6 Sep 2014

just post smthg

Memasuki awal bulan september, dan akhir dari liburan panjang 3 bulan, ini secara langsung menandakan bahwa semester lima sudah diambang pintu, hendak merosot masuk mulai senin depan.
Banyak pelajaran di bulan september ini. Kebahagiaan, kesedihan, haru, cita cita, dan pencarian jati diri yang tak kunjung usai.
Awal september lalu tepatnya tanggal 1, aku berkesempatan memulai hari kerja pertama ku sebagai reporter di salah satu televisi swasta di kota malang, memiliki pengalaman baru, bertemu orang orang baru dan... tentunya sangat menyenangkan sebab itu merupakan salah satu mimpiku beberapa tahun lalu.
Namun kemudian harus kuterima pesan dari ibuku malam itu, "Nak, nggak pulang?". Nyeri hatiku membaca pesan tersebut, hendak ku lompat ke kota sebelah yang jaraknya hanya beberapa belas kilometer saja itu.. hendak kuminta doraemon keluarkan pintu kemana saja nya, tapi.. tentu mustahil. Jika aku pulang, harus kuluangkan waktu kurang lebih satu jam perjalanan, sedangkan aku punya sederet agenda kerja baruku yang mulai padat.
Beberapa alasan menjadikanku harus membalas pesan ibu dengan kalimat "maaf buk.. aku masih ada beberapa urusan. Ibuk sehat?"

Dan hingga larut malam, tiada jawab dari ibuku.
Hati ku kembali ngilu, ada desir hebat didalam dada. Ya Rabbi... andai aku tak perlu meniti karir, berusaha, dan lain sebagainya, tentu aku akan selalu bersama ibuku.
Sungguh tak tega rasa hati ini. Ibu dan bapakku adalah orangtua yang hebat, kedua orang tua yang membesarkan kelima anaknya dengan susah payah. Namun ketika memasuki usia senja, harus rela melepaskan anaknya menikah dibawa pria dan berkeluarga, melihat anaknya menuntut ilmu nun jauh dimana mana.
Sungguh, hanya aku dari keempat saudaraku, yang jarak tinggalnya paling dekat dengan bapak ibu, hingga akulah yang otomatis harus selalu standby untuk keduanya.

Esok pagi nya pukul enam, ada telepon masuk dan.. suara bapak berdengung dari sebrang
 "Ibu masuk UGD" sontak hatiku pecah, kumaki diriku, kusalahkan semua alasan egoisku semalam, kukemas barang sembari bercucur air mata. Aku melangkah dan motorku berkendara cukup kencang pagi itu.


Kini
Saat aku menuliskan postingan ini melalui handphoneku, aku tengah menghabiskan malam minggu disamping kasur ibu di rumah sakit. Mendampingi ibu yang tangannya dialiri selang infus,
Aku
Berusaha sebaik mungkin menjadi anakmu, Bu. Sebab aku sadar, belum pula kusanggup tanpa nasihat dan segala cericau yang kadang penuh sesak di telingaku. Namun sungguh.. aku belum cukup dewasa tanpa mu.