22 Jun 2015

Mimpi Semalam

Semalam.. aku tidur tak selarut biasanya. Takut 'kebablasan' lagi hingga lupa sahur.

Ada 3 orang dalam ranjang yang cukup besar ini: aku, Ibu, dan kakak. Biasanya aku hanya tidur dengan kakak, namun malam ini Ibuku sudah tertidur lebih dulu usai tarawih. Tak perlu lah kami meminta Ibu berpindah kasur, bagi kami tidur bertiga justru terasa lebih hangat dan mesra.
Selain tidur bertiga, malam ini ada yang berbeda dari biasanya. Kita mungkin akan mudah terlupa dengan mimpi-mimpi yang menghiasi sepanjang tidur, namun sebaliknya, tak jarang kita justru lebih mampu mengingat-ingat kejadian dalam mimpi daripada kehidupan nyata, bahkan selang bertahun kemudian.

Kata Abahku, mimpi yang terpatri kuat dalam ingatan, itulah mimpi sesungguhnya, mimpi dari langit, yang merupakan pertanda atau intuisi.

Beginilah kurang lebih mimpi semalam..
Aku tengah berjalan menuju fakultas, membawa tas dan tentu saja buku. Anehnya aku harus menaiki puluhan anak tangga untuk sampai di teras depan fakultas, yang dalam kenyataannya tak pernah ada jumlah sebanyak itu.
Lebih janggal lagi, aku harus merundukkan badan setengah tengkurap, untuk mengindari tembok yang menghalangi jalanku naik. Ada seseorang mencoba memberiku semangat untuk melewati sedikit rintangan tersebut. Sesaat aku merasa sedang menyelesaikan games yang memiliki beberapa barrier.

Sampailah aku dan berhasil melewati tembok penghalang tersebut. Kutemui sosok lelaki paruh baya yang tadi memberiku semangat. Ia tersenyum dan memberi salam. Ku sambut dengan senyum serupa, aku suka bertemu orang baru, terlebih yang hangat dan sopan. Tetiba, lelaki ini memberikanku sebuah hadiah. Bukan. Bukan memberi begitu saja. Ia memintaku memilih lebih dulu. Ada dua anak manis yang jika kuperkirakan usianya masih 5 sampai 6 tahun. Satu laki-laki, sedang satunya perempuan.
"Pilihlah salah 1 dari mereka," ucap lelaki itu masih dengan senyum yang membentuk setengah lingkaran, melengkung menghiasi wajahnya yang bagiku.. nampak samar.
"Memilih?" Ku ajukan pertanyaan, yang sesungguhnya tak butuh jawab. Aku hanya ingin memastikan. Kenapa hadiah harus dipilih? Terlebih, kenapa hadiahnya harus anak-anak manis ini? Bahkan aku sama sekali belum ingin punya anak. Bahkan aku mengurus diri sendiri masih berantakan.
Lelaki itu mengangguk, mantap.
Aku tak hendak mengabaikan pemberian. Anak semanis mereka berdua tak mudah untuk menerima kata-kata penolakan.
Aku berfikir, tak cukup lama.

"Yang ini..., aku mau yang perempuan," sesaat kemudian jawaban itu terlontar, hasil diskusi singkatku dengan sang hati. Yang terlintas dibenak ku hanyalah alasan sederhana, selama ini aku memang bercita memiliki anak perempuan nantinya. Sebab kurasa anak perempuan akan lebih mudah dekat denganku, mudah kupahami. Nantinya ia akan kudidik dengan penuh kasih sayang agar lebih baik dari ibunya.

Sesederhana itu. Akupun memutuskan.

Selanjutnya.... aku terbangun. Waktu sahur tiba. Hingga kini saat aku tuliskan mimpi semalam, aku masih sedikit berfikir. Adakah tanda yang Allah berikan? Tapi apa? Pilihan terkait apa? Aku yakin kedua anak kecil tadi adalah pengibaratan, bukan anak dalam artian sesungguhnya. Tapi apa?

Ya Allah jagakanlah hati kami agar senantiasa bertaqwa kepadamu. Mimpi di malam bulan Ramadhan ini, semoga merupakan segala pertanda baik dari Mu. Limpahilah kami dengan kasih sayang-Mu, fiddunya walakhirah. Amin allahumma amin.

4 Jun 2015

Ada banyak. Banyak sekali gelisah dalam rasaku. Aku tak katakan "entah kenapa", sebab aku tau sebabnya.
Barangkali aku kurang istighfar
Barangkali aku terlalu sering main2 dan seterusnya
Aku mungkin jauh dari kata benar dan tepat :'( selalu begitu

3 Jun 2015

Baper luar biasa
Diiringi lagu Payung Teduh berjudul Resah.
Ah..... seratus persen lengkap.
Beberapa bimbang menyeruak lewat mataku
Menimbulkan perih menciptakan air lara
Aku? Bisa apa?
Ketidakmampuan ada lengkap dalam diriku
Salahkan saja aku.
Biar semakin penat.
Semakin ngilu.

dengan Hati

"Patutnya kita belajar dari gerimis, bukan dari hujan lebat. Dimana air menyapa tanah dengan lembut, bukan dengan nafsu. Kita sama-sama tahu air selalu merindukan tanah sebab disanalah ia bermuara, bukan di awan, bukan di langit, yang hanya akan memberikannya ketinggian palsu kemudian menjatuhkan sekuat tenaga."  


Beberapa hari yang lalu aku sempat berpikiran untuk merenovasi blog ini, membuatnya lebih baru dan muda.  Walau di mataku, ia tak pernah sekalipun bertambah usia. Dia selalu sebagaimana pertama kali aku membukanya: lembut, wangi, dan penuh pesona. 
Tapi rasa-rasanya, aku akan lebih cinta jika dia berganti baju baru. Beberapa referensi pun keluar masuk di otakku. Tema alam itu pasti, selera ku belum berganti. Tapi rumput, mawar, atau bahkan air yang menjadi pilihan terakhir?


Saat ini di sela waktu luang kuliah, aku sedang duduk manis di depan komputer perpustakaan untuk mengaduk-aduk seisi album gambar online yang rajin kukunjungi dahulu. Setelah sebelumnya menyelesaikan bacaan untuk bekal tugas akhir skripsi yang sudah menghantui malam-malam ku sebagai mahasiswa semester akhir. 

Tapi... 
Aku tak melakukan dengan hati. Aku mengaduk, random, cepat, dan tak berarah. Aku dan bahkan dua pertiga manusia di bumi ini kuyakin akan berusaha menemukan kesempurnaan, setidaknya yang mendekati, semakin dekat semakin baik. Begitupun... memilih baju baru blog ku, aku tuntut yang sempurna, tapi tak kulakukan dengan sepenuh hati. Aku terburu-buru, berlarian hendak hindari waktu tapi terhalang ketidak mampuan. Tetiba aku diam sejenak, kufikirkan perlahan... "Ya... beginilah manusia... mudah sekali menuntut, sulit sepenuh hati."