20 Mei 2014

Jaga slalu hatimu



Sekali-kali kembali nostalgia dengan lagu anak muda yang beberapa tahun lalu cukup booming ini, boleh lah ya..
Dulu, jika kau pernah mendengar sebuah grup band bernama "seventeen" inilah salah satu judul lagunya yang membuatku berpikir lebih dalam.
Lagu yang berdurasi hampir 5 menit ini secara keseluruhan bercerita tentang seseorang yang berpesan kepada orang yang spesial dalam hidupnya, untuk senantiasa menjaga hati. Tentu saja dalam penafsiran kebanyakan anak muda, "jaga slalu hatimu" disini dimaknai berupa menjaga hatinya agar selalu setia pada pasangan, dan tidak membuka hati untuk laki-laki lain.

Namun inilah yang kusebut berpikir lebih dalam, entah mengapa akhir akhir ini aku lebih suka memikirkan sesuatu itu secara melingkar. Bayangkan, jika "jaga slalu hatimu" dimaknai berupa menjaga hati agar senantiasa mencintai Allah Ta'ala, menjaga hati dari iri, menjaga hati dari dengki. Menjaga segala racun hati yang menodai niat baik, dan menjaga hati bagi seorang istri agar senantiasa tawadhu pada suaminya berapa pun jarak membentang.

Ternyata, makna menjaga hati disini tak sesederhana yang aku pikirkan dahulu ketika pertama kali mendengar lagu ini, mungkin kah begitu pula denganmu? :)
Selamat mengeksplor pengetahuan, dan selamat memaknai lebih dalam apa yang ada di tiap tiap kehidupan./ Hamidah 13 Mei 2014, 21:13

"kau jaga slalu hatimu, saat jauh dariku
tunggu aku kembali 
ku.. mencintaimu slalu, menyayangimu sampai akhir menutup mata"

Menulislah !

Mengikuti mata kuliah yang sama sekali tak pernah kuharapkan, kemudian memilih duduk dibangku paling belakang.
Bermesraan dengan kertas dan tinta, bukan untuk mencatat pelajaran, namun untuk memulai dunia kecil yang terlalu lama telah kutinggal dan kuabaikan tanpa sengaja.
Aku mencintai sastra sebagaimana Qais mencintai Laila, hingga jatuh sakit dan gila.
Aku mendambakan dunia sastra dan menginginkan untuk selalu dekat dengannya., sedekat mata dan sang alis di muka-muka pria berjubah.
Aku merasa merdeka, bebas, tanpa rumus bahkan mulai bisa meneriakkan kalimat "Persetan dengan jurnal dan etika-etika!"
http://weheartit.com/entry/116300461/
Aku bisa berontak, aku bisa memaki, aku bisa bercinta, bercumbu, dan merayu tanpa harus telanjang atau melakukan hal seronok lainnya.
Tak perlu membakar ban mobil ditengah jalanan poros Ibu Kota untuk meluapkan kecewa dan patah hatimu pada pemerintah yang tidak pernah setia sebagai pecinta.
Tak perlulah membuat poster-poster raksasa untuk menyuarakan gerutumu yang sekalipun tak pernah digubris penghianat-penghianat cinta rakyatnya!
Hanyalah selembar kertas yang kau perlukan, lengkap bersama pena dan otak segar berhujan ide. Tumpahlah, larilah, buanglah segala kekejian,
segala sampah rumpah dan kertas plastik yang menyumpal di sekujur tulangmu. Kembalilah menjadi segar bugar dengan menyulap kebencian menjadi karya.
Menulislah! Bacalah kehidupan dan Menulislah!

Bismillah mulai menulis kembali/  Hamidah 16 Mei 2014

8 Mei 2014

Hari yang melelahkan...
Mengikuti sebuah komunitas baca alquran sehari satu juz.
Pergi kekampus dan kuliah.
Ke 3 sekolah menyampaikan surat delegasi untuk acara duta radio.
Mengantar mbak ratih yang sakit migrain 1 minggu tak sembuh sembuh, ke rumah sakit aisyiyah, lalu karena dokternya sedang libur.. maka ke klinik umm.

4 Mei 2014

Seutuhnya ●

Menjadi "seutuhnya" itu memanglah indah.

Seutuhnya Jawa, kau akan bahagia dengan campursari nya yang bercerita tentang angliyak numpak prau layar, tentang tamasya hingga sore hari, dan tentang lambaian wit klopo yang serasa memanggilmu untuk segera merapat kembali ke darat.

Seutuhnya menjadi Indonesia, akan membuatmu bangga menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Tak sekedar mengangkat telapak tanganmu dan menempelkan ujungnya ke pelipis. Tapi lebih dari itu, kau akan bergidik mendengar lantunan hawa kemerdekaan yang bagai sihir terkandung dalam lirik "Indonesia Raya".

Seutuhnya menjadikan kita setia.
Tiada malu dengan apa, siapa, kenapa, bagaimana dia.
Seutuhnya, menjadikan kita TOTAL, mustahil mendua!

Hamidah/ latepost 1 april 2014/ #NP angliyak numpak prau layar