11 Feb 2014

Bahu Jalan

Lagi-lagi aku mengomentari benda benda mati yang membubuhkan bagian tubuh manusia sebagai kata penjelasnya.
Jika aku sempat menanyakan dimanakah letak leher langit jika ada yang biasa kita sebut kaki langit, kini aku menanyakan seberapa besar ukuran tubuh jalan raya, karena kemarin sore kala aku menunggu angkutan di pinggiran trotoar, aku mengamati bahu jalan yang nampak muram menyedihkan. 
Bahu jalan, dimana sampah-sampah menepi dari hembus laju bus kota yang tak pernah bisa santai.  
Bahu jalan, dimana aku berdiri menunggu motor-motor itu mau berbaik hati, memberi sedikit kesempatan pada ku untuk berpindah posisi ke sebrang jalan. 
Bahu jalan, rupanya juga tempat untuk bersandar sambil menangis pilu kala lelah hidup menghinggapi mu. 
Bahu jalan, mungkinkah bisa sama dengan bahu manusia?
Maukah ia menerima keluh, air mata, bahkan ingus kita?
Bahu jalan, semoga sebaik bahu-bahu manusia yang tulus menerima sandaran kawannya.
/Hamidah 10 Februari2014 Catatan perjalanan hari ini

buku anak smp itu berjudul "indahnya masa pubertas"

Siang ini ditengah-tengah liburan semester yang kuhabiskan di kampung halaman, aku harus ke Kota Malang untuk menyelesaikan urusan technical meeting mc. Seperti biasa, aku akan lebih memilih naik angkutan umum colt daripada bus. Kebetulan siang ini angkutan yang kunaiki penuh sesak dengan anak-anak berseragam yang baru pulang sekolah. Para pelajar itu nampak mengenakan baju putih dan bawahan berwarna putih pula, karena ini adalah hari senin. Di lengan sebelah kanan mereka ada sebuah badge bertuliskan "SMPN 4", tentu saja itu adalah sekolah dimana aku menempuh ilmu kurang lebih 5 tahun yang lalu. 
Ku amati saja muka-muka polos mereka, yang barangkali tak jauh beda dengan "hamidah 5 tahun lalu", hmmm aku mengulum senyum di bibir yang sengaja kutahan. 
Pelajar kecil berjilbab yang duduk bersebrangan denganku, bahkan masih menggunakan badge berwarna hijau dan tertera cukup besar angka VII Romawi disana, itu menunjukkan ia masih duduk di bangku kelas 7 atau 1 SMP. Ia memangku sebuah buku berjudul "Indahnya Masa Pubertas". 

Kali ini masih bisakah aku menahan senyum? Tentu saja judul di sampul buku itu membuatku kelimpungan karena berusaha menahan senyum didalam angkutan sesak ini. 
Aku pun berhasil menenangkan diri.
Pada awalnya aku memang menganggap judul buku itu cukup "konyol" dan bahkan "kontroversial", namun aku tiba-tiba termangu... mengeja kembali buku yang berbentuk seperti LKS (Lembar Kerja Siswa) yang kini masih diatas pangkuan bocah manis itu. 

Ya, bukankah masa pubertas memang indah. Bukankah masa-masa SMP seperti mereka memang menyenangkan? Berangkat sekolah pukul setengah tujuh, kemudian belajar hingga siang dan pulang. Tidur siang dan bangun berangkat mengaji ke TPQ lantas malamnya mengerjakan PR dan kembali bermimpi indah. Tidakkah kau merindukan schedule yang dulu kau anggap sedemikian monoton itu? 
Belum lagi jika hari minggu, pergi bermain kerumah teman dengan dalih mengerjakan tugas kelompok yang pada akhirnya justru berganti agenda menjadi sarana bermain dan bercerita. Berenang ke kolam renang umum yang tentu saja sangat akrab di telinga anak-anak kecil di Kepanjen. 
Tentu berbeda dengan sekarang, kau seorang mahasiswa yang harus berkejaran dengan jadwal tak menentu. Harus sibuk luar biasa hingga tengah malam bahkan sesekali tanpa tidur sedetikpun, namun kau juga tak boleh kaget kala harus menganggur tanpa kerjaan sama sekali hingga tiga bulan karena libur semester genap. 
Sekali lagi "indahnya masa pubertas" boleh jadi benar, masa itu memang indah, masa-masa mulai mengenal mana yang tampan dan masa dimana mulai malu-malu karena rasa suka terhadap lawan jenis.

Tapi, jangan tertipu kemasan, karena kebanyakan yang platinum otaknya akan jauh lebih memukau kala dewasa, ketimbang yang platinum wajahnya. Benar begitu bukan? :)
Hamidah 10Februari2014 #kisahangkutan

10 Feb 2014

Puisi (1)


Haruskah kata "apa kabar" yang pertama kutuliskan, untuk mengawali interaksi yg entah telah berapa lama tak lagi terjalin antara kita
Tidakkah sebaiknya aku mengawali ini dengan kalimat "selamat pagi cinta, the sun come to see your smile"
Kalimat yang selalu kuingat sebagaimana aku mengingat gosok gigi pagi
Bohong.
Mustahil.
Bohong dan mustahil aku tak merindu.
Sungguh dalam terjaga atau terpejamnya mataku adalah melihatmu.
Entah kenapa kau tiba tiba menjelma sungguh berharga.
Mungkin kau hanyalah sebotol air keruh, tapi kau berada tepat di hamparan gurun tandus
Maka sungguh kau adalah potongan surga yang jatuh ke bumi
Berlebihankah aku memujimu?
Sudahkah aku nampak seperti wanita linglung karena termankan rindu?
Ku coba menahan sesuatu yang terus memantul, seolah ada pegas yang hendak melompatkan hatiku hingga ia tanpa kontrol terus berusaha mencari degupmu.
Kucoba memadamkan sesuatu yang terus berkobar, otakku seolah meletup letup bak kembang api tahun baru, ia terus menerus memikirkan mu.
Entah kau mau tahu atau tidak, yang kini kurasakan adalah kecamuk yang menggebu
Aku masih sakit, jasmani dan rohaniku/Hamidah, januari

8 Feb 2014

Melangitkan doa



Selesai. Aku selesai menyimak habis-habisan dari akhir hingga awal
Aku membaca terbalik fragmen fragmen hidupmu yang kau selipkan lewat kata demi kata yang aku tak tahu kesungguhan dan kenyataan itu.
Nyatanya kita jauh.
Aku hanya pengintip yang tak hendak muncul kepermukaan,
Terus saja berdiam dibalik selimut kulit domb,a dan mencoba menghangatkan diri dari kemenggigilan ini.
Jika jodoh, takkan kemana, ingatlah Tuhan akan menghimpun segala yang terserak. 
Sejauh apapun jarak, bahkan andai seluruhnya beda tiada sama, jika Allah “Ya”, semua akan “Ya”.

“Stalking itu adalah siap tau masa lalunya dan tidak boleh ada kecewa setelahnya”

6 Feb 2014

"Menghimpun yang Terserak"


Menyatukan yang dua
Menunggalkan yang ganda
Dan menghapus penyekat
Merubah kata saya dan kamu menjadi kita
Membagi tak hanya yang gula tapi racun jua
Dunia dan akhirat, sampai tiada terhingga waktu berjalan. Sesungguhnya hanyalah akhlak yang baik yang mampu menjadikan kemanunggalan tersebut abadi dan barakah, bahagia dan sakinah.


"Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi ummat" -Doa Nabi Muhammad SAW pada pernikahan putri beliau Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib.

Melihat undangan pernikahan yang berdatangan, dan membaca kalimat ini dihalaman muka undangan. Ini memang bulan bulan ramai orang menikah. Kau kapan? Hahaha:))

5 Feb 2014

Rumah Tanpa Ibu

Rumah itu dingin
Rumah itu melompong
Bukan melompong dari benda, tapi melompong akan hangat
Sinar matahari yang menembus kaca, merobek tirai-tirai luush, kemudian menyeka sekujur sudut ruangan.
Debu-debu yang nampak seperti berlian lalu berkilau-kilau diterpa cahaya vertikal.
Rumah itu bukan rumah duka
Tapi rumah itu dingin.
Matahari tak bisa menggantikan hangat didalamnya yang jika dikenang teramat mengharukan.
Rumah itu kemudian menjadi hambar.
Tak ada suara sibuk didapur menggoreng camilan
Tak ada suara air kran mencuci wadah-wadah makanan
Tak ada bisik lirih membangunkan mata-mata kantuk yang malas.
Tak ada gesek sapu pada lantai, dan bahkan tak ada gertak sayang pada gadis-gadis mungil yang enggan berjamaah ke surau.
Rumah itu piatu,
Penghuni nya pun begitu.
Tanpa ibu.
Rengek merea seolah tak laku, takkan mampu mengembalikan sesuatu apapun itu.
Hanya ada lutut kurus yang terlipat dan didekap dengan erat.
Hanya ada bibir tipis yang memucat karena digigit kuat-kuat.
Semua takkan kembali, selamanya takkan lagi.
Sudah terlanjur semuanya terjadi.

puisi ini kubuat beberapa bulan yang lalu dan sempat mendekam lama di memo handphone ku. "Rumah Tanpa Ibu" ini terinspirasi dari kisah hidup saudara keponakan ku yang masih kecil-kecil dan harus piatu karena ibunya meninggal dunia. Kepergian ibunya yang mendadak tanpa ada tanda-tanda seperti sakit yang cukup lama, membuat mereka tentu terpukul hebat. 
Kini, kabar terbaru yang kudapat, mereka Alhamdulillah baik-baik saja. sudah bisa mandiri, memasak dan mencuci, sesekali masih dibantu Bapaknya yang usianya sudah mulai "sepuh". 
"Rumah Tanpa Ibu", itu bagaikan pagi tanpa matahari;(