31 Mar 2015

Analisis Krisis "Celebrity Big Brother 2007"

URUTAN PERISTIWA:

1.      Channel 4 mulai mengudara pada tahun 1982, bergabung dengan dua saluran lain yakni BBC dan ITV, satu-satunya saluran televisi komersial saat itu.
2.      Masalah ini bermula ketika Shilpa Shetty disebut sebagai 'India' oleh teman serumah nya yang merasa sulit untuk mengucapkan namanya.
3.      Ofcom menerima lebih dari 200 komplain dari penonton, sebab ada dugaan intimidasi rasis yang dilakukan oleh tiga teman serumah Shilpa.
4.      Mendengar adanya komplain tersebut, Channel 4 menyangkal bahwa insiden yang terjadi itu adalah sebuah 'persaingan feminin' dalam reality show.
5.      Dengan adanya pernyataan dari Channel 4 tersebut, jumlah pengaduan justru semakin meningkat, yakni hingga mencapai 8.000 komplain.
6.      Early Day Motion (EDM) melalui Partai Buruh MP Keith Vaz, meminta Channel 4 'untuk mengambil tindakan segera mengingatkan perilaku rasis yang dilakukan teman serumah tersebut tidak dapat diterima'. Tindakan EDM didukung dan disetujui oleh Perdana Menteri Tony Blair, bahkan Sekretaris Kebudayaan yakni Tessa Jowell, menganggap insiden itu sebagai 'rasisme yang disajikan sebagai hiburan'


7.      Dukungan media
Masuknya perdebatan ke dalam House of Commons membuat media berkesempatan mengembangkan kasus ini menjadi sesuatu yang menarik dibaca publik.
8.      Situasi diperparah dengan keadaan yang bertepatan dengan perjalanan Gordon Brown ke India, di mana patung dibakar (hal ini tentu saja makin memperburuk keadaan). Insiden ini meluas ke arah insiden diplomatik untuk pemerintah Inggris, ketika Menteri India urusan eksternal mengatakan insiden itu menyebabkan India 'marah'.
9.      Di India, Hindustan Times memuat headline halaman depan yang berjudul 'serangan rasis memicu kemarahan'.
10.  Sepanjang kasus ini terjadi, Channel 4 terus membantah bahwa kejadian tersebut adalah tindakan rasis. Channel 4 bersikeras bahwa permasalahn kontestan hanya disebabkan perbedaan budaya dan kelas. Produsen Big Brother, Endemol, juga mengesampingkan tuduhan rasisme (ini adalah contoh bahwa pihak Channel 4 yang dalam keadaan krisis tetap tidak mau minta maaf, menyangkal, dan seolah menyalahkan publik). Dalam waktu tiga hari, jumlah pengaduan meningkat menjadi hampir 20.000.
11.  Ketua Channel 4 Luke Johnson menolak undangan untuk membela konferensi pers atau memberi penjelasan pada publik pada beberapa kesempatan (lagi-lagi pihak Channel 4 melakukan tindakan menolak, dan menghindar).
12.  Berbagai media massa seperti: The Daily Express, The Times, The Independent mengabarkan berita-berita miring dan negatif terkait kasus ini yang makin menyudutkan Channel 4.
13.  Shilpa Shetty memenangkan program dengan 63 persen suara.
14.  Pada tanggal 24 Mei 2007, Ofcom memutuskan bahwa Channel 4 telah melanggar kode etik Ofcom selama seri. (Channel 4 terbukti salah)

15.  Channel 4 dan Endemol meminta maaf dan menerima putusan Ofcom itu. Ketua Luke Johnson mengatakan sanksi itu 'proporsional mengingat putusan Ofcom bahwa pelanggaran tidak disengaja dan bahwa saluran tersebut tidak bertindak ceroboh'. (Permintaan maaf baru disampaikan setelah mereka dinyatakan bersalah)


ISSUE LIFE CYCLE  

Tahap isu berawal dari tahap potensial yang merupakan isu rasisme bagi Chanel 4 mengenai tayangan Big brother. Pada tahap ini adalah masa-masa penting bagaimana perusahaan dapat meredam isu agar tidak menyebar lebih luas. Namun, pada kasus ini chanel 4 gagal dalam meredam isu dengan membiarkan 200 komplain dan hanya menganngap kejadian yang dialami Shilpa Shetty hanya bentuk dari kompetisi dalam rumah big brother. Pada tahap emerging, Pihak EDM melakukan pemanggilan terhadap produser guna untuk mediasi tentang masalah ini agar para konstentan tetap menjaga perilakunya agar tidak rasis. Namun, isu ini ternyata sudah sampai ke India dimana sudah terdapat kelompok-kelompok yang mendukung penolakan rasisme terhadap salah satu peserta yang berasal dari India. Pada saat Gordon Brown melakukan kunjungan diplomatik, beliau menginginkan adanya rasa saling toleransi antar sesama negara. Pernyataan Gordon Brown ditanggapi negatif sehingga tekanan-tekanan sudah mulai dirasakan Chanel 4 karena keadaan sudah mulai memanas dan perusahaan tidak berupaya untuk membuka saluran dua arah terhadap publiknya. Tahap krisis yang dialami chanel 4 berawal karena adanya kegagalan perusahaan meredam isu yang terkesan hanya dibiarkan sehingga terjadi kemarahan publik India terhadap Chanel 4, terjadi aksi protes penolakan rasisme dan chanel 4. Kemudian banyak tuduhan-tuduhan kepada chanel 4 sampai dengan adanya pernyataan sekretariat budaya yang menyatakan bahwa kejadian tersebut memang betul sebuah bentuk rasisme dibarengi dengan komplain yang sampai pada angka 19.300 komplain. Hal ini membuktikan bahwa isu sudah meluas dan sudah sampai pada pemberitaan media sehingga perusahaan sudah benar-benar mengalami krisis. Pada tahap current, pengiklan carephone warehouse memutuskan untuk menunda kerjasama sponsorship dan karena banyaknya tekanan yang dialami perusahaan, chenel 4 memutuskan untuk membatalkan Big Brother 2008.

Krisis ini merupakan bentuk kegagalan perusahaan meredam isu karena isu yang dibiarkan akan menyebabkan isu. Jenis isu pada studi kasus kali ini merupakan isu eksternal karena menurut Kriyantono (2012, h. 157) “isu eksternal merupakan peristiwa yang berkembang diluar organisasi yang berpengaruh langsung atau tak langsung pada aktifitas perusahaan.” isu rasisme ini berkembang karena ada tayangan big brother dan pada saat itu publik eksternal menangkap adanya bentuk rasisme yang dilakukan oleh peserta. Isu ini merugikan pada perusahaan dan bisajadi karena adanya isu ini perusahaan dapat mengalami banyak kerugian, sehinnga isu ini masuk pada aspek dampak defensive issue. Harrison (2008) dalam Kriyantono (2012, h. 158) menyatakan difensive issue adalah “isu-isu yang membuat cenderung memunculkan ancaman terhadap organisasi, kerena organisasi harus mempertahankan diri agar tidak mengalami kerugian reputasi.” Kemudian pada aspek keluasan, isu rasisme ini masuk kedalam isu universal karena isu ini mempengaruhi banyak orang. Orang-orang yang sebenarnya pada awalnya tidak menonton bog brother karena adanya isu rasisme ini banyak orang membicarakan dan memprotesnya bahkan isu ini berkembang sampai India. Hal ini didukung dalam Kriyantono (2012, h. 158), isu universal merupakan “isu-isu yang memengaruhi banyak orang secara langsung, bersifat umum, dan berpotensi memengaruhi personal.”

Pada krisis ini terlihat perusahaan tidak memiliki menajemen krisis sehingga penyelesaian krisis cenderung responsif dan lamban. Sebenarnya apabila perusahaan memiliki manajemen isu dan krisis yang baik, krisis ini dapat diprediksi akan adanya kemungkinan potensial isu yang kemungkinan besar akan melanda perusahaan. selain itu, perusahaan seharusnya sebelumnya sudah mengetahui bahwa akan ada gesekan-gesekan antar peserta yang memiliki perbedaan latarbelakang dan kebangsaan didalam rumah big brother, karena jenis program ini adalah kompetisis sehingga dalam prosesnya pasti akan ada persaingan dan pertengkaran.  Tidak adanya menajemen isu dan krisis mangakibatkan krisis semakin meluas dan kemarahan publik semakin membludak. Selain itu, perusahaan tidak menerapkan worst case scenario melainkan menggunakan strategi menyangkal bahwa kejadian yang terjadi di rumah big brother bukan termasuk rasisme. Strategi ini terbilang gagal karena perusahaan menyangkal tanpa disertai bukti-bukti yang akurat dan faktual sehingga publik merasa perusahaan hanya tidak mau disalahkan. Seharusnya perusahaan menerima kejadian tersebut memang bentuk rasisme karen seperti yang diketahui data menyebutkan sudah ada 19. 300 komplain, berarti memang benar kejadian tersebut adalah bentuk rasisme. Pada krisis ini, perusahaan terkesan hanya melindungi perusahaannya agar reputasinya tidak jatuh. Namun, perusahaan melupakan bahwa keselamatan dan keamanan publik adalah yang terpenting. Strategi krisis yang dilakukan perusahaan tidaklah mengutamakan publik dan stakeholdernya sehingga menyebabkan kecemasan dan kekesalan karena merasa tidak diperhatikan pada saat-saat krisis sehingga tindakan yang dilakukan perusahaan tidak sesuai dengan harapan publiknya. Publik menginginkan perusahaan mengakui kejadian tersebut adalah rasis dan segera meluruskan kejadian tersebut dan meminta maaf langsung pada peserta yang diintimidasi tersebut bukanlah menyangkal dan tidak mengakuinya.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya bahwa perusahaan lamban dalam melakukan tindakan penyelesaian krisis ini. Perusahaan baru meminta maaf pada saat ada panggilan yang ditujukan kepada chanel 4 sehingga terlihat perusahaan meminta maaf hanya karena diperintahkan untuk meminta maaf. Atas kejadian krisis ini Ofcom menyatakan bahwa chanel 4 melanggar peraturan kode etik penyiaran karena selain kejadian rasisme, tapi terdapat pelanggaran-pelanggaran lain yang juga dilakukan dalam program big brother. Hal ini menyebabkan chanel mendapatkan sanksi, karena itu perusahaan menerima dan meminta maaf. Kejadian ini membuktikan bahwa chanel 4 gagal memenuhi tanggung jawabnya sebagai televisi meilik badan publik untuk menyuguhkan program yang inovatif, kreatif, dan beredukasi terhadap publiknya. 

LESSON CAN WE LEARN:

·   Jangan menyepelahkan sebuah isu karna isu yang diabaikan akan menjadikannya krisis yang merugikan bagi perusahaan.
·         Lebih peka terhadap isu potensial yang kemungkinan terjadi dan menimpa perusahaan.
·      Lebih cepat dalam mengatasi isu adalah kunci untuk tidak sampai pada tahap krisis. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan musyawarah dan mediasi agar isu tidak semakin meluas.
·        Apabila sudah terdapat bentuk komplain yang jumlahnya banyak dan komplain tersebut berisikan hal yang sama, seharusnya perusahaan tidak lagi malakukan strategi menyangkal.
·     Tindakan yang dilakukan dalam menyelesaikan krisis tidak boleh rekatif dan lamban. Perusahaan harus siap dan cepat dalam mengambil keputusan dengan memiliki menajemen isu dan krisis yang baik.
·     Penting bagi perusahaan dalam masa-masa krisis dapat menyamakan persepsi dengan stakeholder utama, sehingga mengurangi kesalah pahaman dan gesekan dengan stakeholder.

REFERENSI:
  • Kriyantono, R. (2012). Public Relations & Crisis Managemant: Pendekatan Critical Public           Relations, Etnografi Kritis, & Kualitatif. Jakarta: Prenadamedia.
  • Regester, M. & Larkin, J. (2008). Risk Issues and Crisis Management in Public Relations: A          Casebook of best practice. London: Kogan Page.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BIG BIG thanks to you :)) silahkan beri komentar dan berkunjung kembali kawan. *hamidahsemi*