6 Des 2014

Teknologi dan Ketergantungan kita

Ketergantungan pada teknologi, takkan mampu dipungkiri oleh siapapun dewasa kini. Sebab segala gerak gerik kehidupan, selalu bersentuhan langsung dengan teknologi.

Aku merasakan betapa tergantungnya diriku pada teknologi seperti handphone, salah satunya. Tadi siang, baru saja tablet ku kehilangan seluruh data yang termuat didalamnya, baik akun media sosial, kontak, data2 word maupun picture. Semuanya raib, and im feeling like... dont have anything again.
Bayangkan saja, jangankan nomor orang lain, nomor yg sedang kupakai saja aku tak tahu. Sehingga ketika tabletku nyala kembali dan aku kehilangan semua kontak orang orang, aku tak tahu harus kemana mencarinya.
Kuhela nafas panjang, betapa.. barangkali akan lebih indah jika setelah ini kubiasakan memback up data selulerku pada kertas tertulis yang nyata, buka digital.

We called it "Appearance"

Ya.. begitulah.. sebagaimana yang aku baca di buku ilmu komunikasi, pada awal aku menginjak bangku kampus. Buku tersebut dengan terang terangan mengatakan: berbahagialah wanita yang cantik, sebab mereka akan mendapatkan persepsi awal dari orang lain sebagai gadis yang berhati baik, menyenangkan, dan segala kepositivan yang lain.

Kenyataan nya, kita memang tinggal di dunia.. dimana yang nyata adalah yang utama. Kenyataan berwajah cantik, maka akan disukai. Kenyataan berdompet tebal, pun aku ditemani banyak orang.
Benar kurasa, jika dunia hanyalah hiasan, dimana esensi dan makna jauh berada di belakang tampilan.

Ktr, 6 desember 2014. Ketika mereka membicarakan gadis cantik yang masih belia dan menyenangkan
Disetiap tangan kita ada keajaiban. Hanya terkadang kita lupa tak mengarahkan nya pada pendar cahaya, sehingga kerlip keajaiban itu tak nampak berkilau.
Keep try! Nikmati setiap prosesmu menemukan 'pendar cahaya' tersebut, hingga jarimu akan basah dihujani kemilau keajaiban.

5 Des 2014

catatan malam ini

23:51 dan aku baru saja merebahkan tulang punggungku di atas tempat tidur. Hari yang cukup panjang bagi mahasiswi semester lima yang "nyambi" kerja demi mengais pengalaman.

Masih ada ledakan ledakan mimpi besar dalam rongga ku, membuatku sesekali sesak dan mengatur nafas yang terengah.

Baru saja aku pulang dari taping, beberapa masukan atas kesalahan kesalahan ku terus kucerna perlahan. Tentu saja akan kucoba memperbaikinya satu demi satu.
Masukan yang terkadang membangun namun tak jarang juga merobohkan.
Aku dongakkan kepala ke atap langit. Tergantung rembulan tak purnama disana, nyaris saja barangkali beberapa hari lagi ia akan sempurna.
Sudah lama tak kutemui bulan dirumahnya, barangkali sebab mendung yang tak henti menyampaikan salam dari hujan pada tanah dengan mesra.

Aku percaya, bulan sabit takkan selamanya, sebab purnama telah menanti tanggalnya.
Berdamailah dengan proses.. yang perlahan menjadikanmu dewasa..