10 Nov 2016

Ibu Jagung dan Jam Tangan Masa Lalu

Siapa bilang mahasiswa tak boleh lagi jajan dipinggir jalan?
Siapa tau mereka sedang “turbah”? Turun kebawah, melihat sekeliling, dan menikmati aroma kepulan aspal karena ditusuk panas matahari, yang kemudian mengisahkan banyak sekali permasalahan-permasalahan kehidupan ini.
*** Pagi tadi, seperti biasanya seusai mata kuliah pertama, aku dan teman-teman ‘mahasiswa’ melepas penat dari jurnal-jurnal, dan hendak mengisi perut yang masih kosong. Kami beramai-ramai pergi ke belakang fakultas kami. Disana ada sebuah SD yang halaman depannya disesaki  lima sampai enam penjual makanan ringan. Berbagai menu mulai dari cilok bakar, pentol goreng, es lilin, telur tusuk, mie telor mini, dan seterusnya, sungguh menggoda selera anak SD -- maupun anak kuliahan -- seperti kami.
Pagi ini aku memutuskan untuk membeli satu menu jajanan yang belum kusebutkan diatas, yaitu jagung manis. Makanan ringan yang satu ini tentu saja berbahan dasar jagung yang sudah dipisahkan butir per butirnya. Diberikan toping keju dan bumbu-bumbu seperti barbeque, hingga menjadikan rasa dan tampilannya menggugah selera.
Ketika aku sudah memesan dan tengah terlibat dalam proses jual beli ini, Ibu si penjual jagung manis-pun bertanya:
“Mbak sering beli disini ya?”
Mendengar pertanyaan Ibu itu aku hanya tersenyum, mengiyakannya sekenanya dengan isyarat anggukan kepala, tanpa mengucapkan satu katapun.
Kemudian si Ibu justru berkisah, “Dulu yang jual jagung inikan bapak-bapak, itu suami saya mbak. Tapi bulan April lalu meninggal, jadi sekarang saya yang jualan.”
Aku diam. Mengumpulkan perlahan-lahan konsentrasiku yang tadi terpecah belah kemana-mana, menjadikannya satu fokus, yaitu untuk kisah si Ibu.
“Loh. Iya kah, bu?” tanyaku.
Ibu ini mengangguk, kemudian melanjutkan ceritanya tentang penyakit jantung yang menyebabkan suaminya meninggal, ia juga menceritakan tentang tiga orang anaknya yang kini masih duduk dibangku sekolah. Ibu Penjual jagung tak lupa berkisah mengenai anak bungsu nya yang saat itu ikut berjualan, dan tengah bermain-main asik karena dia memang masih sangat kecil.
Aku miris menatap sosok perempuan di depanku ini. Kupandanginya dengan seksama, dari ujung kepala yang dibalut kerudung sederhana, kemudian baju berbalut jaket yang dikenakannya, dan juga jari-jemari  yang cekatan melayani pembeli. Ada sebuah jam tangan berwarna abu-abu, yang melingkar dipergelangan tangan itu. Terlihat tak cocok digunakan oleh seorang wanita apalagi ibu-ibu, karena selain terlalu longgar, diameter jamnya juga terlalu besar. Jika boleh kutebak mungkin itu adalah jam tangan suaminya yang telah wafat.
Lagi-lagi aku menjadi semakin miris, ada perasaan duka luar biasa yang sulit kuungkapkan. Mungkin aku terlalu berlebihan melihat Ibu Jagung itu, sebab dia hanyalah satu dari sekian banyak Janda yang harus hidup mandiri membesarkan anak-anak kecilnya tanpa peran suami. Namun... kurasa  inilah yang disebut perasaan seorang wanita, terlebih bagi diriku yang masih dalam tahap menunggu jodoh dari Illahi.
Kehilangan orang yang dulu pernah berjanji dihadapan Tuhan, untuk berdua sampai mati, untuk membina rumah tangga sejati, dan membesarkan buah hati.
Belumlah pula anak menjadi dewasa, ia sudah pergi. Apakah yang demikian itu bisa disebut pengingkaran dan penghianatan janji ? Atau memang takdir yang harusnya sudah disadari: bahwa setiap yang datang, pasti akan pergi.


Pagi ini aku melihat ibu dan anak itu lagi,
Mereka menikmati setiap pagi dan setiap bulir-bulir jagung yang manis.
Ditemani jam tangan longgar dari masa lalu, yang akan menjadi motivasi untuk masa depan.

Hamidah/28 Mei 2014