28 Agt 2014

Perempuan ku

Teruntuk calon suami dan calon bapak dari anak anakku
Tak layak mungkin jika seorang perempuan menulis surat cinta lebih dulu.
Bukankah aku dan kaum hawa lainnya seolah ditakdirkan untuk menunggu?
Menunggu waktu, menunggu pinanganmu, menunggu tiap tiap pesan singkat dan dering telpon yang mendarat di handphone ku, menunggu dan menyimak kalimat ijab kabul yang kau ucap dalam satu tarikan nafasmu.
Ah, menunggu..
Wahai suamiku, tiap letih dan usaha ini kupersembahkan untuk masa depan ku dan kamu, masa depan anak anak kita, masa depan rumah tangga yang kita bina.

Tak sopankah kalimatku? Aku 'hanya' seorang wanita, pamali mengatakan begitu. Itu kan yang sedang kau bayang dalam pikirmu.

Kurasa halal seorang perempuan mengatakan demikian. Perempuan memang diciptakan untuk menunggu, tapi hanya menunggu beberapa bagian saja, bukan semuanya.
Kurasa sah jika wanita berkarir, berusaha, bekerja, bahkan memimpin. Kelak bukankah para perempuan akan ikut memimpin anak anak nya? Memimpin suaminya yang terkadang mungkin lalai?
Perempuan ada bukan hanya untuk bernyawa kemudian melayani keluarga. Perempuan diberi ruh untuk kemudian berkiprah dan berkarya, memberi contoh maha luar biasa kepada buah hati tercinta, menunjukkan pada suaminya bahwa ada wanita hebat yang selalu berdiri satu shaf dibelakang nya.
/Hamidah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BIG BIG thanks to you :)) silahkan beri komentar dan berkunjung kembali kawan. *hamidahsemi*