6 Mar 2015

Babak belur

Tiga hari yang lalu aku jatuh dari motor, tepat saat malam jumat, gerimis ringan membasahi aspal jalan dan menjadikannya licin.
Untuk kesekian kalinya, aku menjadi tontonan banyak orang dijalan, dalam keadaan yang menyedihkan. Rasanya tak perlu aku ceritakan kisah tragis malam itu, yang hanya akan membuatku bergidik dan sedikit trauma.
Saat itu dalam kondisi kaki tangan yang lecet dan berdarah darah, mau tak mau aku harus kembali mengendarai motorku sendiri, kembali ke rumah. Membersihkannya dengan air hangat, mengobatinya dengan obat luka, memijat mijat kaki yang terasa keseleo terkilir, ah.. banyak.
Hingga pagi menjelang, aku harus mendapati badanku yang memar hitam biru tak karuan. Lengan kaki dan punggungku sulit digerakkan. Aku hanya ingin menangis saja... tak ada lain. Terlebih aku sedang dirumah sendirian.
Kuraih debu yang menempel, kuucapkan doa tayamum lantas kutunaikan sholat subuh dengan duduk selonjoran. Banyak yang kutangiskan... banyak... permohonan ampun dalam lantunan astaghfirullahaladzim, ucap syukur atas kecelakaan ini dalam alhamdulillah, pujian pada Illahi Rabbi dalam Allahu Akbar, Subhanallah, Lailahaillallah.... dan banyak. Barangkali ini cobaan, namun dibalik itu aku hanya takut satu hal, bilamana Allah murka atas sederet kelalaian yang banyak kuperbuat. Introspeksi diri tak henti kulakukan dalam pejam yang terasa gelap dan rasa sakit yang menjalar di sekujur badan.
Aku sengaja tak beritahukan orangtua, sebab hanya akan merepotkan pikirku.
Namun makin malam makin sakit kurasa, perih luka kulit yang terkelupas dan memar. Babak belur diriku, hingga.. menyerah.. ku angkat telepon dan kukabari ibu dan abah.
Nada gelisah dan khawatir membanjir dari sebrang telepon sana, hingga beberapa jam kemudian tiba sebuah mobil yang kutunggu. Abah dan kasih sayang yang penuh kesabaran. Aku, sudah sebesar ini... tiada daya dan upaya membahagiakan keduanya, kini malah buat ulah dan merepotkan. Sembari membelah jalanan, kupandangi deretan kerlip pertokoan dari balik kaca jendela yang kehitaman. Aku menangis lagi, haru.. seberapa besar dosaku.. bagian mana yang perlu aku tata dan benahi, Tuhan? Terkadang kita harus dipukul dulu baru sadar, sebab di sentuh tiada berasa. Ya Allah.. ampunilah segala salah yang barangkali lupa hamba istighfari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BIG BIG thanks to you :)) silahkan beri komentar dan berkunjung kembali kawan. *hamidahsemi*