memilih bersikap “ah yaudahlah orang cuma tau aku makan dimana, orang cuma tau akan pergi sama siapa”, dan cuma-cuma lainnya yang kita anggap angin lalu. Namun tahukah kita, ketika kita tidak memiliki privasi sedikitpun, kejahatan bisa mengintai kita kapan saja, orang yang (misalnya) hendak berbuat jahat dengan kita akan segera tau kita sedang jalan-jalan di Kota X sesaat setelah kita posting. Atau taukah kita kenapa seringkali muncul suggestion atau iklan-iklan tidak jelas di akun facebook kita sesuai dengan bidang / minat yang kita sukai, karena facebook sudah tau kita siapa, apa yang kita butuhkan, dan data kita dijual kepada produsen yang menghasilkan barang/jasa yang kita minati. Alhasil, kita dijejali dengan iklan yang itu-itu saja, membuat kita tergoda membeli, dst

18 Agt 2017

Belajar Tinggal di Kost-an ♡♡♡

Aku benar2 masih newbie dalam dunia per kost-an.
Dan ini menjadi pengalaman indah dalam hidupku, bersyukur aku berkesempatan kos di usia yang cukup dewasa (tapi aku tak tau sudah benar2 dewasa atau belum sih hehe). Tapi yang jelas... jika aku tinggal di rumah kos ketika masih SMA atau maba s1 kemungkinan besar aku akan sama meledaknya-ledaknya seperti beberapa teman kost ku saat ini yang masih baru lulus SMA :')
Jadi... jika setiap tempat memang memiliki kekurangan dan kelebihan, manusiapun begitu kan hehe, itu hal wajar kurasa, yang menjadi tidak wajar adalah bagaimana cara kita bereaksi terhadap hal tersebut, dan bagaimana kita mengatasinya.
Di kost ku yang baru ini, ada sekitar 12an mahasiswa, problem yang terjadi di sini adalah listrik yang mudah padam (jeglek) jika terlalu besar daya yang digunakan, misal semua orang bebarengan memasak nasi atau menyetrika baju.
Sebenarnya ibu kost sudah mengajukan tambahan listrik ke PLN (menurut beliau) dan kini masih dalam proses.
Namun... ada beberapa teman kost yang selalu marah-marah di grup. Bahkan mereka kerap membuat suasana grup Whatsapp menjadi tegang karena menulis kalimat "pindah aja kalau gini" "kita harus demo" dan kalimat-kalimat lain yang membuatku cukup geli atau ngekek bacanya. Hehe... wong masalah gini aja kok sudah meledak-ledak, setauku hidup lebih sulit daripada ini, akan banyak kerikil, lubang, dan lain sebagainya disepanjang perjalanan hidup kita, namun aku belajar... bahwa lebih bijak dalam menghadapi permasalahan akan membuat kita sendiri lebih tenang.
Jika ada listrik mati ya tinggal nyalakan, jika terjadi berulang kali ya disampaikan, jika komplain tak ditanggapi... ya.. pindah kosan.. loh kok sama aja jadinya hehehe.
Ya intinya.. dibawa tenang, ademin dulu, marah itu mengurasi emosi dan tenaga, dihemat-hemat pikiran dan tenaganya, kan masih muda. Nanti disisakan untuk mikirin kerjaan, mikirin rumah tangga, mikirin anak-anak, mikirin jalan-jalan ke poland, keliling mesir, menikmati salju pertama yang turun di depan sydney opera house, hahaha.. malah fokusnya ke jalan-jalan.
Ya gitulah pokoknya.. tenang... lemesin dulu shay hehehhe
Aku juga masih terus belajar. Dan itu ya susah-susah gampang hehehhe.

Tahap Perkenalan

Sudah 1 mingguan ini aku pindah ke kamar kos baru. Dan artinya sudah 1 mingguan ini pula aku mencoba mengenali tempat baruku. Sebenernya sudah kurasa cukup nyaman berada di kost lama, namun karena kurangnya tempat parkir motor membuat aku harus memutuskan untuk pindah meskipun sudah nyaman. Nah pernah dengar gak tentang mencintai seseorang itu seperti tinggal di dalam rumah? Iya.. memang sama. Semakin kita lama tinggal dirumah tersebut, semakin kita tau bagaimana cara membuka pintu yang baik tanpa harus membuatnya berderit karena bergesekan dengan lantai, bagaimana cara mengatasi lubang di langit-langit yang mampu ditembus air hujan, atau bahkan bagaimana perlahan-lahan menginjak suatu lantai jika terasa ubin mulai kendor hendak lepas, dst. Sebagaimana mencintai, kita akan tau bagian mana yang tidak boleh kita singgung, makanan apa yang paling ia suka, dst. Ketika sudah merasa nyaman dan memahami, terkadang kita enggan untuk pergi, karena memulai dari awal dan mencoba mengenali rumah maupun orang baru bukanlah hal mudah. Tapi jika dirasa ada ketidakcocokan yang tak bisa ditolerir lagi, *misalnya parkiran tadi hehe* beranjak pergi adalah jawaban terbaiknya.

Sebenernya menulis tentang persamaan dalam memahami rumah dan orang di atas bukanlah poin utama yang ingin kusampaikan haahhaha dasar suka melebar-lebar kalau ngomong. Aku justru ingin menceritakan tentang kamar kost baruku, kami masih dalam tahap perkenalan *ciee*. Jadi dalam 1 minggu ini aku mulai mengenalinya, bahwa aku harus menutup tirai pukul 4 sore karena jendela kamarku menghadap barat, matahari sore yang hendak tenggelam sangat menyilaukan jika aku sedang belajar atau sekedar baca-baca. Aku harus sholat sedikit serong ke kiri karena kamarku tak lurus kiblat. Aku harus menekan pintu lebih dalam jika ingin memasukkan slot kunci pintu. Dan.. aku juga harus cukup bersabar jika mendengar suara "krek krek kretek" diatap kamar kos ku.... yang awalnya kukira adalah tikussss!!! Tapi ternyata tidak :') aku bersyukur sekali.  Itu adalah burung.
Awalnya aku cukup heran kenapa mereka tinggal di atap kamar lantai dua? Setauku burung kan membuat sarang di pohon. Namun akhirnya kudapati jawaban dari Pak Purnomo, tukang yang kemarin membenarkan kamarku.
"Di sini kan semua udah jadi rumah mbak, sudah jarang pohon, makanya burung-burung ya tinggalnya di atap rumah orang" begitu kira-kira penjelasan sederhana pria paruh baya asal Madura ini. Aku mengangguk pelan, "Iya juga ya..." pikirku sambil memandangi sekeliling daerah Pogung Dalangan, Yogyakarta, yang penuh sesak dengan atap rumah-rumah kosan, warung, burjo, angkringan, segala jenis tempat makan, laundry, bahkan tak jauh dari kost ku tengah digarap apartemen puluhan lantai yang nampaknya akan begitu megah.
Jogja, kita kenal dengan keramahannya, lokalitasnya, budayanya, keasriannya pula barangkali-karena nilai-nilai tradisional yang terus dijaga, namun burung saja mulai kehilangan habitatnya. Kurasa satu-satunya tempat menyenangkan bagi burung-burung disini adalah Hutan biologi, yang kira-kira bersebrangan dengan fakultas teknik UGM. Disana masih kerap aku jumpai kala pagi / sore ada beberapa elang terbang dengan sayapnya yang terkembang sempurna.

Oh.. melihat ini semua betapa aku jadi merasa sedih.... mau diusir karena merasa tidak nyaman dengan bunyi burung di atas kamarku, tapi disisi lain juga kasian. Barangkali jika para burung bisa bicara, mungkin mereka yang akan mengusir kami, karena telah mengambil habitatnya.. barangkali yaa. Hm...

21 Jul 2017

Whatever, please dont Ghibah.

A: “Eh, pernah gak kamu ngomongin orang?”
B: “Wah ya sering....hahaha”
A: “Ckckck... kamu ini, tobat deh tobat, dosaa”
B: “Heheh iya sih dosa, tapi ngomongin fakta kok. Dan seru gitu sih, jadi makin akrab juga ama temen-temen yang laen kalo tiap ngumpul ngomongin orang. Eh emang kamu gak pernah ngomongin orang? Hebat juga ya”
A: “Heheh... ya sama juga sih... sering. Heheh”
B: “Ah... kamuuu ini!”

Begitulah kira-kira percakapan yang saya ilustrasikan. Membicarakan orang lain adalah aktivitas yang seolah tidak bisa kita lepaskan dari sendi-sendi kehidupan. Entah kenapa. Mulai dari gang-gang sempit perkampungan warga, blok-blok di perumahan mewah, di bangku sekolah, di kantor kerja, daaaan.... seterusnya.
Seringkali membicarakan kehidupan orang lain terjadi tanpa disadari, mungkin karena saking melekatnya dengan aktivitas sehari-hari.

Tapi sadarkah kita ghibah adalah lingkaran berantai, ketika kita membicarakan orang lain... besar kemungkinan orang lain juga ada yang membicarakan kita. Seolah ghibah menjelma kultur. Bayangkan hidup kita saat ini sedang dihakimi seenaknya, oleh orang yang ketika berpapasan dengan kita menyunggingkan senyumnya, menyebut nama kita dengan lembutnya, sembari menggangguk kecil. Palsu sekali kah sikap baiknya? Tunggu, itu masih biasa. Ekstremnya lagi coba bayangkan... bagaimana rasanya jika hidup kita dikomentari negatif dan dikupas habis-habisan oleh orang-orang yang kita sebut teman dekat, sahabat, atau bahkan saudara dan keluarga. MIRIS.

Fenomena “TERLALU NGURUSI URIPE UWONG” menjadi fenomena yang mengerikan bagi saya pribadi. Alangkah baiknya jika mengurusi hidup orang-orang yang memang ingin diurusi, misal: anak jalanan, tuna wisma, orang miskin yang sakit, yatim piatu, dan lain sejenisnya. Marilah kita berhenti membicarakan orang lain, Allah pun sudah mengibaratkan itu seperti memakan daging saudara kita sendiri. Saking sakitnya, dan saking mengerikannya.

Saya juga masih terus belajar. Satu hal yang selalu saya ingat ketika ingin ghibah: dibicarakan orang lain itu tidak enak, jadi stop membicarakan orang lain.
Semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Amin😊

---------“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik kepadanya” (QS. Al Hujurat: 12).

3 Mei 2017

Belajar Manajemen Waktu dengan Membaca "Menata Kala"

Waktu baru menunjukkan pukul setengah delapan pagi, namun semua urusan domestik di kos-kosan sudah rampung ku kerjakan. Masih ada 2,5 jam lagi menuju kelas pertama hari Kamis ini, kelas Metode Penelitian Komunikasi Kuantitatif. Aku putuskan berangkat saja ke kampus yang jaraknya hanya 2 kilometer dari kos ku. “Lebih baik segera beranjak dari ruang kecil 3x3 meter ini dan berangkat ke kampus, daripada virus malas lebih dulu lengket di mataku hingga membuat kantuk tak tertahan dan imaji mengubah kasur mungilku bak lautan kapas yang siap menenggelamkan dalam empuk dan hangat” pikirku panjang.

Kurekatkan tali tasku, dan kumantapkan langkah kaki.

15 menit kemudian aku sampai di ruang kelas yang masih gelap, rupanya tak ada kelas sebelum pukul 10, sehingga kelas masih belum digunakan sejak pagi. Kunyalakan lampu berikut pendingin ruangan, ya... kita akan selalu sepakat bahwa Jogja lebih “hangat” dari Malang. Itu jelas, hehe.
“Mmm...” aku merapatkan bibir sebentar sambil mengamati seisi tasku setelah sebelumnya aku memilih tempat duduk yang nyaman dan membuka tas. “Yang mana dulu ya?” aku tengah memilih beberapa buku yang kubawa, ada yang tebal berjudul Metode Penelitian Kuantitatif, yang agak tebal berjudul “The Political Economic of Communication” karya Vincent Mosco dan yang paling tipis berjudul “Peran Paradigma dalam Revolusi Sains” karya Thomas Kuhn. Masih berpikir, namun sejenak setelah menggeser-geser isi tas, aku menemukan buku yang dari sampulnya saja sudah membuatku menjatuhkan pilihan dengan segera “Kubaca yang ini saja” bisikku sambil menarik buku berjudul “Menata Kala” karya Khairunnisa Sy dan Novie Ocktavianie. Jujur saja ini pertama kalinya aku membaca tulisan keduanya, dan kelak aku tau bahwa buku bersampul ungu muda itu memanglah buku pertama dari dua orang ini yang diterbitkan secara self publishing! “Menarik” gumamku. Tentu saja aku berani menyimpulkannya menjadi satu kata itu bahkan sebelum selesai membuka lembar kata pengantar, sebab membuat buku memanglah satu impian besarku dulu. Duluuuuu sekali, kala masih berseragam rok biru tua dan berlarian dengan wajah blaster. Ya, blaster kutekankan, bukan blasteran. Sebab anak SMP lebih suka main dibawah terik, sehingga bagian wajahku akan terlihat lebih hitam daripada bagian leher atau dekat telinga yang tertutup jilbab. Hahah! Masa itu... di masa blaster itu, aku punya mimpi besar seperti lahirnya buku dalam genggamanku ini. Namun kenapa aku kini merasa semakin kerdil, mungil, dan terus berusaha menyederhanakan mimpi-mimpi besarku dengan dalih “realistis”.

Aku buka Bab pertama, berjudul “Kala bersama diri sendiri”. Kurapatkan kakiku dan kubenahi posisi duduk agar lebih nyaman. Aku siap berselancar dalam lautan pemikiran kedua penulis ini, berenang ditengah ombak kata yang riuh rendah dan merebah diatas pasir nasihat yang hangat.


Bersambung...

2 Mei 2017

Mitos Merapi ‘Nyai Gadung Melati’



Masih di lokasi yang sama yakni Museum Gunung Merapi, aku menemukan gambar ini, lengkap dengan keterangan sebagaimana berikut:


“Mitos Merapi ‘Nyai Gadung Melati’.
Diantara sekian banyak tokoh makhluk halus yang dipercaya menempati Kraton Gunung Merapi ada satu tokoh yang paling terkenal dan dicintai oleh penduduk daerahnya, bernama ‘Nyai Gadung Melati’ yang tinggal di Gunung Wutoh. Dia berperan sebagai pemimpin pasukan makhluk halus Merapi dan pelindung lingkungan daerahnya, termasuk memelihara kehijauan tanaman dan kehidupan hewan. ‘Nyai Gadung Melati’ juga sering muncul di mimpi-mimpi penduduk sekitar kaki Gunung Merapi sebagai pertanda Merapi akan meletus, dalam mimpi penduduk ‘Nyai Gadung Melati’ disebutkan berparas cantik dan berpakaian warna hijau daun melati.”

Cerita diatas seketika mengingatkan ku akan sebuah pertanyaan dosen kami dikelas, “Kenapa hantu atau makhluk halus di Indonesia cenderung digambarkan dalam sosok perempuan? Padahal di luar negeri ada makhluk-makhluk seperti vampir, dracula, dll yang berjenis kelamin laki-laki. Apakah kalian tau alasannya? Itu bisa dijadikan penelitian lho”, begitu kira-kira kata beliau.
Pertanyaan yang sama pun coba aku lontarkan pada temanku kala itu, terkait dengan ‘Nyai Gadung Melati’ mengapa harus berjenis kelamin perempuan. Analisisnya cukup menarik, menurut dia mengapa sosok ‘Nyai Gadung Melati’ itu perempuan, karena perempuan diidentikkan dengan kesuburan. Kala itu, tentu mata pencahariaan penduduknya sebagian besar adalah bercocok tanam atau petani, sehingga mereka menganggap bahwa kesuburan adalah yang suatu hal penting dan utama dalam hidupnya.
Manusia sebagaimana kita ketahui, awalnya hidup nomaden atau berpindah-pindah dari satu goa menuju goa lainnya dan mendapatkan makan dengan cara berburu. Namun kemudian paradaban berkembang, sehingga yang awalnya nomaden menjadi sedenter yakni hidup menetap. Di masa inilah, mereka tidak lagi berburu tapi mengolah suatu bidang tanah untuk kebutuhan pangannya dan kelangsungan hidupnya. Pada masa ini manusia berfokus pada kesuburan dan hal itu menjadi sangat penting, mereka pun menganggap perempuan identik dengan kesuburan karena perempuan mengandung dan melahirkan anak. Disaat itu pula, pengetahuan manusia yang masih sangat terbatas mengira bahwa perempuan lah satu-satunya pihak yang berperan atas kelahiran anggota baru dalam sebuah keluarga tanpa mengetahui bahwa laki-laki juga berperan. Posisi perempuan kala itu dipandang lebih atas daripada laki-laki.
Peradaban kembali berkembang, manusia yang awalnya membutuhkan sepetak tanah saja untuk ditanami dan cukup untuk makan sekeluarga, merasa perlu untuk memenuhi kebutuhan sekunder lainnya, sehingga tanah yang dimiliki tak cukup hanya sepetak dua petak. Mereka ingin memperluas kepemilikan lahan, satu-satunya cara untuk memperluas dan menguasai lahan-lahan lain yang sudah dimiliki orang adalah dengan menaklukkan pihak lain tersebut melalui jalan peperangan. Peperangan tentu saja lebih banyak didominasi oleh kaum adam. Dari peperangan inilah, masyarakat mulai melihat bahwa posisi laki-laki lebih diatas daripada perempuan. Selain itu, pengetahuan mulai berkembang dan mereka mulai mengetahui bahwa laki-laki juga turut berperan dalam proses terbentuknya janin di dalam rahim, hingga lahir menjadi seorang bayi.
Kini, di zaman modern, peperang sudah mulai ditinggalkan karena penguasaan lahan tidak harus dilakukan dengan cara kekerasan dan peperangan. Selain itu, era masyarakat pertanian sudah mulai bergeser menuju era masyarakat industri lah. Dalam masyarakat industri, bukan hanya laki-laki saja yang bekerja dan berperan namun perempuan juga ikut bekerja, sehingga kini kerap kita dengar upaya penyetaraan gender sehingga perempuan dapat diakui dan berada pada posisi yang sama dengan laki-laki. Tidak ada yang lebih unggul antara keduanya.


Referensi: Buku Riwayat Peradaban, karya Larry Gonick. 

Mitologi Gunung Bromo

Gambar Rara Anteng dan Joko Seger yang Kehilangan Anaknya 
Di museum Gunung Merapi ini, sebagaimana kuceritakan sebelumnya, selain memuat informasi dan sejarah mengenai Gunung Merapi, juga memuat informasi tentang berbagai gunung yang ada di Indonesia bahkan dunia, salah satunya adalah mitos mengenai Gunung Bromo yang ada di Jawa Timur. Karena aku berasal dari Jawa Timur dan lokasi Gunung Bromo tak cukup jauh dari rumahku, tentu saja informasi yang berkaitan dengan gunung ini membuatku tertarik, meskipun aku belum pernah kesana secara langsung hehe semoga segera ada kesempatan ya.
Dibawah gambar itu, diberikan keterangan sebagaimana gambar-gambar yang lainnya, sebagaimana berikut:

“Legenda Gunung Bromo berkaitan dengan kawasan Tengger. Menurut Legenda, pada akhir abad 15, seseorang putri keturunan Kerajaan Majapahit, Rara Anteng, menikah dengan Joko Seger. Nama Tengger merupakan perpaduan dari akhir nama Rara Anteng (Teng) dan Joko Seger (Ger).
Setelah beberapa lama pasangan tersebut berumah tangga, belum juga dikaruniai keturunan, kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai keturunan. Permintaan mereka akhirnya dikabulkan dengan syarat anak bungsu harus dikorbankan ke dalam kawah Bromo.
Setelah pasangan tersebut menyanggupinya, didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra putrinya, sehingga Rara Anteng dan Joko Seger ingkar janji. Dewa menjadi marah, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita, kawah Gunung Bromo menyemburkan api. Anak bungsunya bernama Raden Kesuma lenyap dari pandangan, dia terjilat api dan masuk ke kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kesuma terdengar suara gaib “Saudara-saudara ku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Sang Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tentram, sembahlah Sang Hyang Widi. Aku ingatkan kalian agar setiap bulan Kasada yang ke-14 mengadakan sesaji berupa buah-buahan, sayuran, bunga, dan binatang piaraan kepada Syang Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.”

Membaca tulisan tersebut, tiba-tiba temanku yang sama sebagaimana aku ceritakan diatas memberikan pandangannya (kali ini tanpa kutanya hehe). Menurutnya mitos Gunung Bromo tersebut memiliki kesamaan dengan kisah Nabi Adam dan Siti Hawa yang memiliki 25 orang anak, dan bagian yang sama pula terletak pada hilangnya satu diantara 25 anak tersebut. Namun dalam kisah Nabi Adam, beliau kehilangan anaknya yang bernama Habil karena dibunuh oleh saudara kandungnya sendiri yakni Qabil.
Menurut temanku, ia pernah membaca sebuah buku berjudul Atlantis, the Lost Continent Finally Found karya dari Prof. Arysio Nunes dos Santos seorang ahli geologi berkebangsaan Brazil, yang diterbitkan oleh Atlantis Publications. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa dalam setiap peradaban akan selalu ada sebuah cerita yang sama dengan kisah-kisah diperadaban-peradaban lain sebelumnya, hanya sedikit dirombak di beberapa sisi agar tak benar-benar sama. Entah apakah Mitos Gunung Bromo ini memang begitu adanya atau peradaban kala itu mencoba untuk membangun cerita yang terinspirasi dari kisah Nabi Adam dan Siti Hawa.

Mitologi Merapi

Mitologi Merapi

Menghabiskan long weekend di Kota Budaya Jogja tentu saja bagiku tak pernah membosankan. Beruntung sekali aku berkesempatan domisili di Provinsi ini. Setelah beberapa saat lalu memilih untuk jalan-jalan ke Puncak Suroloyo sebagaimana sempat kuceritakan melalui caption di Instagramku adalah tempat bertapa Pangeran Diponegoro, dan hingga kini masih menjadi tempat dilakukannya upacara adat tiap malam 1 Suro. Berbeda dengan minggu ini, aku dan temanku memilih untuk berjalan-jalan ke Museum Gunung Merapi.

Terdengar membosankan ya? “Anak muda jalan-jalan kok ke museum? Mau jadi ahli sejarah po?” begitu barangkali pertanyaan yang dilontarkan sebagian orang jika dituliskan dalam logat khas jogja.
Tapi bagi kami, sejarah itu hal yang tak hanya melulu perlu dijamah oleh orang tua saja, sejarah adalah bagimana kita mengetahui dan belajar dari masa lalu untuk kemudian menjadi lebih baik dimasa kini dan masa depan. Bahkan karena ketertarikan dengan hal-hal berbau sejarah yang cukup besar, kami memiliki cita-cita yang terdengar sedikit utopis tapi sungguh ingin kami wujudkan yakni menjadi penyokong utama dalam hal dana untuk pembangunan museum indonesia berkelas internasional. Hehehhe. Tak salah kan bermimpi besar?

Jalur yang tempuh mudah saja, yakni mengikuti sepanjang Jalan Kaliurang, lalu belok ke kiri. Kami sebagai perantau mudah menemukan lokasi ini tentu saja karena berbekal petunjuk Google Maps. Kami hanya perlu membayar tiket sebesar 5000 rupiah saja, untuk dapat menyelam dalam lautan sejarah meletusnya gunung merapi dan juga gunung-gunung yang lain. Nah... ini sisi menariknya, meskipun bernama Museum Gunung Merapi, tapi museum ini juga memberikan informasi terkait gunung-gunung di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Terbaik memang.

Pada bagian pintu masuk, kami akan disuguhi dengan replika Gunung Berapi yang nampak sungguh megah. Replika ini dilengkapi dengan 4 tombol, 1 tombol berwarna merah dan tiga lainnya berwarna hijau. Satu tombol merah diberi keterangan “Narasi”, tentu saja sesuai dengan fungsinya, yakni ketika kita tekan tombolnya maka akan terdengar narasi penjelasan meletusnya gunung merapi. Sedangkan, tiga tombol hijau lainnya bertuliskan masing-masing tahun meletusnya Gunung Merapi, yang jika kita tekan maka replika akan bergetar dan mengeluarkan suara menggelegar lengkap dengan keluarnya asap dari bagian puncak replika Gunung Merapi.

Selanjutnya.. perjalanan kami pun dimulai dengan menyusuri museum dari bagian kanan memutar ke arah kiri museum.
Ada hal yang menarik kami jumpai, yakni lukisan dari Aloysius Heri, ia memberikan keterangan atas dirinya dalam lukisan tersebut sebagai seorang Petani dan Pelukis.
Lukisan itu cukup besar, berbentuk persegi panjang. Pada bagian kiri lukisan nampak gunung merapi lengkap dengan laharnya yang memerah dan seolah membakar manusia-manusia. Sedangkan di sisi kiri, ada lautan dan ombak yang membuncah dan memporak porandakan sekitarnya. Yang menarik, dibagian tengahnya ada gambar Keraton Yogyakarta yang terlindungi oleh sebuah lingkaran transparan. Awalnya kami hanya menerka-nerka, namun terkaan kami segera dijawab oleh keterangan tulisan yang terletak dibagian bawah lukisan tersebut.

“Banyak mitos yang berkembang di masyarakat terutama yang tinggal di sekitar lereng merapi. Yang paling menonjol adalah keberadaan Eyang Sapu Jagad, sosok gaib penunggu Gunung Merapi. Berbicara tentang Eyang Sapu Jagad tidak dapat dilepaskan dari Kanjeng Ratu Kidul, sosok gaib penunggu Laut Selatan.
Berawal dari Sutawijaya (kemudian bergelar Panembahan Senopati) anak dari Ki Ageng Pemanahan, bertapa di panta laut selatan. Dalam laku tapa tersebut Sutawijaya bertemu, berkenalan, saling jatuh cinta dan menikah dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sutawijaya mengutarakan niatnya untuk membangun kerajaan baru. Singkat cerita, Kanjeng Ratu Kidul berkenan membantu dengan sepenuh hati. Sebagai tanda kesungguhan dan cintanya, Kanjeng Ratu Kidul menghadiahi “Ndhog Jagad” yang kemudian dititipkan kepada Kyai Sapu Jagad.
Apa yang ingin disampaikan dari mitologi diatas adalah bahwa Sapu Jagad berarti menyapu jagad, sapunya jagad dunia. Jagad yang dimaksud adlah diri pribadi manusia, jagad cilik dunia kecil (mikrokosmos) dengan demikian sapu jagad adalah konsep spiritualistis dalam kesadaran membersihkan diri pribadi, hati dan pikiran. Sedang Kanjeng Ratu Kidul berasal dari kata “rat” yang berarti maha luas, tak terbatas. Ide, pemikiran pemikiran manusia sering kali tak terbatas, untuk itu dalam mewujudkan itu dalam keterbatasan diperlukan batasan-batasan berupa simbol untuk mewujudkan, membumikan ide, gagasan manusia. Endhog Jagad, endhog berarti telur sifatnya embriotik, bakal. Apa yang dilakukan Suta Wijaya adalah mentranplantasi sebuah gagasan abstrak kedalam realita melalui pergulatan batin, bersih diri, dan akhirnya mendapatkan pencerahan, maka dia berdiri di barisan paling depan untuk mewujudkan berdirinya kerajaan baru Mataram. Eksistensi Mataram saat itu boleh jadi karena tuntutan kebutuhan, kebutuhan akan perlunya “peradaban baru”.
Mitologo Merapi Laut Selatan sudah saatnya kita sikapi dengan cara pandang modern, kita perlu menenggelamkan dan memperabukan pemikiran dan cara pandang lama, mengganti dengan yang baru. Dengan niat sungguh-sungguh, hati bersih, sepi ing pamrih rame ing gawe, kita akan mampu memamfaatkan potensi sumber daya alam yang ada di Gunung Merapi maupun Laut Selatan untuk kepentingan rakyat banyak. Dengan demikian layaklah kita disebut sebagai manusia beradab yang hidup di dalam peradaban baru.
Aloysius Heri – petani, pelukis”

Demikian paragraf demi paragraf yang coba ditulis untuk menggambarkan sejarah Gunung Merapi dan kaitannya dengan Keraton juga Pantai Selatan. Menarik sekali membacanya, namun tulisan tersebut justru menimbulkan sederet pertanyaan yang berjajar panjang dibalik kepala ini. Apa fungsi Ndhog Jagad? Kenapa Kanjeng Ratu Kidul menghadiahkan hal tersebut sebagai bukti kesungguhannya? Kenapa pula Ndhog Jagad harus dititipkan pada Kyai Sapu Jagad? Kenapa pada bagian awal, penulis menyebutkan Eyang Sapu Jagad dan pada paragraf selanjutnya menyebut dengan Kyai Sapu Jagad? Hehe. Terlalu skeptis ya hehe. Tapi pertanyaan itu muncul begitu saja, tiba-tiba berhamburan bagai letup kembang api yang baru dipertemukan dengan ujung korek gesek. Padahal aku tau ini hanyalah mitos atau mitologi, yang dijelaskan pula oleh si penulis, bahwa sebagai makhluk beradab di peradaban baru sudah seharusnya kita menyikapi cerita tersebut dengan cara pandang masa kini. Hehe, tapi lagi-lagi aku masih skeptis.

Salah satu temanku yang sangat menyukai bidang sejarah dan memiliki analisis yang tajam pun mencoba membantuk keluar dari kebuntuan di otak akibat skeptis berlebihan ini.
Menurut teman saya, cerita Sutawijaya tersebut memiliki nada yang sama dengan cerita yang pernah ia pernah pada sebuah buku berjudul “Sejarah Indonesia Modern” sebuah terjemahan dari karya M.C. Ricklefs seorang peneliti dari Australian National University. Dalam buku tersebut M.C. Ricklefs menyampaikan cerita kelahiran kerajaan-kerajaan di Nusantara, salah satunya Samudrapasai. Dikisahkan bahwa raja pertama Samudrapasai bermimpi dipegang kepalanya oleh Nabi Muhammad lalu seketika ia mampu menghafal Al-Quran dan melegitimasi dirinya sebagai seseorang yang ditunjuk Allah untuk menjadi Raja.

Singkatnya, temanku ini menyampaikan analisisnya bahwa cerita-cerita jaman dahulu selalu menggunakan religius magis (istilah dalam bahasa hukum adat) untuk melegitimasi kekuasaan. Sutawijaya melegitimasi kekuasaannya di Kerajaan Mataram menggunakan cerita tentang pernikahannya dengan Nyi Roro Kidul, sedangkan Raja Samudera Pasai melegitimasi dirinya dengan menggunakan cerita tentang mimpi bertemu Nabi.  Keduanya memiliki nada dan corak cerita yang sama. 

Replikas Gunung Merapi dengan Simulasi letusannya
Pintu Masuk atau Bagian Depan Museum Gunung Merapi


Mitos Merapi. “Nyai Gadung Melati”

Masih di lokasi yang sama yakni Museum Gunung Merapi, aku menemukan gambar ini, lengkap dengan keterangan sebagaimana berikut:
“Mitos Merapi ‘Nyai Gadung Melati’.
Diantara sekian banyak tokoh makhluk halus yang dipercaya menempati Kraton Gunung Merapi ada satu tokoh yang paling terkenal dan dicintai oleh penduduk daerahnya, bernama ‘Nyai Gadung Melati’ yang tinggal di Gunung Wutoh. Dia berperan sebagai pemimpin pasukan makhluk halus Merapi dan pelindung lingkungan daerahnya, termasuk memelihara kehijauan tanaman dan kehidupan hewan. ‘Nyai Gadung Melati’ juga sering muncul di mimpi-mimpi penduduk sekitar kaki Gunung Merapi sebagai pertanda Merapi akan meletus, dalam mimpi penduduk ‘Nyai Gadung Melati’ disebutkan berparas cantik dan berpakaian warna hijau daun melati.”

Cerita diatas seketika mengingatkan ku akan sebuah pertanyaan dosen kami dikelas, “Kenapa hantu atau makhluk halus di Indonesia cenderung digambarkan dalam sosok perempuan? Padahal di luar negeri ada makhluk-makhluk seperti vampir, dracula, dll yang berjenis kelamin laki-laki. Apakah kalian tau alasannya? Itu bisa dijadikan penelitian lho”, begitu kira-kira kata beliau.
Pertanyaan yang sama pun coba aku lontarkan pada temanku kala itu, terkait dengan ‘Nyai Gadung Melati’ mengapa harus berjenis kelamin perempuan. Analisisnya cukup menarik, menurut dia mengapa sosok ‘Nyai Gadung Melati’ itu perempuan, karena perempuan diidentikkan dengan kesuburan. Kala itu, tentu mata pencahariaan penduduknya sebagian besar adalah bercocok tanam atau petani, sehingga mereka menganggap bahwa kesuburan adalah yang suatu hal penting dan utama dalam hidupnya.
Manusia sebagaimana kita ketahui, awalnya hidup nomaden atau berpindah-pindah dari satu goa menuju goa lainnya dan mendapatkan makan dengan cara berburu. Namun kemudian paradaban berkembang, sehingga yang awalnya nomaden menjadi sedenter yakni hidup menetap. Di masa inilah, mereka tidak lagi berburu tapi mengolah suatu bidang tanah untuk kebutuhan pangannya dan kelangsungan hidupnya. Pada masa ini manusia berfokus pada kesuburan dan hal itu menjadi sangat penting, mereka pun menganggap perempuan identik dengan kesuburan karena perempuan mengandung dan melahirkan anak. Disaat itu pula, pengetahuan manusia yang masih sangat terbatas mengira bahwa perempuan lah satu-satunya pihak yang berperan atas kelahiran anggota baru dalam sebuah keluarga tanpa mengetahui bahwa laki-laki juga berperan. Posisi perempuan kala itu dipandang lebih atas daripada laki-laki.
Peradaban kembali berkembang, manusia yang awalnya membutuhkan sepetak tanah saja untuk ditanami dan cukup untuk makan sekeluarga, merasa perlu untuk memenuhi kebutuhan sekunder lainnya, sehingga tanah yang dimiliki tak cukup hanya sepetak dua petak. Mereka ingin memperluas kepemilikan lahan, satu-satunya cara untuk memperluas dan menguasai lahan-lahan lain yang sudah dimiliki orang adalah dengan menaklukkan pihak lain tersebut melalui jalan peperangan. Peperangan tentu saja lebih banyak didominasi oleh kaum adam. Dari peperangan inilah, masyarakat mulai melihat bahwa posisi laki-laki lebih diatas daripada perempuan. Selain itu, pengetahuan mulai berkembang dan mereka mulai mengetahui bahwa laki-laki juga turut berperan dalam proses terbentuknya janin di dalam rahim, hingga lahir menjadi seorang bayi.
Kini, di zaman modern, peperang sudah mulai ditinggalkan karena penguasaan lahan tidak harus dilakukan dengan cara kekerasan dan peperangan. Selain itu, era masyarakat pertanian sudah mulai bergeser menuju era masyarakat industri lah. Dalam masyarakat industri, bukan hanya laki-laki saja yang bekerja dan berperan namun perempuan juga ikut bekerja, sehingga kini kerap kita dengar upaya penyetaraan gender sehingga perempuan dapat diakui dan berada pada posisi yang sama dengan laki-laki. Tidak ada yang lebih unggul antara keduanya.
Referensi: Buku Riwayat Peradaban, karya Larry Gonick. 

19 Apr 2017

Buya Hamka bicara Tuhan

Dikutip dari Buku karangan Buya Hamka

Anai-anai (lelatu, semut bersayap, laron dalam Bahasa Jawa) "Berilah aku izin mendekatimu hai lampu, aku ingin cahayamu yang terang benderang itu."

"Sia-sia... semata-mata sia-sia permintaanmu. Sebab keinginanmu itu mesti bertemu dengan bahaya" Jawab lampu.

"Bahaya apakah gerangan itu, tuan lampu?"

"Di dalam perjalanan engkau akan bertemu dengan burung layang-layang, engkau dijadikannya mangsa."

"Itu bukan bahaya, tuanku. Itu adalah keberuntungan, mati dalam menempuh cita-cita."

"Sia-sia, semata-mata sia-sia perbuatanmu itu."

"Mengapa tuan katakan sia-sia orang yang mencintai cahaya tuan?"

"Tidakkah engkau lihat, bangsamu telah jatuh tersungkur, mati bertimbun-timbun di bawah naunganku, lantaran mencari cahayaku?"

"Itu bukanlah sia-sia, ya tuanku. Itu adalah keberuntungan. Kami datang dari tempat yang jauh-jauh mencari cahaya karena kami tak tahan gelap. Kami datang ke dekatmu, berkeliling mencari cahaya. Berilah kami mati lantaran panasnya cahaya itu, bagi kami kematian itulah kelezatan."

"Tidakkah kamu ngeri melihat bangkai yang tertimbun itu?"

"Biarlah bangkai bertimbun,ya tuanku. Bertimbun dan mati di bawah naunganmu. Kami cari cahayamu, setelah maksud kami hasil, biarlah kematian datang, asal kami diridhakan datang."

Maka bertimbunlah bangkai, sedang yang datang masih banyak, dan yang akan datang, masih dalam perjalanan.

(Syair dari seorang Sufi, memisalkan seorang mukmin mencari Nur Tuhannya)

18 Apr 2017

Rosihan di mata Ina Ratna

Sejak masa muda saya tidak pernah mempercayai "kesan pertama" tentang seseorang. Selalu saya berikan orang kesempatan untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Hal ini selalu saya tanamkan kepada yang lebih muda-muda, termasuk mahasiswa-mahasiswa saya di fakultas. Rasanya memang tidak bijaksana untuk cepat-cepat menjatuhkan penilaian atas diri seseorang. Inipun saya kemukakan ketika mereka mengemukakan kecaman yang sama mengenai Uda Cian (Rosihan Anwar).

--- Kutipan tulisan Ina Ratna Mariani S. (Dosen FISIP UI) dalam buku Wartawan Aneka Citra, buku 70 tahun Rosihan Anwar

Manakah yang lebih dulu?

Manakah yang lebih penting, kompetensi atau integritas? Pintar atau Jujur?

Pertanyaan di atas diutarakan oleh Prof. Bagir Manan mantan Ketua Dewan Pers periode lalu dalam sambutannya pada Uji Kompetensi Wartawan yang diselenggarakan PWI Jaya tahun 2015 lalu.
Data menunjukkan jumlah wartawan Indonesia adalah 70.000, sumber lain menyebut 100.000. Namun hingga saat ini baru kurang lebih 6500 wartawan yang lulus dan memiliki sertifikat dan kartu uji kompetensi wartawan. Miris sekali. Beliau dalam pidatonya tersebut kembali bertanya:
"Apakah segala keadaan yang merisaukan sekarang ini sekedar karena krisis integritas atau krisis kompetensi atau kapasitas?"
Jawaban atas pertanyaannya tersebut kemudian dipaparkan Prof. Bagir Manan melalui fakta bahwa pada saat ini kita sedang heboh dengan berbagai gelar kesarjanaan palsu. Yang belum ditelusuri betapa banyak gelar yang asli tapi tidak disertai kompetensi atau kapasitas sesuai tingkatan gelar yang diperoleh. Hal ini terjadi karena beberapa alasan:
Pertama, gelar kesarjanaan dipandang sebagai suatu bentuk untuk masuk kelas baru yang akan memesona publik. (lihat Milovan Jilas: The New Class). Kedua, komersialisasi lembaga keilmuan, yakni bukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tetapi sebagai lembaga ekonomi. Ketiga, kendali birokrasi yang lemah, buktinya mudah sekali bagi suatu lembaga pendidikan diberi hak menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran keilmuan baik jenjang S1, S2, maupun S3, tanpa sungguh-sungguh memeriksa semua kelengkapan yang wajib dimiliki untuk menyelenggarakan suatu program keilmuan. Keempat, kehadiran para "brutus" yang melegalkan cara apapun untuk mewujudkan kenikmatan diri sendiri (asosial).

Berdasarkan fenomena diatas, Prof. Bagir Manan menyampaikan betapa perlunya mengedepankan kompetensi yang dilekati dengan integritas.
"We need the most highly competence with the most highly integrity. Not only the most highly integrity but less or without competence".

1 Mar 2017

can i called this..reminder

I wanna share with you about passion.
Tak semua orang terlahir menjadi ilmuwan, takkan berdosa jika pada akhirnya kau menjadi penjual sambel uleg sukses dengan ratusan cabang tersebar di indonesia atau pengusaha berlian khas borneo.
The only thing that you should hold tight is..... FOLLOW ur PASSION!
Never let the passion dissappointed then leave you alone with your fake dream to be astronout just to make your mother smile. Thats just a FAKE!
Believe and make sure that your mother want you to be HAPPY, its more than being PROUD.
You will be proud if you happy, but its doesnt mean you will be happy if you proud.
Dont let your self live in the middle of your fake dream. If you born to be professional chef.. just spend whole of your time in the kitchen. Never go out from the kitchen before you made your fenomenal masterpiece!

And....... if you fated to be doctor..... then.. you are more than know what you have to do. 

5 Jan 2017

nomoreworried

Akhir-akhir ini lalu lintas pikiranku cukup padat – merayap. Bersyukur masih padat merayap sih, setidaknya masih jalan walau pelan. Bukan lantaran long weekend atau libur akhir tahun 2016 lalu. Jujur saja semenjak  baju beserta topi toga itu resmi kukenakan dan aku dinyatakan lulus sebagai sarjana, berbagai jenis pikiran berlarian di benakku, baik yang positif maupun negatif. Berbagai rencana-rencana yang mengambang, dan angan yang mengumpal maupun menguap, berkumpul lengkap jadi satu.. disini.. tepat di atas kedua alis mataku.
Hal-hal yang disebut “proses menuju dewasa” itulah, yang sepertinya membuat jiwa “seni” ku semakin pudar. Realistis yang berlebihan memakan imaji-imaji yang dulu berkeliaran. Dulu aku lebih senang mendengarkan Ebit G.Ade, Mayumi Itsuwa dengan lagu Kokoronotomo yang old but gold, atau band-band semacam Payung Teduh, yang klasik, lembut, dan menyentuh. Namun kini, aku lebih sering (sering bukan berarti suka) mendengar musik pop beats yang menderu mengejarku, seperti Sia dengan Chandelier. Kadang terasa.. “Ini bukan diriku sama sekali.. terlalu cepat ritme-ritmenya, aku kesulitan untuk menikmati”
Memangnya musik itu pengaruh? Menurutku iya. Pernah dengar kan.. bahwa selera musik itu sedikit banyak menggambarkan pribadi si penikmatnya. Bukan berarti dengan menjadi penikmat Ebit G.Ade kemudian aku hendak mengaku-aku kan diri bahwa akulah si putri berhati lembut nan anggun.. hehe.. kurasa aku masih cukup jauh dari predikat yang sedemikian rupa. Mungkin aku lebih suka menikmati musik lembut karena dapat merasa rileks, nyaman dan tenang dalam ketukan demi ketukan nadanya. Bukankah musik itu didengarkan untuk hiburan? Jika tidak menghibur dan tidak menyenangkan... lalu... untuk apa :)
Selain terkait selera musik, proses pendewasaan ini nampaknya juga merubah kebiasaanku yang lain, misalnya... aku sudah sangat-sangat-sangat jarang menulis (terutama di blog ini). Aku bahkan sempat berpikir, “Menulis ngelantur kemana-mana hanyalah upaya memotong-motong waktu luang, agar nampak kita sibuk banyak gawean”.  Sedihnya, aku bahkan tak sibuk dan aku tak sempat menulis. Sibukku hanya dalam pikiran, bukan tindakan. Aku sibuk memikirkan bagaimana masa depan, apa yang terjadi jika aku memilih keputusan ini, bagaimana jika aku mengambil pekerjaan ini atau bagaimana jika aku mendaftar sekolah itu.
Padahal nyatanya.. sekeras apapun pikiran dan logikaku bekerja, tetap takkan mampu menandingi kuasa dan keputusan Allah Azzawajalla. Hal-hal demikianlah yang sering aku abaikan dan tanpa sengaja kukesampingkan. Pun sejatinya aku tahu betul akan hal itu... namun aku memilih berlarian bersama logikaku hingga larut malam dan terlelap barang 3 jam kemudian terbangun lagi untuk menyapa kenyataan. Takut berlebihan.. jika kutinggal tidur sebentar, kenyataan akan berubah terlalu jauh dari garis edar yang sudah kususun dan kuimpi-impikan.
Padahal... kegagalan demi kegagalan yang terjadi sebenarnya bukanlah pintu akhir dan jawaban dari panjang perjuangan itu. Barangkali Tuhan tengah mengajak kita berjalan-jalan terlebih dulu. Membiarkan kita menikmati ranum bunga-bunga mungil sepanjang perjalanan melelahkan atau menuntun kita untuk sejenak melihat senja diiringi kepak camar yang romantis. Barangkali Tuhan hendak mengajak kita kejalan lain yang lebih indah dari yang kita minta, sebab bila kita mengambil jalan yang kita impi-impikan.. sesuatu yang buruk mungkin terjadi. Mungkin.
Aku masih ingat betul... terakhir kali rajin menulis sekitar 4 tahun yang lalu. Saat pikiran-pikiran realis belum benar-benar menguasaiku. Nampaknya sejak sekarang aku harus mulai rajin menulis lagi, sekedar curhat fakta atau berimajinasi dalam cerita fiksi. Mungkin itu dapat menyeimbangkan kemampuan berpikirku agar lebih jernih lagi dan mampu melihat keadaan bukan hanya dari sisi yang terlihat saja namun juga dari sisi yang tertutup bayang-bayang.

Library, 10:28, 5/1/17