21 Apr 2014

Generasi yang dibungkam mulutnya dan haram bertanya

Hari ini aku ke pasar minggu kota malang, pasar yang hanya akan ada pada hari minggu pagi ini menjual berbagai macam barang dengan harga miring.
Ada satu cerita yang kubawa dari jalan jalan pagi yang membuat gerah itu..
Ketika ada seorang penjual mainan anak berupa tikus tikusan, katak, cicak, dan hewan hewan semacam itu yang berbentuk lentur sekali seperti jeli, jika mainan itu dilempar maka akan melentur seolah hendak pecah, tapi akan kembali lagi ke bentuk semula. Sontak beberapa anak kecil sibuk melongokkan wajahnya melihati mainan ajaib tersebut, jangan kan mereka yang masih kecil, aku dan kakakku yang sudah dewasa saja cukup terkesima melihatnya, dan inilah kalimat yang muncul dari seorang anak kecil laki laki berkaus lengan pendek.
Mungkin kini dia masih duduk di sd kelas 1 atau 2, "pak.. ini cara buat nya gimana?" Itulah pertanyaan sederhana darinya, sungguh sederhana bukan.
Bapak penjual mainan yang bertopi seperti bang ocit ala sctv itu pun menjawab "ya nggak buat, ini bapak juga beli" jawabnya enteng. Tatapan anak kecil itupun masih penuh tanya, dahinya mengkerut sedikit, tanda tanya masih menyeruak di kepalanya, tentu saja aku tau sebabnya, karena pertanyaannya tak membuahkan jawab.
Aku pun merenung sejenak, inilah generasi kita.. generasi kecil.. daun muda indonesia yang kelak memimpin bangsa. Mereka pandai, mereka cerdas, banyak pertanyaan pertanyaan hebat didalam benak, namun sekian banyak itu pula yang tak mendapatkan jawab.

Sadarkah, kita di didik untuk tidak bertanya. Kita di didik untuk tidak tahu asal mula, kita di cetak menjadi generasi yang suka praktis, apatis, dan tau final saja. Kita tak pernah diajari proses, yang penting adalah hasil. Generasi konsumen bukan produsen. Seperti halnya mainan tadi, andaikan si penjual bukanlah distributor akhir dari china atau manusia manusia berlabel luar negeri, andaikan si penjual tadi adalah produsen nya, maka tentu pertanyaan bocah kecil itu mudah terjawab, pertanyaan yang bisa membuahkan pengetahuan dan ilmu berharga. Siapa tahu anak kecil itu mampu berinovasi dan melahirkan ide lebih cemerlang, melakukan perbaikan terhadap produk yang sudah ada. Menyenangkan bukan. Jika sudah begini salah siapa? Sebenarnya aku tak benar benar ingin tahu siapa subjek yang salah, mungkin lebih tepat jika kita memperbaiki kesalahan yang sudah berlangsung cukup lama. Mari menciptakan generasi produktif yang inovatif dan berkualitas./Hamidah 20 april 2014, menjelang lahirnya pejuang yang membuka sekat sekat kebodohan di masyarakat pribumi, salam kemerdekaan yang hakiki RA. Kartini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BIG BIG thanks to you :)) silahkan beri komentar dan berkunjung kembali kawan. *hamidahsemi*