23 Des 2015

Aku ngerasa gak berguna banget :( tiba tiba sedih tak tertahan.
Disaat teman satu angkatan ada yang mau kompre, aku sempro aja belum.
Ya aku tau, penelitian kita beda, tingkat kesulitannya pun bisa jadi juga beda,
Tapi gak tau, aku ngerasa sedih banget.
Harusnya dulu aku lebih realistis. Skripsi bahkan gak akan ngerubah ip kumulatif mu,Hamidah..
Harusnya ambil aja judul judul mainstream yang walaupun sampah yaudah jabanin aja. Seengaknya kamu bisa segera lulus, dan gak malah sibuk ngubek-ngubek teori komunikasi massa yang bahkan peminatan mu adl public relations, gak perlu susah-susah ngulang lagi belajar dari awal sebab praktis 2 tahun ini teori komunikasi massa udah gak tersentuh.
Sedih ya Allah aku ngerasa sedih banget. Terlalu idealis di saat kayak gini tuh gak penting, cuman bakal jadi sampah :(

16 Des 2015

#pagiperpustakaan lepas dari tiga bulan :')

Barangkali memang tepat bila ada orang yang berkata “apa yang kita baca mempengaruhi diri kita”. Saat ini saya tengah mengalami hal tersebut, yang praktis dalam tiga setengah bulan ini berkutat dengan buku-buku karangan wartawan tiga zaman, Rosihan Anwar.
Sebelumnya, tidak pernah tersentuh sama sekali oleh saya buku-buku karangan beliau, bahkan sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi saya merasa berdosa tidak pernah mengenal nama beliau sebelumnya. Mungkin masa kejayaan nya sebagai wartawan terlampau jauh dari masa studi saya saat ini. Rosihan Anwar adalah pemimpin harian Pedoman yang menjadi koran nomor wahid di Indonesia kala tahun 50-an. Bila boleh mengutip pendapat Prof Alwi: Pedoman itu sebagaimana Kompas masa kini, yakni koran tempat diskusi dan koran yang mampu membuat tema-tema yang diangkat selalu jadi perbincangan seluruh rakyat Indonesia.
Tiga setengah bulan mencoba bermesra dengan sosok Pak Ros (sapaan akrab beliau) demi mendapatkan inti sari pola pemikirannya terkait Jurnalisme Indonesia yang berguna untuk Tugas Akhir perkuliahaan saya di Universitas Brawijaya, menjadikan saya kemudian tau banyak hal, mengamati dan peduli berbagai hal, yang sebelumnya sama sekali tak terlintas dalam benak.
Judul skripsi ini pula yang kemudian membawa saya melakukan perjalanan ke Jakarta pertama kali seorang diri menggunakan kereta api selama 17 jam, untuk menemui kerabat sekaligus kolega Pak Ros yakni nama yang sebelumnya sudah saya sebutkan diatas: M. Alwi Dahlan. Beliau kemudian akrab di sapa dengan panggilan Prof Alwi sebab menjabat guru besar FISIP Universitas Indonesia.
Perjalanan menemui mantan Mentri Penerangan era Soeharto ini juga perlu perjuangan. Saya harus memulai dengan pendekatan pada sekretaris jurusan UI terlebih dahulu yakni Dr. Eduard Lukman, agar mendapat rekomendasi wawancara pada beliau. Dari pengalaman tersebut ada pelajaran penting dalam hidup yang selama ini tak pernah saya temui secara langsung namun hanya kerap kali saya dengar, yakni kalimat “padi semakin berisi semakin merunduk”. Ini benar saya temukan pada sosok Prof Alwi Dahlan, sebab usai menghubungi beliau via pesan singkat dengan harapan supaya tak menganggu kegiatan, justru ada satu panggilan yang mendarat di handphone saya kala tengah bergulat dengan ratusan lembar koran Pedoman di Perpusnas jalan Salemba. Ada suara yang tak cukup jelas dari sebrang telfon memulai percakapan sebagai berikut: “Halo, saudari Hamidah? Saya Alwi Dahlan. Saya persilahkan ke rumah saya jika hendak wawancara terkait Pak Rosihan Anwar”
Seketika kemudian haru menguasai dada dan mata, ini bukan sekedar perasaan bahagia sebab proses wawancara skripsi saya terjamin lancar, namun sebab sikap seorang “Manusia Komunikasi” (buku Manusia Komunikasi adalah kumpulan tulisan rekan Alwi Dahlan dalam rangka memperingati ulang tahun beliau ke-75 tahun) yang kemudian sangat rendah hati dan memberikan saya pelajaran maha berharga.
Dari sosok Prof Alwi, kemudian saya kembali lagi pada sosok Pak Rosihan. Muncul wajah beliau yang ‘terlalu’ sering saya tatap di sampul buku “Menulis dalam Air: sebuah otobiografi”. Saya sangat terharu. Betapa, Pak Ros andai saya sempat bertemu, barangkali saya hanya bisa merunduk malu.... belum apa-apa yang saya lakukan terkait skripsi ini namun keluhan demi keluhan tak henti terlontar pagi siang malam. Sepanjang tiga setengah bulan ini saya baru sadar, munafik memang bicara tentang skripsi tanpa peduli ijazah dan gelar, tapi dibalik kedua hal tersebut kemudian saya temukan soul dalam tugas akhir ini. Bukan, bukan hanya tentang S.Ikom semata, tapi lebih dari pada itu, pengalaman, pelajaran, cara pandangan, perjuangan, dan semua tentang Pak Ros dan koleganya yang kini sudah dipanggil Tuhan terlebih dulu atau masih hidup dalam usia udzur, semuanya menginspirasi saya... semua nya kemudian menjadi cambuk bagi saya, bahwa hidup memang akan selalu berakhir, sehingga pertanyaan nya bukan kapan akan berakhir, tapi apa yang bisa dilakukan sebelum berakhir?

Sebagai penutup tulisan yang tanpa sengaja saya ketik dalam keadaan mata berkaca-kaca ini, saya hendak kutip petuah dari Buya Hamka (rekan Pak Ros juga), sebagai berikut:
Kalau hidup sekedar hidup, Babi di hutan juga Hidup.
Kalau bekerja sekedar bekerja, Kera juga bekerja.

Sebab itulah mari kita sama-sama cari makna dalam hidup ini. Semoga kita bukan golongan orang-orang yang hanya hidup sekedar hidup. Amin.  / 121215

3 Nov 2015

#pagiperperpustakaan

aku benar-benar sedang ingin mengeluh. sungguh ingin mengeluh. sebab lelah yang mendera. sebab jenuh yang mengikat begitu erat.

kenapa duduk sendirian disini terasa begitu lama? sedang duduk dengan mu seolah bumi hanya mengelilingi matahari seperempat perjalanan saja. terlalu cepat. teramat singkat.

aku jenuh hanya menatap layar, sejenak kemudian diiringi rintikan jari jemariku yang menerpa 26 alfabet secara bergantian. monoton. aku bosan.

17 Okt 2015

Mari mengukur kesetiaan

Wkwkwkwkwwkwkwkw
Ijin ketawa dulu ya sebelum memulai tulisan ini, karena sesungguhnya si judul dengan konten postingan  mungkin bakal sedikit nggak nyambung. Intinya cuma pengen cerita dan curhat tipis-tipis sih disela ngerjain skripsi dan baca bahan yang ‘kadang’ juga bikin bosan hehe.
Jadi ceritanya, saat ini aku sedang memperhatikan sebuah icon kecil di sudut laptop ku yang baru saja berpendar. Icon itu berbentuk persegi panjang berwarna putih dan hitam, kita bisa dan sepakat menyebutnya adalah icon baterai. YAP! Akhir-akhir ini baterai laptopku sering drop, dipakai sebentar tetiba udah habis aja, alhasil ketika ritual mengetik skripsi belum kelar, akupun harus mencolokkan kabel charge sambil menggunakan laptop. Hmmm.. aku tau itu bakal makin gabaik buat kesehatan laptop berikut baterainya.

Tapi terlepas dari ketidakberdayaan baterai laptopku saat ini, aku sangaaaaaaaat sangat bersyukur. Percaya nggak sih kalo laptop ini sudah menemaniku 6,5 tahun lamanya! Wow. Aku merasa itu cukup spektakuler, sebab di jaman modern ini, nampaknya sudah jarang orang-orang yang memiliki benda-benda (terutama elektronik)  dengan durasi waktu yang cukup lama.
Kebanyakan mudah rusak, mudah hilang, mudah bosen, dan semuanya akan menghasilkan satu keputusan akhir yaitu “GANTI”. Hmmm... beruntungnya itu tak terjadi padaku dan barang elektronik laptop ini. Entah karena terbiasa sejak kecil atau bagaimana, yang jelas orang tuaku selalu memberikan didikan untuk tidak mudah gonta-ganti barang, terlebih ketika fungsi dari benda tersebut masih sempurna, dan tidak kurang suatu apapun. Mengganti suatu barang yang masih bisa digunakan dengan barang baru lainnya, bukanlah sebuah pilihan yang tepat menurutku, karena tak selamanya yang baru akan lebih baik dari yang lama.
Siapa tahu produk terbaru itu jauh lebih buruk kualitasnya, walau tampilannya terlihat lebih menarik. See? Kita harus lebih cermat, kan.

Kebanggaan dalam hati ini bukan hanya kutujukan untuk si laptop yang bisa bertahan sebegitu lamanya dengan sikapku yang kadang kurang berperikemanusiaan (misal tidak membersihkannya sampai berdebu :’D dll) namun apresiasi ini juga kutujukan untuk diriku sendiri. Jiahahaha, ini narsis judulnya. Aku bangga karena aku bisa sebegitu setia dengannya, di tengah deru debu gempuran teknologi masa kini yang bisa membakar dan melelehkan mata, aku tak goyah. Bayangkan, bahkan ada laptop masa kini yang bisa dilipat layarnya 360 derajat dan dalam 2 detik seketika berubah menjadi tablet. Oh, tapi aku memalingkan muka seraya mengangkat tangan tinggi-tinggi, i say “NO” wkwkwkkwkw (ini sebenernya karena setia apa karena nggak punya duit sih? Hahah beda tipis)
Percayalah, tak selamanya yang baru akan lebih baik dari yang lama, ia hanya nampak sedikit berbeda saja. Percayalah ini dalam hal apapun, bukan hanya tentang elektronik. Wkwk baper.


Anyway, bukan hanya laptop saja lho ya setia bertahun-tahun denganku. Handphone tabletku juga sudah nyaris 3 tahun. Wuhuuu. Masih ingat sekali pertama kali ibu membelikannya untukku J dengan harga yang masih mahal wkwkw sampai sekarang seolah beli sendiri aja mampu, saking murahnya. Bahagia dan haru.  

29 Sep 2015

Takkan lagi kutemui kemarau

Siang ini aku memilih sebuah bangku di dekat jendela perpustakaan lantai 2. Terlalu jelas dari sini, kulihat daun-daun berguguran seolah sudah bosan bergantung pada ranting. Aku tarik nafas panjang, sejurus kemudian kuhembuskan. Aku percaya ini semua memang butuh kesabaran dan ketekunan, tapi aku harus punya target. Jujur saja aku tak mau berlama-lama duduk diperpustakaan dan membaca berbagai macam buku yang sama sekali tak menarik minatku. Aku bukan tipikal orang yang skeptis dengan sebuah disiplin ilmu kemudian mati-matian mencari tahu dan membuktikan kebenaran teori ini dan itu. Terlalu membosankan. Masih ada bermilyar buku cerita menarik berkisah tentang perjalanan, asmara, rindu, dan keluarga barangkali, yang lebih mampu membuat mataku terantuk dan melahap lembar demi lembar tiada ragu.

Aku pastikan takkan lagi kutemui musim kemarau dalam keadaan seperti ini. Aku yakinkan diriku, aku akan melewati musim kemarau tahun depan dalam keadaan rampung dan tuntas dari segala kertas-kertas ini. Aku kuatkan kepercayaan itu.
Bolehlah di musim hujan yang sebentar lagi, aku masih duduk disini dan menikmati harum tanah basah bersama laptop yang menyala dan sederet rangkaian paragraf tugas akhir mahasiswa. Tapi sekali lagi, tidak untuk kemarau tahun depan. Sama sekali tidak. / hamidah 29 september 2015
 Jangan cari aku di perpustakaan pada kemarau tahun depan. Jangan :(

18 Sep 2015

Penjaja Koran dan Free Wifi


#pagiperpustakaan kali ini lagi ogah bahas skripsi hehehe, sebenernya bukan apa-apa sih, tapi karena ada hal lain yang lebih menarik perhatianku pagi ini di perpustakaan, selain berlembar-lembar kisah hidup Pak Rosihan Anwar :)
Di teras depan perpustakaan yang mulai sesak dengan mahasiswa ini, aku melihat lelaki bertopi abu-abu tengah menjajakan sesuatu sambil memekikkan kata “Koran.. koran”, kemudian menunjukkan sampul depan kertas tersebut, sebuah foto bencana alam banjir dan tanah longsor di Aceh.
Berbicara tentang berita tersebut, sebenarnya aku sudah membaca dari internet sejak beberapa waktu yang lalu. Dapat dengan lengkap kuperoleh informasinya, bahkan link berita lanjutannya pun langsung muncul dibagian akhir berita. Dengan sangat mudah, runtut, dan rinci, dalam sekejap aku bisa mengetahui kronologi kejadian apapun di belahan dunia manapun, hanya dengan bantuan Internet, dan... tentu wartawannya (hehe, ini yang paling penting. Ada internet tanpa ada wartawan, mustahilkan kan menjadi sebuah berita?)
Kembali kulihat si bapak penjaja koran, sejenak kemudian ku terbangkan pandangan ke bagian atas teras perpustakaan. Di sana tergantung sebuah benda berbentuk bulat pipih yang tak henti berkedip-kedip dengan lampu warna hijaunya. Kita semua sepakat menyebutnya wifi.
Jadi.... kira-kira mana yang lebih dipilih manusia masa kini, terutama dalam lingkup kecil perpustakaan universitas? Membeli kertas koran seharga 4000 rupiah, atau mengeluarkan laptop yang dibelikan Ayah kemudian menekan tombol turn on wifi dan selanjutnya dapat berselancar di dunia tanpa batas.
Penjaja koran dan wifi gratis, menjadikanku miris. Ternyata, tanpa kita sadari, dunia telah perlahan-lahan menelan manusia-manusia setia seperti si bapak penjaja koran. Perlahan-lahan dunia modern telah membatasi kita berinteraksi secara langsung atau tatap muka dengan orang lain. Kita terkadang memilih untuk lebih praktis, apatis, dan menganggap bahwa meninggalkan komentar berupa tulisan di kolom pembaca digital sudah bisa disebut sebagai salah satu jenis interaksi.

Coba bayangkan, alangkah indahnya jika di pagi se dingin ini di Kota Malang, kita hangatkan diri dan hati (terutama) untuk sejenak menyapa penjaja koran, berbasa-basi menanyakan apa headline koran A dan koran B? Kemudian membagikan senyuman sembari menyodorkan uang 5000-an.
“Kembaliannya ambil saja, Pak.”
“Terimakasih Mbak, terimakasih :)”
Ah.... alangkah indahnya dunia, kala mendengar ungkapan terimakasih nan tulus diiringi rekah senyum yang nampak simetris di bibir pekerja keras seperti nya. Barangkali, ketika pulang nanti si Bapak bisa ceritakan pada anaknya bahwa manusia-manusia yang duduk dibalik gedung kokoh perkuliahan bukanlah orang-orang apatis yang ‘sok serius’ dan ‘sok sibuk’, tapi mereka adalah orang-orang baik yang ikhlas berbagi, walau hanya senyum di pagi hari. Siapa tau si Bapak akhirnya punya mimpi, menyekolahkan anaknya hingga ke universitas nanti?
Haha aku terlalu panjang berangan ya?
Setidaknya, pagi ini aku sudah memutuskan membeli koran itu dan berusaha membagikan senyum semangat terbaik yang kumiliki :)

#pagiperpustakaan, jangan lupa tersenyum dan bagikan kebaikan 

15 Sep 2015

#PAGIPERPUSTAKAAN!

baiknya marah atau bersyukur sih kayak gini tuh?
revisian latar belakang yang aku kerjain semalam ilanggggg :( atau jangan-jangan yang semalam itu aku cuman mimpi ya ngerjain latar belakang sampe merem melek mata perih :(
gini amat sih :(
kalo kayak gini aku masih gak boleh ngeluh ya? baiklah....

11 Sep 2015

#pagiperpustakaan

Beberapa hari ini aku merasa sedikit bingung, risau akan beberapa hal, dan.. mungkin ini bukan kali pertama aku "galau" atas hal bertajuk "skripsi, rencana masa depan, dan lain-lain". Aku seharusnya sudah cukup kebal dengan kondisi seperti ini, tiba-tiba diterpa berbaris-baris pertanyaan mengenai "apa kaitan teori ini dengan judulmu?" "studi pemikiran dan memori kolektif seperti apa sebenarnya yang hendak kamu ambil poin nya?" "jurnal internasional mana yang berkaitan?" "apa akhir tahun ini kamu yakin bisa duduk di kursi seminar proposal sekaligus menguasai puluhan lembar materi dan menjawab pertanyaan penguji bak air mengalir dari hulu ke hilir?"

Kurasa semua pertanyaan itu memang membutuhkan jawab, dan pagi ini aku tengah mencari jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaan itu. Kuputuskan berangkat pagi-pagi dari rumah. Aku merasa useless, berdiam diri dirumah tanpa kegiatan terjadwal semisal kelas mata kuliah yang telah kulalui di beberapa semester lalu. 
Aku duduk di depan perpustakaan, memilih sebuah kursi yang cukup dekat dengan air mancur dengan harapan suara gemercik air ini dapat menenangkan ku dan menjadikan mood ku lebih baik. Ku edarkan padangan ke rumput di halaman rektorat yang menghijau sungguh segar, yang ada dibayanganku saat ini adalah "berapakah kampus ini menganggarkan dana untuk membuat seluruh rumput di halaman seluas itu menjadi terus hijau di tengah musim kemarau seperti ini?" 
Merasa rumput tak cukup menarik bagiku, sebab hanya menambah kecurigaan ku pada anggaran kampus, dampak kenaikan UKT mahasiswa dan lain-lain, aku pun memutuskan mengganti objek . 

Terhentilah bola mataku pada sesosok pria yang duduk tak jauh dari meja ku. Sekilas nampak tak ada yang spesial dari pria dengan baju biru muda ini. Tapi tunggu, memang bukan pria ini yang menarik perhatianku. Tunggu... tas nya! 

Cukup jelas tertulis "5 cm." di bagian depan tas berwarna dasar hitam itu, ya.. walaupun tulisan tersebut sudah nampak memudar. Aku tertegun memandang "5 cm."
Aku memang sudah pernah melihat film itu, perjuangan sekawanan teman mendaki gunung semeru hingga jatuh bangun tersungkur terjerembab dan lain sebagainya, tapi mereka berhasil. Mereka dengan kekuatan bersama, bisa buktikan bahwa puncak semeru memang mahakarya Tuhan yang patut untuk diperjuangkan, walau bertaruh nyawa. 
Harusnya aku pun sama, menggantungkan mimpiku tepat 5 cm di depan keningku. Aku harus percaya Tuhan akan senantiasa memeluk mimpi-mimpi itu, dan mengabulkan nya untukku :) 
Skripsi, bukan halang rintang yang berarti. Dia bukan untuk diratapi atau bahkan ditangisi. Dia hanya perlu di selesaikan, dengan segenap perjuangan, cinta, dan doa yang mengiringi. #pagiperpustakaan 


Daaan... #pagiperpustakaan ini aku persembahkan untuk menemani perjalanan skripsiku, hehee.. setidaknya dengan menulis dan curhat tipis-tipis aku selalu merasa lebih baik lagi, merasa semangat lagi! Semoga #pagiperpustakaan menjadi motivasiku untuk rajin-rajin bertandang ke perpustakaan, bukan hanya sekedar menikmati pagi di universitas yang sesak karbondioksida ini kala siang (hehe), tapi tentunya menyelesaikan tugas akhirku! semangat!

24 Agt 2015

...

Selalu terharu dg apapun yang ia tuliskan. Terlebih di saat saat berat seperti ini. Dia selalu dewasa. Ya.. selalu optimis dan menentramkan.
Aku tahu berat perjuangan ku kali ini tak berbanding sama sekali dengan berat perjalanan yang sudah bermil mil kau taklukkan. Kenapa aku selalu menjadi si pengeluh yang enggan qonaah, sedang kau sang sempurna yang selalu merasa cukup dan bahagia?

Aku harus belajar banyak... darimu.

5 Agt 2015

Waktu bermaraton sungguh cepat. Merangkum berbagai kisah.
Jalinan teman yang menjadi sahabat.
Sahabat yang menjadi asing.
Cinta yang berubah benci.
Juga kisah asmara, yang baru selebar daun kecambah.
Mana pernah tau kelak akan jadi apa orang yang di depan kita saat ini. Sebab itu, lebih baik memulai segala dengan kebaikan, dan biar akhir yang menentukan sendiri nasib mana yang ia rasa pantas. /hamidah

29 Jul 2015

Menelinga


Aneh ya? Hmmm.. barangkali lebiih akrab kita kenal dengan kata “Menguping”, tapi entah kali ini aku memang ingin membuatnya sedikit tak lazim. Menguping identik dengan kegiatan yang dengan sengaja mendengarkan perbincangan orang lain, tapi pagi ini... aku melakukannya dengan tidak sengaja, maka kusebut saja ini “Menelinga”. Sah-sah saja kan? Bahasa itu hanya konstruksi dan kesepakatan sebagian besar orang kan? :)



“Aku satu semester ini nganggur aja, kayak males-males an gitu lho...” itu kalimat yang kudengar dari bibir seorang gadis berjilbab abu-abu muda, dengan penuh bangga (menurut ku) kepada rekannya. Aku dapat dengan jelas mendengar perbincangan asyik keduanya, sebab mereka duduk tak jauh dariku, hanya berselang dua meja saja di perpustakaan pagi ini.
Teman nya nampak antusias menyimak dan menimpali. Jika boleh kutebak, mungkin mereka adalah mahasiswa semester akhir, sebab beberapa kali terucap kata skripsi, tugas akhir, dll.

Aku hanya melirik sekilas, tak hendak berspekulasi, tapi..... barangkali kau bisa tebak apa yang ada di benakku saat ini. /hamidah
Menelinga bukan menyimak kemudian mengelupas sekujur keburukan mereka, menelinga adalah mengambil hikmah dan pelajaran atas perbincangan yang seharusnya kita tak terlibat di dalamnya.  

28 Jul 2015

Monster aja bisa senyum lebar. Kamu, kenapa enggak?


beberapa saat lalu aku memutuskan untuk jalan-jalan keluar rumah. rasa suntuk sempat mendera, sebab ada beberapa hal yang tak bisa kuatasi dan kuselesaikan. kemudian menyerah, aku memilih untuk menyegarkan pikiran sejenak, menikmati deretan sawah-sawah menghijau dan bukit kelabu yang terlihat dari kejauhan.

aku sendirian saja. seperti biasa
dan kurasa itu menyenangkan.
hanya perlu diam tanpa bertukar pikiran dengan siapapun, yang belum tentu selaras dengan mauku.
aku hanya perlu mengatupkan bibir rapat, membiarkan mata menjelajah dan memberi kesempatan hati untuk menafsirkan.

sudah lama aku tak meluangkan waktu untuk begini
menyendiri dan diam, tanpa perlu berpikir panjang
tapi ada ke-irian dalam hati kala mendongakkan kepala, kutemui ranting-ranting yang saling berjabat.
jajaran pohon di sebrang kiri dan kananku nampak menikmati belaian angin dan mencuri-curi waktu bermesra di atas sana
mereka memang nampak terpisah oleh jalanan aspal  selebar tiga kali mobil pick up, namun ranting mereka menyatu di atap, meneduhkan tiap kepala yang melintas, menghalang terik yang hendak memanggang habis rumput-rumput gulma
/
hamidah

21 Jul 2015

Lillahita'ala capek hati capek pikiran
segala cara udah dicoba, mulai buka lewat pc, download line whoscall, scrolling kaskus siang malam cari tips ngembaliin akun yang lupa password dan pin.
:((((((
line ngeselin. musti buat akun baru banget? semua kontak ada disana
duh hamidah lhoooo

20 Jul 2015

LINE


Kesel... gara-gara logout dari LINE karena koneksi internet off beberapa hari, inilah jadinya. Aku coba login lagi, and... is incorrect. Entah yang incorrect emailnya atau passwordnya, aku gatau. Kebetulan emailku emang ada dua, yahoo dan gmail. Yahoo emang aku pakai buat akun-akun media sosial termasuk salah satunya blog ini, dan gmail khusus untuk tugas-tugas kuliah dan kerjaan, biar spam notification dari facebook dan twitter gak menuh-menuhi inbox ku. 
Yah... padahal banyak kontak disana, terutama grup angkatan ilmu komunikasi 2012 yang banyak kasih info-info penting, grup organisasi, temen-temen SMA, kerjaan, dll. 
Kesel :( aku udah coba login lewat hp gagal, coba lewat pc juga gagal..... gimanasih

14 Jul 2015

Membawakan bulan ke pangkuanmu

Mustahil.. Barangkali itulah kata pertama yang muncul ketika membaca judul ini. Bahkan untuk membawakan debu dari rembulan, kita belum tentu mampu. Hingga saat ini saja pertanyaan terkait "Benarkah Neil Armstrong manusia pertama yang menjejakkan kaki ke bulan?" masih menjadi polemik dan kontroversi. Sebab dalam video yang ditunjukkan oleh Amerika Serikat, memang terlihat Armstrong turun dari pesawat, lengkap dengan pakaian luar angkasanya. Pertanyaan selanjut nya adalah "Siapakah yang mengambil gambar tersebut? Bukankah berarti si pengambil gambar itu yang menjadi manusia pertama di bulan, bukan Armstrong?". Hal ini kemudian dikait-kaitkan dengan perebutan gengsi sebagai negara paling maju di dunia antara Amerika dan Rusia, sehingga ada dugaan bahwa Amerika hanya membuat video abal-abal untuk membohongi publik.

So far.... i don't really know. Terlalu jauh aku membahas hal semacam itu, nyatanya aku tiba-tiba ingin menuliskan tentang bulan, lagi, karena mendengarkan lagu lawas yang dibawakan Meggy Z berjudul jatuh bangun.
Barangkali hampir tiap generasi akan mengenali lagu ini, walau tak secara utuh. Bagian lirik paling familiar tentulah yang ini... "Jatuh bangun aku mengejarmu, namum dirimu tak mau mengerti. Kubawakan segenggam cinta, namun kau meminta diriku membawakan bulan kepangkuan mu."

Ya... terkadang, bahkan sering, manusia memang 'terlalu' berekspektasi tinggi, 'terlalu' banyak mau, dan rewel. Sudah dikasih hati, mintanya jantung. Sudah dapat jantung minta lagi paru-paru, lalu lambung, sampai pankreas barangkali.
Padahal kita belum tahu, dengan memiliki semua itu apakah menjamin bakal bahagia sentosa? Atau justru makin kebingungan karena terus merasa kurang? Lagu ini sedikit banyak bisa menjadi bahan introspeksi diri kita, aku terutama, yang kerap kali merasa kurang hingga sulit bersyukur.


"Aku memang takkan mampu bawakan bulan ke pangkuan mu, sayangku. Tapi aku akan bawakan seisi duniaku, untuk mu dan masa depan kita"

22 Jun 2015

Mimpi Semalam

Semalam.. aku tidur tak selarut biasanya. Takut 'kebablasan' lagi hingga lupa sahur.

Ada 3 orang dalam ranjang yang cukup besar ini: aku, Ibu, dan kakak. Biasanya aku hanya tidur dengan kakak, namun malam ini Ibuku sudah tertidur lebih dulu usai tarawih. Tak perlu lah kami meminta Ibu berpindah kasur, bagi kami tidur bertiga justru terasa lebih hangat dan mesra.
Selain tidur bertiga, malam ini ada yang berbeda dari biasanya. Kita mungkin akan mudah terlupa dengan mimpi-mimpi yang menghiasi sepanjang tidur, namun sebaliknya, tak jarang kita justru lebih mampu mengingat-ingat kejadian dalam mimpi daripada kehidupan nyata, bahkan selang bertahun kemudian.

Kata Abahku, mimpi yang terpatri kuat dalam ingatan, itulah mimpi sesungguhnya, mimpi dari langit, yang merupakan pertanda atau intuisi.

Beginilah kurang lebih mimpi semalam..
Aku tengah berjalan menuju fakultas, membawa tas dan tentu saja buku. Anehnya aku harus menaiki puluhan anak tangga untuk sampai di teras depan fakultas, yang dalam kenyataannya tak pernah ada jumlah sebanyak itu.
Lebih janggal lagi, aku harus merundukkan badan setengah tengkurap, untuk mengindari tembok yang menghalangi jalanku naik. Ada seseorang mencoba memberiku semangat untuk melewati sedikit rintangan tersebut. Sesaat aku merasa sedang menyelesaikan games yang memiliki beberapa barrier.

Sampailah aku dan berhasil melewati tembok penghalang tersebut. Kutemui sosok lelaki paruh baya yang tadi memberiku semangat. Ia tersenyum dan memberi salam. Ku sambut dengan senyum serupa, aku suka bertemu orang baru, terlebih yang hangat dan sopan. Tetiba, lelaki ini memberikanku sebuah hadiah. Bukan. Bukan memberi begitu saja. Ia memintaku memilih lebih dulu. Ada dua anak manis yang jika kuperkirakan usianya masih 5 sampai 6 tahun. Satu laki-laki, sedang satunya perempuan.
"Pilihlah salah 1 dari mereka," ucap lelaki itu masih dengan senyum yang membentuk setengah lingkaran, melengkung menghiasi wajahnya yang bagiku.. nampak samar.
"Memilih?" Ku ajukan pertanyaan, yang sesungguhnya tak butuh jawab. Aku hanya ingin memastikan. Kenapa hadiah harus dipilih? Terlebih, kenapa hadiahnya harus anak-anak manis ini? Bahkan aku sama sekali belum ingin punya anak. Bahkan aku mengurus diri sendiri masih berantakan.
Lelaki itu mengangguk, mantap.
Aku tak hendak mengabaikan pemberian. Anak semanis mereka berdua tak mudah untuk menerima kata-kata penolakan.
Aku berfikir, tak cukup lama.

"Yang ini..., aku mau yang perempuan," sesaat kemudian jawaban itu terlontar, hasil diskusi singkatku dengan sang hati. Yang terlintas dibenak ku hanyalah alasan sederhana, selama ini aku memang bercita memiliki anak perempuan nantinya. Sebab kurasa anak perempuan akan lebih mudah dekat denganku, mudah kupahami. Nantinya ia akan kudidik dengan penuh kasih sayang agar lebih baik dari ibunya.

Sesederhana itu. Akupun memutuskan.

Selanjutnya.... aku terbangun. Waktu sahur tiba. Hingga kini saat aku tuliskan mimpi semalam, aku masih sedikit berfikir. Adakah tanda yang Allah berikan? Tapi apa? Pilihan terkait apa? Aku yakin kedua anak kecil tadi adalah pengibaratan, bukan anak dalam artian sesungguhnya. Tapi apa?

Ya Allah jagakanlah hati kami agar senantiasa bertaqwa kepadamu. Mimpi di malam bulan Ramadhan ini, semoga merupakan segala pertanda baik dari Mu. Limpahilah kami dengan kasih sayang-Mu, fiddunya walakhirah. Amin allahumma amin.

4 Jun 2015

Ada banyak. Banyak sekali gelisah dalam rasaku. Aku tak katakan "entah kenapa", sebab aku tau sebabnya.
Barangkali aku kurang istighfar
Barangkali aku terlalu sering main2 dan seterusnya
Aku mungkin jauh dari kata benar dan tepat :'( selalu begitu

3 Jun 2015

Baper luar biasa
Diiringi lagu Payung Teduh berjudul Resah.
Ah..... seratus persen lengkap.
Beberapa bimbang menyeruak lewat mataku
Menimbulkan perih menciptakan air lara
Aku? Bisa apa?
Ketidakmampuan ada lengkap dalam diriku
Salahkan saja aku.
Biar semakin penat.
Semakin ngilu.

dengan Hati

"Patutnya kita belajar dari gerimis, bukan dari hujan lebat. Dimana air menyapa tanah dengan lembut, bukan dengan nafsu. Kita sama-sama tahu air selalu merindukan tanah sebab disanalah ia bermuara, bukan di awan, bukan di langit, yang hanya akan memberikannya ketinggian palsu kemudian menjatuhkan sekuat tenaga."  


Beberapa hari yang lalu aku sempat berpikiran untuk merenovasi blog ini, membuatnya lebih baru dan muda.  Walau di mataku, ia tak pernah sekalipun bertambah usia. Dia selalu sebagaimana pertama kali aku membukanya: lembut, wangi, dan penuh pesona. 
Tapi rasa-rasanya, aku akan lebih cinta jika dia berganti baju baru. Beberapa referensi pun keluar masuk di otakku. Tema alam itu pasti, selera ku belum berganti. Tapi rumput, mawar, atau bahkan air yang menjadi pilihan terakhir?


Saat ini di sela waktu luang kuliah, aku sedang duduk manis di depan komputer perpustakaan untuk mengaduk-aduk seisi album gambar online yang rajin kukunjungi dahulu. Setelah sebelumnya menyelesaikan bacaan untuk bekal tugas akhir skripsi yang sudah menghantui malam-malam ku sebagai mahasiswa semester akhir. 

Tapi... 
Aku tak melakukan dengan hati. Aku mengaduk, random, cepat, dan tak berarah. Aku dan bahkan dua pertiga manusia di bumi ini kuyakin akan berusaha menemukan kesempurnaan, setidaknya yang mendekati, semakin dekat semakin baik. Begitupun... memilih baju baru blog ku, aku tuntut yang sempurna, tapi tak kulakukan dengan sepenuh hati. Aku terburu-buru, berlarian hendak hindari waktu tapi terhalang ketidak mampuan. Tetiba aku diam sejenak, kufikirkan perlahan... "Ya... beginilah manusia... mudah sekali menuntut, sulit sepenuh hati."

28 Mei 2015

ada. banyak

Ada banyak halmyangbtak bisa kuceritakan disini. Sebab tak semua fikir mampu menjelma kata.
Aku tengah sakit sekarang, dalam balut keringat dingin dan meriang sekujur tubuh. Kerongkongan kering yang perih dan leher yang hangat. Rasa rasanya hendak tumbang tapi kupaksa bertahan..

Masih banyak yang berkutat dipikiranku. Berbagai hal terkait tugas akhir kuliah, impian impian yang membumbung di langit langit, rutinitas yang sesak, dan banyak.

Ada cita, harap, kasih, ragu, cinta, suka, kecewa, mimpi, kesehatan, kemampuan jasmani rohani, dan banyak. Semua beraduk jadi satu, tak mudah kuurai. Terkadang aku memilih merundukkan pandangan agar tak nampak olehku gemerlap yg menyilaukan.... agar aku nikmat dengan duniaku, tak peduli dengan dunia orang.

24 Mei 2015

kepala 3

Bicara terkait dunia.. dan akhirat.

Beberapa kali kutemui sosok manusia usia kepala 3 awal, yang sungguh menginspirasi. Buah pemikirannya matang dan berdasar. Kritis tapi tidak menyakiti. Tajam tapi tidak melukai. Cerdas dan tidak merendahkan.
Semangatnya membara, kedewasaan nya pas sesuai takaran, cintanya pada ilmu dan kerja sebanding dengan kasihnya pada keluarga.

Menariknya... aku jadi teringat suatu hal, mengenai sabda Allah terkait akhirat dan surga. Kelak kita dihimpun dalam kebahagiaan abadi, dalam keadaan muda takkan bisa menua, antara usia 30 atau 33.

Ya... barangkali representasi manusia pada usia 30-an memang super produktif. Perjalanan separuh hidup dan pengalaman yang cukup. Ibaratnya manusia pada usia kepala 3 adalah "manusia dengan tenaga muda, pemikiran dewasa". /Hamidah, 24 Mei 2015

23 Mei 2015

around your head, around the world

Ketika aku menatap hamparan langit, dan diraba oleh desir angin, seolah aku begitu dekat dengan sudut bumi manapun.
Nampaknya aku tak hanya jatuh cinta pada mu
Namun kali ini lebih luar biasa aku juga jatuh cinta pada lekuk keindahan alam.
Eksotisme hagia sophia
Magisnya ephesus
Tibet sang negri atap langit
Cappadocia
Dan kawan kawan mereka yang menakjubkan
Semua membuatku gila
Ingin memeluk erat, kemudian membasuh mataku dengan indah mereka

31 Mar 2015

Analisis Krisis "Celebrity Big Brother 2007"

URUTAN PERISTIWA:

1.      Channel 4 mulai mengudara pada tahun 1982, bergabung dengan dua saluran lain yakni BBC dan ITV, satu-satunya saluran televisi komersial saat itu.
2.      Masalah ini bermula ketika Shilpa Shetty disebut sebagai 'India' oleh teman serumah nya yang merasa sulit untuk mengucapkan namanya.
3.      Ofcom menerima lebih dari 200 komplain dari penonton, sebab ada dugaan intimidasi rasis yang dilakukan oleh tiga teman serumah Shilpa.
4.      Mendengar adanya komplain tersebut, Channel 4 menyangkal bahwa insiden yang terjadi itu adalah sebuah 'persaingan feminin' dalam reality show.
5.      Dengan adanya pernyataan dari Channel 4 tersebut, jumlah pengaduan justru semakin meningkat, yakni hingga mencapai 8.000 komplain.
6.      Early Day Motion (EDM) melalui Partai Buruh MP Keith Vaz, meminta Channel 4 'untuk mengambil tindakan segera mengingatkan perilaku rasis yang dilakukan teman serumah tersebut tidak dapat diterima'. Tindakan EDM didukung dan disetujui oleh Perdana Menteri Tony Blair, bahkan Sekretaris Kebudayaan yakni Tessa Jowell, menganggap insiden itu sebagai 'rasisme yang disajikan sebagai hiburan'

22 Mar 2015

TYLENOL CASE (studi kasus strategi Public Relations perusahaan Johnson & Johnson)

TYLENOL TALE
Kasus ini mengungkapkan adanya sebuah krisis yang justru membuat publik makin simpati. Hal ini dilakukan Johnson & Johnson melalui penyelidikan sebab keracunan Tylenol.
Urutan peristiwa:
1.      September 1982: Tablet Tylenol menaikkan penjualan terhadap konsumen dewasa sebanyak 35% di Amerika Serikat.
2.      (1 hari kemudian) September 1982: Terjadi kematian di daerah Chicago (3 korban)
3.      Berawal dari meninggalnya 3 orang, muncul berita-berita korban jiwa lainnya yang jika ditotal sebanyak 250 kematian.
4.      Johnson & Johnson menguji 8 juta tablet Tylenol. Hasilnya menunjukkan bahwa kurang dari 75 tablet telah terkontaminasi, dan semuanya ada di daerah Chicago.
5.      94 % konsumen sadar bahwa tablet Tylenol berkaitan dengan keracunan yang terjadi.

10 Mar 2015

Analisis “BOWATER INCORPORATED – A LESSON IN CRISIS COMMUNICATIONS – By Lisa Maggart”


Krisis yang dialami oleh perusahaan Pabrik kertas koran yakni Bowater, berawal dari sebuah mobil yang menabrak bagian belakang truk bermuatan bahan kimia. Kecelakaan tersebut disebabkan asap tebal yang berasal dari Perusahaan Bowater dan menutupi jalan raya. Kejadian ini dianggap sebagai bencana terburuk sepanjang sejarah Tennesee, sebab menelan 12 korban jiwa dan lebih dari 50 orang terluka. Akibat adanya peristiwa ini, pihak Bowater mengalami krisis, sebab polusi asapnya diduga sebagai penyebab utama kecelakaan yang terjadi. Berbagai gugatan dilayangkan ke pengadilan untuk menuntut perusahaan, sehingga menambah daftar krisis yang menerpa.
Tidak lebih dari 72 jam setelah kecelakaan terjadi, Perusahaan Bowater menunjukkan tindakan yang cepat yakni menunjukkan Astrid Sheil (PR Perusahaan Bowater) sebagai satu-satunya spokesperson. Beberapa tindakan yang diambil Bowater dan Sheil selaku PR perusahaan ini adalah:

6 Mar 2015

Babak belur

Tiga hari yang lalu aku jatuh dari motor, tepat saat malam jumat, gerimis ringan membasahi aspal jalan dan menjadikannya licin.
Untuk kesekian kalinya, aku menjadi tontonan banyak orang dijalan, dalam keadaan yang menyedihkan. Rasanya tak perlu aku ceritakan kisah tragis malam itu, yang hanya akan membuatku bergidik dan sedikit trauma.
Saat itu dalam kondisi kaki tangan yang lecet dan berdarah darah, mau tak mau aku harus kembali mengendarai motorku sendiri, kembali ke rumah. Membersihkannya dengan air hangat, mengobatinya dengan obat luka, memijat mijat kaki yang terasa keseleo terkilir, ah.. banyak.
Hingga pagi menjelang, aku harus mendapati badanku yang memar hitam biru tak karuan. Lengan kaki dan punggungku sulit digerakkan. Aku hanya ingin menangis saja... tak ada lain. Terlebih aku sedang dirumah sendirian.
Kuraih debu yang menempel, kuucapkan doa tayamum lantas kutunaikan sholat subuh dengan duduk selonjoran. Banyak yang kutangiskan... banyak... permohonan ampun dalam lantunan astaghfirullahaladzim, ucap syukur atas kecelakaan ini dalam alhamdulillah, pujian pada Illahi Rabbi dalam Allahu Akbar, Subhanallah, Lailahaillallah.... dan banyak. Barangkali ini cobaan, namun dibalik itu aku hanya takut satu hal, bilamana Allah murka atas sederet kelalaian yang banyak kuperbuat. Introspeksi diri tak henti kulakukan dalam pejam yang terasa gelap dan rasa sakit yang menjalar di sekujur badan.
Aku sengaja tak beritahukan orangtua, sebab hanya akan merepotkan pikirku.
Namun makin malam makin sakit kurasa, perih luka kulit yang terkelupas dan memar. Babak belur diriku, hingga.. menyerah.. ku angkat telepon dan kukabari ibu dan abah.
Nada gelisah dan khawatir membanjir dari sebrang telepon sana, hingga beberapa jam kemudian tiba sebuah mobil yang kutunggu. Abah dan kasih sayang yang penuh kesabaran. Aku, sudah sebesar ini... tiada daya dan upaya membahagiakan keduanya, kini malah buat ulah dan merepotkan. Sembari membelah jalanan, kupandangi deretan kerlip pertokoan dari balik kaca jendela yang kehitaman. Aku menangis lagi, haru.. seberapa besar dosaku.. bagian mana yang perlu aku tata dan benahi, Tuhan? Terkadang kita harus dipukul dulu baru sadar, sebab di sentuh tiada berasa. Ya Allah.. ampunilah segala salah yang barangkali lupa hamba istighfari.

5 Feb 2015

If you feel far from Allah, who moved?

Bismillahirrahmanirrahim..
Kalimat yang kujadikan judul diatas adalah sebuah kalimat yang kubaca dari display picture BBM temanku. Menusuk. Ya, tentu saja. Kita terbiasa hidup dengan menunjuk, menunjuk orang lain ketika terjadi kesalahan, menunjuk diri sendiri ketika terjadi kebaikan. Bahkan parahnya, kita menunjuk-nunjuk Tuhan saat ada yang terasa kurang tepat, menunjuk waktu, menunjuk takdir, dan dalam tunjukan tersebut kita seolah menyalahkan dan menyudutkan. Padahal... siapa tahu kita yang salah? Dan kenyataannya memang kita yang sering kali banyak salah. Astaghfirullahaldzim. 

Aku, akhir-akhir merasa sedikit kurang stabil, baik kesehatan, emosi, dan ritme kehidupan. Untuk kesehatan ku sendiri, batuk tak henti menguasai, tentu saja itu cukup menganggu, terutama ketika sebagian besar kegiatan ku berkaitan erat dengan "ngomong". 
Emosi, ya... lebih tidak stabil lagi. Tapi emosi yang tidak stabil ini disebabkan dua hal yang mengapitnya, yakni kesehatan dan ritme kehidupan. Mmm... memang ketiga hal ini sejatinya tidak bisa dipisahkan begitu saja, terus saling kait mengait. 
Ritme kehidupan yang cukup up and down like a roller coaster, makes me should scream, laugh as loud as i can, dan.. hehe sedikit lebay nih ceritanya. Yah.. pokoknya begitulah, sepertinya aku harus lebih pandai menuangkan berbagai warna perasaan kedalam tulisan. Terkadang kesulitan menuangkan kata ini disebabkan berbagai macam sekat dan pertimbangan, yang takut dibaca orang dan dikatain lah, takut rahasia kegundahan terbongkar lah dan lain-lain, sehingga cerita menjadi tak mengalir. 

Namun jujur, menuangkan sesuatu dalam tulisan menjadikan aku lebih tenang (Tapi menenangkan hati, utamanya dengan sholat dan berdoa ya). Entah akan ada yang membaca atau tidak, entah salah atau benar susunan kalimatnya, namun menulis dengan apa adanya seperti yang tengah kurasakan, menjadikan aku cukup "plong"!

Kembali lagi ke up and down nya perasaanku, mungkin disebabkan oleh beberapa hal yang kini sedang mengitari tiap sel, rongga, dan persimpangan di otak ini. Mulai dari magang berserta laporannya (yang seharusnya sudah aku kerjakan sejak sekarang), tentang semester enam yang didepan mata dan jadwal KRS yang cukup.. hash... out of my expectation dan cukup tidak sesuai rencana, dan juga.. mengenai kewajiba-kewajiban di kantor yang sedikit banyak menimbulkan celah bagi setan untuk menyembulkan bisikannya di telingaku "jangan bersyukur.. pekerjaan ini memusingkan, keadaannya menyebalkan, memusingkan, melelahkan, bla bla bla bla" dan.. Astaghfirullah... bagaimankah caraku mengusir semua prasangka yang menimbulkan kegelisahan dan mengundang rasa tak qonaah tersebut. Disamping itu semua............ masih ada berderet mimpi yang tak henti-henti melambaikan tangan, berdesakan, seolah-olah mereka tengah berbaris dengan formasi berantakan lalu memanggil-manggil diriku "Halo.. halo.. halo.. Hamidah!! Tengok sini.. sini.. sini.. dan sini.. halo aku disini, kapan merealisasikan diriku.. halo... aku lelah mengantri lho!!!!" 
Hahhhhhh.. you know what i feel? yes.. like a roller coaster. 
Ya. aku adalah tipe orang yang well prepare, menyenangkan bagiku memiliki agenda dan target dalam hidup ini, ketimbang harus bangun tidur dan menjalani hari tanpa sebuah agenda, itu akan terasa melompong (kurasa). Tapi.. efek dari banyaknya agenda dan target, ternyata sukses membuatku...... entahlah. 

Sekarang, setidaknya masih ada beberapa hal yang ingin kurealisasikan:
1. Menyelesaikan laporan magang dan segera ujian
2. Sukses semester 6
3. Les TOEFL dan mendapatkan skor sesuai persyaratan di liburan semester depan
4. Membuat buku
5. Les keahlian dan kreatifitas
6. Mempersiapkan judul dan skripsi dengan sering-sering baca
7. and so on

Terkadang tak semua yang kita rencanakan akan berhasil dan berjalan sesuai keinginan, namun ingat, kita tak pernah tahu.. apa yang kita dapatkan itu sebuah musibah atau anugerah. Sehingga marilah mendekat kepada Allah, laksanakan semua agenda dan target, berdoa khusyuk dan memohon pertolongan, Insyaallah... semua akan tertata rapi, jauh jauh jauh lebih rapi dari yang kau bayangkan. Keep moving forward!/Hamidah 5 Februari 2015

22 Jan 2015

Assalamualaikum. Merhaba!
Wah.. sudah lama tak menulis. Lagi-lagi itu menjadi kalimat pembuka yang kupilih ketika menuliskan sesuatu di blogger ini. Hehehe but actually, i still remember bout you my lovely sebatangmimpi.
Sekarang aku sedang liburan semester ganjil, aku berlibur dengan menyenangkan, lebih menyenangkan daripada bertemu merlion di Singapura, atau berkunjung ke Pattaya Thailand. Kali ini aku berlibur di Kantor Pemerintahan Kabupaten Malang, liburan seru ku berjudul "Praktik Kerja Nyata" atau dalam bahasa slang nya disebut M-A-G-A-N-G. Heheh ini menghibur diri ceritanya -_-
sejak Senin lalu, 19 Januari 2015 syukur alhamdulillah aku berkesempatan magang disini. Dengan berbagai persiapan singkat dan perjalanan yang indah, mendaratlah diriku dengan selamat di Bagian Humas, sesuai dengan jurusanku di bangku kuliah.
Aku bertemu orang-orang baru, lingkungan baru, atmosfir baru dan segala kebaruan, kecuali satu: Bukan lokasi yang baru