28 Agt 2014

Perempuan ku

Teruntuk calon suami dan calon bapak dari anak anakku
Tak layak mungkin jika seorang perempuan menulis surat cinta lebih dulu.
Bukankah aku dan kaum hawa lainnya seolah ditakdirkan untuk menunggu?
Menunggu waktu, menunggu pinanganmu, menunggu tiap tiap pesan singkat dan dering telpon yang mendarat di handphone ku, menunggu dan menyimak kalimat ijab kabul yang kau ucap dalam satu tarikan nafasmu.
Ah, menunggu..
Wahai suamiku, tiap letih dan usaha ini kupersembahkan untuk masa depan ku dan kamu, masa depan anak anak kita, masa depan rumah tangga yang kita bina.

Tak sopankah kalimatku? Aku 'hanya' seorang wanita, pamali mengatakan begitu. Itu kan yang sedang kau bayang dalam pikirmu.

Kurasa halal seorang perempuan mengatakan demikian. Perempuan memang diciptakan untuk menunggu, tapi hanya menunggu beberapa bagian saja, bukan semuanya.
Kurasa sah jika wanita berkarir, berusaha, bekerja, bahkan memimpin. Kelak bukankah para perempuan akan ikut memimpin anak anak nya? Memimpin suaminya yang terkadang mungkin lalai?
Perempuan ada bukan hanya untuk bernyawa kemudian melayani keluarga. Perempuan diberi ruh untuk kemudian berkiprah dan berkarya, memberi contoh maha luar biasa kepada buah hati tercinta, menunjukkan pada suaminya bahwa ada wanita hebat yang selalu berdiri satu shaf dibelakang nya.
/Hamidah

aku layaknya (untuk) kamu

Aku banyak mengeluh
Aku bahkan terlalu sering merajuk
Aku menakutkan banyak hal yang belum pula terjadi
Kita memang bagaikan alexandria dan jawa, jauh terpisah samudra dan benua
Kau dewasa dan luhur perangainya
Optimis dan rendah hati
Dimana letak cacatmu, kau bahkan anak muda dengan segudang prestasi dan senantiasa dialiri doa doa dari banyak manusia.
Sedang aku, mengapa hanya untuk satu agenda di esok sore saja berpikir mati matian, berencana hingga gila..
Disaat yang bersamaan pula, kau bahkan nyaris siap dengan segala yang akan terjadi beberapa tahun kedepan. Jiwa mu besar, anak muda. Bukankah aku akan segera menjadi demikian pula?

Catatan sore ini: Hujan

Hujan bukanlah saat untuk marah.
Hujan justru waktu yang tepat untuk berbagi.
Berbagi payung kepada yang tertimpa deras.
Berbagi hangat kepada jari yang mengeriput kedinginan.
Berbagi teduh kepada yang sama-sama cemas menunggu di emperan toko.
Atau mungkin,
Berbagi permen jahe kepada bibir yang mulai pucat.

Hujan adalah sebagaimana air menguap kelangit dan merasa berderajat.
Namun hujan juga sebagaimana harus kembali mengebumi bersama tanah dan merendah.

Catatan hujan sore ini
Hujan sore ini jatuh menimpa ujung sepatu

Tarik nafas panjang

Kutarik nafas panjang
Tak coba untuk kuhembuskan
Ingin kumampatkan
Biar membeku.
Biar tak mudah lagi terasa hangat oleh temaram bohong bohongan.
Kemudian terasa gumpalan sampah bercampur riak hendak menyembur, memuntahkan segala keluh dan kecewa
Apalah daya Tuhan..
Aku kehilangan keberanianku berhembus.

Mie Instant inspirasi

Masih lekat betul diingatan, kala itu kira kira aku masih duduk dibangku TK atau SD awal, makanan berbungkus plastik berwarna warni itu sungguh menjadi makanan yang enak sekali.
Mungkin dua bulan sekali aku merasakan makanan yang kutahu bernama mie instant tersebut. Dulu ku kira ibu tak pernah membelikan dan memasakkan nya untuk kami, karena harga mie instant itu mahal. Namun, kini aku tahu alasan kuat ibu mengapa makanan lezat itu tak selalu ada walau aku sangat menyukainya, hal itu bukan karena harga. Sebab, harga mie yang hanya butuh waktu 3 sampai 5 menit saja untuk memasaknya itu sama sekali tak mahal. Alasannya karena makanan instant itu bukanlah makanan yang sehat jika dikonsumsi berlebihan dan terus menerus. Ah.., ibuku memang numero uno, tahu betul apa yang baik untuk anak anak dan keluarga tercinta. Ibarat lagu posyandu yang bersenandung "semasa aku bayi slalu diberi asi, makanan bergizi dan imunisasi" ibuku did it well. Kelak jika aku menjadi seorang ibu i'll do like what you did mom, bahkan kalau bisa lebih baik lagi... amin.
Dan... mie instant itu ternyata kini sudah berubah rasa. Entahlah, apa memang kualitasnya dan rasa mie nya yang memburuk atau lidahku yang sudah bosan memakan mie instant tiap hari karena malas masak dan malas makan nasi.
Terkadang miris juga, mengurus diriku sendiri saja malas sampai sampai drop sebulan sekali itu nyaris rutin, bagaimana menjadi ibu dan mengurus anak anak ku kelak? Berubah! Itu jawabannya. Berubah menjadi lebih baik lagi!

27 Agt 2014

Cukup aku, Jangan kalian!

Senin, 4 agustus 2014 (sedikit terlambat kuposting tulisan ini, sebab sebelumnya kusimpan saja di memo handphone)

Ini adalah awal bulan agustus yang semoga berfaedah untukku dan orang orang sekelilingku.
Alhamdulillahirabbilalamin, hari ini adalah hari pertamaku mengajar di sebuah sekolah sma islam yang dirintis orang tua ku dan teman temannya.
Sebenarnya, aku mengajar di sma tersebut hanya dalam waktu singkat, barang sebulan atau dua bulan saja, sebab hanya untuk menggantikan guru mata pelajaran yang tengah cuti melahirkan.
Namun.. hari ini adalah pengalaman berharga di usiaku yang ke 20 tahun. Mengenakan seragam keki berwarna kuning tua, kemudian memasangkan jilbab di kepalaku, mengendarai motor dan lima belas menit kemudian memasuki gerbang sebuah sekolah yang terbilang cukup sepi di hari senin pertama masuk sekolah setelah libur panjang lebaran.
Kutarik nafas panjang, berharap segala keberkahan dan kebaikan mengiringi setiap langkah langkah ini. Sebab ada hal yang lebih penting dan mulia dari sebuah pengalaman yang dikejar kejar jiwa muda, yaitu semangat perjuangan.

Tak lama, aku pun segera menemui seorang guru yang sudah lebih dulu datang di ruang kantor. Beliau tengah membersihkan ruangannya sendiri, sebab seperti yang telah ku sebutkan: ini adalah perjuangan, sehingga tak ada pejuang yang bermalas-malas. Pejuang tak boleh manja meminta tukang sapu membersihkan kantornya, sebab gajinya sendiri bulan lalu bahkan belum pula turun dan dapat dinikmati.
Setelah membantu membersihkan ruang guru, aku menemui murid-murid yang juga disibukkan di hari pertama masuk sekolah. Mereka menyapu ruang ruang kelas sembari bersenda gurau dengan rekan. Melebur rindu yang menggumpal setelah berminggu minggu tak bersua.

Segera setelah kelas-kelas bersih, para murid kelas 1 hingga kelas 3 pun diarahkan menuju ruangan yang paling besar, kemudian mereka mendapatkan wejangan wejangan mengenai kurikulum 2013 sebagai acuan terbaru, juga mengenai peraturan peraturan sekolah yang diperketat.
Sembari menyimak pula apa yang tengah disampaikan bapak guru yang saat itu menjadi rekan ku, aku memandangi satu persatu wajah murid murid itu, yang sejatinya usia mereka hanya selisih dua sampai tiga tahun lebih muda dariku.
Oh... mereka sungguh muda.. anak anak muda... aku juga pernah menjadi mereka, duduk diam diatas bangku bangku kayu yang kaku, kemudian mendengar petuah petuah guru yang dulu aku sebut kolot dan membosankan. Oh... mereka sungguh muda, bahkan aku masih ingat betul pernah menjadi remaja remaja berseragam abu abu putih seperti mereka, aku pernah menjadi seperti mereka yang merasa mulai dewasa dan paling benar. Ya.. beberapa tahun yang lalu aku adalah mereka, dan aku menyesali masa masa itu.

Kuamati lagi satu persatu murid murid itu, mereka cantik, mereka hitam, mereka pendek, tinggi, para gadis berjilbab, para lelaki berambut cepak, beberapa yang lain rambutnya panjang bergaya anak band. Menyedihkan... menyenangkan... kasihan...
Beberapa rasa tiba tiba serentak beradu dalam batinku, hingga tak mampu menciptakan mimik muka yang menarik di wajahku pagi itu.

Aku ingat betul.... justru karena aku ingat betul pernah menjadi manusia setengah setengah seperti mereka, justru karena aku tau betapa merugi membuang masa sma hanya dengan bermain main atau sibuk gengsi dan gaya belaka, justru itu aku tau.. aku terlalu tau hingga kini aku telah sadar.. betapa banyak kutumpahkan waktuku diperjalanan dengan sia sia, betapa aku pernah lama sekali mendholimi diriku sendiri... Karena itulah aku merasa cukup aku yang pernah begitu, jangan kalian.
Aku ingin kalian sadar, murid murid manisku.., bahwa percuma sibuk dengan kawan, lawan, suka palsu, main main, dan haha hihi mu itu... percuma.. sungguh lebih baik kau rintis masa depan dan kau bangun istana mimpimu, hingga saat dewasa yang sesungguhnya telah tiba.. kau tak merasa kosong, kau tak melompong.

Berhentilah menipu orang lain terlebih menipu dirimu, berhenti murid murid sayangku.. cukup aku... cukup aku sebagai gurumu kali ini, yang pernah merasa sia sia di masa lalu, jangan kalian./ Hamidah 08:18 pm

Agustus yang tertinggal

Nanti jam 2 dini hari, saudara dekatku hendak menempuh perjalanan ke surabaya untuk selanjutnya terbang ke pulau sebrang. Menyelip diantara dedaunan hutan dan berdamai dengan alam juga hewan.

Betapa. Kehidupan memang begitu memilukan.
Betapa. Takdir sungguh menakjubkan.
Banyak kejutan kejutan.
Aku akan sangat sangat merindukan kalian, paklek ku, bulek ku, keponakan2 ku yang manis dan tampan ah... semuanya.

Jika Allah menghendaki aku magang di tanah sebrang, tentu saja akan kusempatkan bertandang, membawa kabar, membawa oleh oleh, dan membawa rindu dari tanah jawa yang takkan kering sampai kapanpun.
Semoga Allah memberkahi dan melindungi setiap perjalanan yang kita tempuh masing masing.
04 Agustus 2014/ 20:36

Kamar 5 Tahun

Sudah hampir lima tahun ada di kamar ini
Kamar yang jika hidup, pasti akan dengan fasih menceritakan segala perubahan pada diriku
Kamar yang melelapkanku dalam berbagai macam mimpi
Kamar yang tau betul isak tangisku kala mengadu pada Yang Maha Kuasa.
Kamar yang tak begitu luas. Kamar yang tiba tiba menyadarkanku bahwa waktu bermaraton sungguh cepat
Kamar yang pernah bergonta ganti gaya
Pernah berubah warna dan tata
Kamar yang pernah gelap, pernah redup, namun juga pernah sangat terang.
Kamar yang sungguh tak tahu, kapan akan benar benar kutinggalkan.

Hujan

Hujan adalah saat dimana kemunafikan manusia terungkap ke permukaan.
Mereka sebut hujan itu indah, hujan itu sejuk, hujan adalah anugerah.
Namun mereka mengumpat, mencaci, dan menghujat kala air tumpah dari pelataran langit dan menghujani baju baju setengah kering di jemuran, kala air mengubah halaman menjadi kubangan lumpur sapi madura, dan kala hujan menyerbu segenap rasa malas untuk beranjak dan bergerak.

Hujan adalah pujian, cacian, dan kemunafikan.

22 Agt 2014

Jenuh. Anybody can drag me to another place? 
Akhir akhir ini aku banyak tuntutan dr lingkunganku. Harus begini dan begitu. Kenapa hidup banyak sekali aturan? Saat saat seperti ini aku hanya ingin lari sejenak dari hiruk pikuk yang lama lama mencekik dan menyulitkan aliran nafas. 
Hash! Andai aku bisa pulang kerumah dan menumpah ruahkan segala keluh pada ibu. Sungguh takkan ada yang lebih indah selain berdamai dengan keadaan disaat saat seperti ini.