6 Des 2014

Teknologi dan Ketergantungan kita

Ketergantungan pada teknologi, takkan mampu dipungkiri oleh siapapun dewasa kini. Sebab segala gerak gerik kehidupan, selalu bersentuhan langsung dengan teknologi.

Aku merasakan betapa tergantungnya diriku pada teknologi seperti handphone, salah satunya. Tadi siang, baru saja tablet ku kehilangan seluruh data yang termuat didalamnya, baik akun media sosial, kontak, data2 word maupun picture. Semuanya raib, and im feeling like... dont have anything again.
Bayangkan saja, jangankan nomor orang lain, nomor yg sedang kupakai saja aku tak tahu. Sehingga ketika tabletku nyala kembali dan aku kehilangan semua kontak orang orang, aku tak tahu harus kemana mencarinya.
Kuhela nafas panjang, betapa.. barangkali akan lebih indah jika setelah ini kubiasakan memback up data selulerku pada kertas tertulis yang nyata, buka digital.

We called it "Appearance"

Ya.. begitulah.. sebagaimana yang aku baca di buku ilmu komunikasi, pada awal aku menginjak bangku kampus. Buku tersebut dengan terang terangan mengatakan: berbahagialah wanita yang cantik, sebab mereka akan mendapatkan persepsi awal dari orang lain sebagai gadis yang berhati baik, menyenangkan, dan segala kepositivan yang lain.

Kenyataan nya, kita memang tinggal di dunia.. dimana yang nyata adalah yang utama. Kenyataan berwajah cantik, maka akan disukai. Kenyataan berdompet tebal, pun aku ditemani banyak orang.
Benar kurasa, jika dunia hanyalah hiasan, dimana esensi dan makna jauh berada di belakang tampilan.

Ktr, 6 desember 2014. Ketika mereka membicarakan gadis cantik yang masih belia dan menyenangkan
Disetiap tangan kita ada keajaiban. Hanya terkadang kita lupa tak mengarahkan nya pada pendar cahaya, sehingga kerlip keajaiban itu tak nampak berkilau.
Keep try! Nikmati setiap prosesmu menemukan 'pendar cahaya' tersebut, hingga jarimu akan basah dihujani kemilau keajaiban.

5 Des 2014

catatan malam ini

23:51 dan aku baru saja merebahkan tulang punggungku di atas tempat tidur. Hari yang cukup panjang bagi mahasiswi semester lima yang "nyambi" kerja demi mengais pengalaman.

Masih ada ledakan ledakan mimpi besar dalam rongga ku, membuatku sesekali sesak dan mengatur nafas yang terengah.

Baru saja aku pulang dari taping, beberapa masukan atas kesalahan kesalahan ku terus kucerna perlahan. Tentu saja akan kucoba memperbaikinya satu demi satu.
Masukan yang terkadang membangun namun tak jarang juga merobohkan.
Aku dongakkan kepala ke atap langit. Tergantung rembulan tak purnama disana, nyaris saja barangkali beberapa hari lagi ia akan sempurna.
Sudah lama tak kutemui bulan dirumahnya, barangkali sebab mendung yang tak henti menyampaikan salam dari hujan pada tanah dengan mesra.

Aku percaya, bulan sabit takkan selamanya, sebab purnama telah menanti tanggalnya.
Berdamailah dengan proses.. yang perlahan menjadikanmu dewasa..

4 Nov 2014

Apa Kabar

Ternyata sudah satu bulan aku tak menuliskan postingan apapun dalam blog ini.
Kevakuman di dunia maya adalah pertanda kesibukan luar biasa di dunia nyata. Begitupun sebaliknya.
Nyata nya, aku benar-benar bisa aktif diruang bertajuk sebatangmimpi ini hanya kala liburan panjang semester genap atau semester ganjil.
Namun kali ini aku hanya ingin menyampaikan kabarku, sayang..
Aku masih baik-baik saja, all is well sejauh ini. Aku masih sibuk dengan kuliah semester lima ku, dengan planning-planning kedepan tentang magang, karir, skripsi, kuliah s2, exchange, summer course, dan lain sebagainya.
Semoga Allah senantiasa mendengar doa makhluk berlumur dosa sepertiku :')
Amin allahumma amin.

1 Okt 2014

Duduk

Aku berniat memosting tulisan ini semalam, sebab momennya sunggu pas, yaitu akhir dari bulan september dan awal dari musim hujan. Ya.. kemarin 30 september adalah rintik hujan pertama yang ku tahu jatuh di tanah Malang. Sungguh.. musim hujan tentu memiliki banyak cerita menyenangkan :)

Minggu lalu, kaki kananku sekit sekali, selama berhari hari. Sudah kupijat pijat sendiri, sudah pula kuolesi balsem, dan berbagai cara lain kutempuh demi menghilangkan rasa linu yang tak kunjung reda.
Bahkan, aku sering menggantungkan kakiku di tembok, sembari merebahkan badan di kasur, beberapa orang mengatakan itu akan membantu meredakan nyeri.
Kaki yang sakit itu 'dipicu' oleh kebiasaan duduk ku yang mungkin kurang tepat. Kegiatan didalam ruangan kelas dan berbagai aktivitas seabrek lainnya memaksaku mau tak mau harus lebih banyak duduk, ketimbang berdiri atau jalan jalan.
Duduk, akan memuat berbagai macam gaya yang dapat menimbulkan makna makna. Misal, seorang laki-laki akan cenderung duduk dibangku dengan membuka lebar kaki nya, agar terkesan gagah dan manly. Terkadang laki-laki dewasa, juga akan duduk dibangku dengan menopangkan satu kakinya ke kaki yang lain hingga membentuk angka empat atau sudut lancip.
Nah.. begitupun dengan seorang wanita, yang memiliki gaya tersendiri dalam duduknya. Wanita kerap duduk dibangku dengan menopangkan salah 1 kakinya ke kaki yang lain, dengan posisi kaki merapat tertutup. Hal ini akan menimbulkan kesan anggun, feminim dan seterusnya. Hingga, saking lekatnya makna tersebut terhadap masing masing gaya duduk, bisa jadi seorang pria yang duduk dengan gaya wanita akan dianggap tidak keren, banci, dan lain sebagainya.

Aku, melakukan hal yang sama sebagai seorang wanita. Sebenarnya aku duduk dengan gaya wanita seperti yang dijelaskan diatas, bukan untuk mengesankan apa apa. Sebab, mungkin sudah lazimnya seorang wanita duduk demikian, maka secara alamiah aku melakukan hal yang sama, yaitu duduk dengan posisi kaki menopang pada salah satu kaki lainnya.
Karena terlalu sering melakukan posisi tersebut dalam dudukku. Walhasil kaki kananku pun sakit, linu, dan pegal tak reda reda.

Dari tragedi kaki sakit ini, membuatku merenung sesaat. Betapa, kaki saja bisa sakit jika ditimpa, kaki saja bisa pegal tak karuan jika harus menopang kaki yang lain, padahal mereka sepasang, sudah seharusnya beriringan dan saling membantu dalam segala hal. Bagaimana dengan manusia, yang walaupun berkasih sejatinya bukanlah benar benar sepasang. Bagaimana dengan manusia yang terkadang terlalu bergantung pada yang lain, terlalu menekan, terlalu menuntut dan lain sebagainya, bukankah lama kelamaan akan ada satu belah pihak yang merasa tersakiti? Merasa linu, ngilu, pegal dan lelah? Belajarlah dari filosofi sepasang kaki wanita yang tengah duduk. Belajarlah. Mari kita belajar, memahami, bijaksana, dan mandiri. / hamidah 27 september 2014

6 Sep 2014

just post smthg

Memasuki awal bulan september, dan akhir dari liburan panjang 3 bulan, ini secara langsung menandakan bahwa semester lima sudah diambang pintu, hendak merosot masuk mulai senin depan.
Banyak pelajaran di bulan september ini. Kebahagiaan, kesedihan, haru, cita cita, dan pencarian jati diri yang tak kunjung usai.
Awal september lalu tepatnya tanggal 1, aku berkesempatan memulai hari kerja pertama ku sebagai reporter di salah satu televisi swasta di kota malang, memiliki pengalaman baru, bertemu orang orang baru dan... tentunya sangat menyenangkan sebab itu merupakan salah satu mimpiku beberapa tahun lalu.
Namun kemudian harus kuterima pesan dari ibuku malam itu, "Nak, nggak pulang?". Nyeri hatiku membaca pesan tersebut, hendak ku lompat ke kota sebelah yang jaraknya hanya beberapa belas kilometer saja itu.. hendak kuminta doraemon keluarkan pintu kemana saja nya, tapi.. tentu mustahil. Jika aku pulang, harus kuluangkan waktu kurang lebih satu jam perjalanan, sedangkan aku punya sederet agenda kerja baruku yang mulai padat.
Beberapa alasan menjadikanku harus membalas pesan ibu dengan kalimat "maaf buk.. aku masih ada beberapa urusan. Ibuk sehat?"

Dan hingga larut malam, tiada jawab dari ibuku.
Hati ku kembali ngilu, ada desir hebat didalam dada. Ya Rabbi... andai aku tak perlu meniti karir, berusaha, dan lain sebagainya, tentu aku akan selalu bersama ibuku.
Sungguh tak tega rasa hati ini. Ibu dan bapakku adalah orangtua yang hebat, kedua orang tua yang membesarkan kelima anaknya dengan susah payah. Namun ketika memasuki usia senja, harus rela melepaskan anaknya menikah dibawa pria dan berkeluarga, melihat anaknya menuntut ilmu nun jauh dimana mana.
Sungguh, hanya aku dari keempat saudaraku, yang jarak tinggalnya paling dekat dengan bapak ibu, hingga akulah yang otomatis harus selalu standby untuk keduanya.

Esok pagi nya pukul enam, ada telepon masuk dan.. suara bapak berdengung dari sebrang
 "Ibu masuk UGD" sontak hatiku pecah, kumaki diriku, kusalahkan semua alasan egoisku semalam, kukemas barang sembari bercucur air mata. Aku melangkah dan motorku berkendara cukup kencang pagi itu.


Kini
Saat aku menuliskan postingan ini melalui handphoneku, aku tengah menghabiskan malam minggu disamping kasur ibu di rumah sakit. Mendampingi ibu yang tangannya dialiri selang infus,
Aku
Berusaha sebaik mungkin menjadi anakmu, Bu. Sebab aku sadar, belum pula kusanggup tanpa nasihat dan segala cericau yang kadang penuh sesak di telingaku. Namun sungguh.. aku belum cukup dewasa tanpa mu.

28 Agt 2014

Perempuan ku

Teruntuk calon suami dan calon bapak dari anak anakku
Tak layak mungkin jika seorang perempuan menulis surat cinta lebih dulu.
Bukankah aku dan kaum hawa lainnya seolah ditakdirkan untuk menunggu?
Menunggu waktu, menunggu pinanganmu, menunggu tiap tiap pesan singkat dan dering telpon yang mendarat di handphone ku, menunggu dan menyimak kalimat ijab kabul yang kau ucap dalam satu tarikan nafasmu.
Ah, menunggu..
Wahai suamiku, tiap letih dan usaha ini kupersembahkan untuk masa depan ku dan kamu, masa depan anak anak kita, masa depan rumah tangga yang kita bina.

Tak sopankah kalimatku? Aku 'hanya' seorang wanita, pamali mengatakan begitu. Itu kan yang sedang kau bayang dalam pikirmu.

Kurasa halal seorang perempuan mengatakan demikian. Perempuan memang diciptakan untuk menunggu, tapi hanya menunggu beberapa bagian saja, bukan semuanya.
Kurasa sah jika wanita berkarir, berusaha, bekerja, bahkan memimpin. Kelak bukankah para perempuan akan ikut memimpin anak anak nya? Memimpin suaminya yang terkadang mungkin lalai?
Perempuan ada bukan hanya untuk bernyawa kemudian melayani keluarga. Perempuan diberi ruh untuk kemudian berkiprah dan berkarya, memberi contoh maha luar biasa kepada buah hati tercinta, menunjukkan pada suaminya bahwa ada wanita hebat yang selalu berdiri satu shaf dibelakang nya.
/Hamidah

aku layaknya (untuk) kamu

Aku banyak mengeluh
Aku bahkan terlalu sering merajuk
Aku menakutkan banyak hal yang belum pula terjadi
Kita memang bagaikan alexandria dan jawa, jauh terpisah samudra dan benua
Kau dewasa dan luhur perangainya
Optimis dan rendah hati
Dimana letak cacatmu, kau bahkan anak muda dengan segudang prestasi dan senantiasa dialiri doa doa dari banyak manusia.
Sedang aku, mengapa hanya untuk satu agenda di esok sore saja berpikir mati matian, berencana hingga gila..
Disaat yang bersamaan pula, kau bahkan nyaris siap dengan segala yang akan terjadi beberapa tahun kedepan. Jiwa mu besar, anak muda. Bukankah aku akan segera menjadi demikian pula?

Catatan sore ini: Hujan

Hujan bukanlah saat untuk marah.
Hujan justru waktu yang tepat untuk berbagi.
Berbagi payung kepada yang tertimpa deras.
Berbagi hangat kepada jari yang mengeriput kedinginan.
Berbagi teduh kepada yang sama-sama cemas menunggu di emperan toko.
Atau mungkin,
Berbagi permen jahe kepada bibir yang mulai pucat.

Hujan adalah sebagaimana air menguap kelangit dan merasa berderajat.
Namun hujan juga sebagaimana harus kembali mengebumi bersama tanah dan merendah.

Catatan hujan sore ini
Hujan sore ini jatuh menimpa ujung sepatu

Tarik nafas panjang

Kutarik nafas panjang
Tak coba untuk kuhembuskan
Ingin kumampatkan
Biar membeku.
Biar tak mudah lagi terasa hangat oleh temaram bohong bohongan.
Kemudian terasa gumpalan sampah bercampur riak hendak menyembur, memuntahkan segala keluh dan kecewa
Apalah daya Tuhan..
Aku kehilangan keberanianku berhembus.

Mie Instant inspirasi

Masih lekat betul diingatan, kala itu kira kira aku masih duduk dibangku TK atau SD awal, makanan berbungkus plastik berwarna warni itu sungguh menjadi makanan yang enak sekali.
Mungkin dua bulan sekali aku merasakan makanan yang kutahu bernama mie instant tersebut. Dulu ku kira ibu tak pernah membelikan dan memasakkan nya untuk kami, karena harga mie instant itu mahal. Namun, kini aku tahu alasan kuat ibu mengapa makanan lezat itu tak selalu ada walau aku sangat menyukainya, hal itu bukan karena harga. Sebab, harga mie yang hanya butuh waktu 3 sampai 5 menit saja untuk memasaknya itu sama sekali tak mahal. Alasannya karena makanan instant itu bukanlah makanan yang sehat jika dikonsumsi berlebihan dan terus menerus. Ah.., ibuku memang numero uno, tahu betul apa yang baik untuk anak anak dan keluarga tercinta. Ibarat lagu posyandu yang bersenandung "semasa aku bayi slalu diberi asi, makanan bergizi dan imunisasi" ibuku did it well. Kelak jika aku menjadi seorang ibu i'll do like what you did mom, bahkan kalau bisa lebih baik lagi... amin.
Dan... mie instant itu ternyata kini sudah berubah rasa. Entahlah, apa memang kualitasnya dan rasa mie nya yang memburuk atau lidahku yang sudah bosan memakan mie instant tiap hari karena malas masak dan malas makan nasi.
Terkadang miris juga, mengurus diriku sendiri saja malas sampai sampai drop sebulan sekali itu nyaris rutin, bagaimana menjadi ibu dan mengurus anak anak ku kelak? Berubah! Itu jawabannya. Berubah menjadi lebih baik lagi!

27 Agt 2014

Cukup aku, Jangan kalian!

Senin, 4 agustus 2014 (sedikit terlambat kuposting tulisan ini, sebab sebelumnya kusimpan saja di memo handphone)

Ini adalah awal bulan agustus yang semoga berfaedah untukku dan orang orang sekelilingku.
Alhamdulillahirabbilalamin, hari ini adalah hari pertamaku mengajar di sebuah sekolah sma islam yang dirintis orang tua ku dan teman temannya.
Sebenarnya, aku mengajar di sma tersebut hanya dalam waktu singkat, barang sebulan atau dua bulan saja, sebab hanya untuk menggantikan guru mata pelajaran yang tengah cuti melahirkan.
Namun.. hari ini adalah pengalaman berharga di usiaku yang ke 20 tahun. Mengenakan seragam keki berwarna kuning tua, kemudian memasangkan jilbab di kepalaku, mengendarai motor dan lima belas menit kemudian memasuki gerbang sebuah sekolah yang terbilang cukup sepi di hari senin pertama masuk sekolah setelah libur panjang lebaran.
Kutarik nafas panjang, berharap segala keberkahan dan kebaikan mengiringi setiap langkah langkah ini. Sebab ada hal yang lebih penting dan mulia dari sebuah pengalaman yang dikejar kejar jiwa muda, yaitu semangat perjuangan.

Tak lama, aku pun segera menemui seorang guru yang sudah lebih dulu datang di ruang kantor. Beliau tengah membersihkan ruangannya sendiri, sebab seperti yang telah ku sebutkan: ini adalah perjuangan, sehingga tak ada pejuang yang bermalas-malas. Pejuang tak boleh manja meminta tukang sapu membersihkan kantornya, sebab gajinya sendiri bulan lalu bahkan belum pula turun dan dapat dinikmati.
Setelah membantu membersihkan ruang guru, aku menemui murid-murid yang juga disibukkan di hari pertama masuk sekolah. Mereka menyapu ruang ruang kelas sembari bersenda gurau dengan rekan. Melebur rindu yang menggumpal setelah berminggu minggu tak bersua.

Segera setelah kelas-kelas bersih, para murid kelas 1 hingga kelas 3 pun diarahkan menuju ruangan yang paling besar, kemudian mereka mendapatkan wejangan wejangan mengenai kurikulum 2013 sebagai acuan terbaru, juga mengenai peraturan peraturan sekolah yang diperketat.
Sembari menyimak pula apa yang tengah disampaikan bapak guru yang saat itu menjadi rekan ku, aku memandangi satu persatu wajah murid murid itu, yang sejatinya usia mereka hanya selisih dua sampai tiga tahun lebih muda dariku.
Oh... mereka sungguh muda.. anak anak muda... aku juga pernah menjadi mereka, duduk diam diatas bangku bangku kayu yang kaku, kemudian mendengar petuah petuah guru yang dulu aku sebut kolot dan membosankan. Oh... mereka sungguh muda, bahkan aku masih ingat betul pernah menjadi remaja remaja berseragam abu abu putih seperti mereka, aku pernah menjadi seperti mereka yang merasa mulai dewasa dan paling benar. Ya.. beberapa tahun yang lalu aku adalah mereka, dan aku menyesali masa masa itu.

Kuamati lagi satu persatu murid murid itu, mereka cantik, mereka hitam, mereka pendek, tinggi, para gadis berjilbab, para lelaki berambut cepak, beberapa yang lain rambutnya panjang bergaya anak band. Menyedihkan... menyenangkan... kasihan...
Beberapa rasa tiba tiba serentak beradu dalam batinku, hingga tak mampu menciptakan mimik muka yang menarik di wajahku pagi itu.

Aku ingat betul.... justru karena aku ingat betul pernah menjadi manusia setengah setengah seperti mereka, justru karena aku tau betapa merugi membuang masa sma hanya dengan bermain main atau sibuk gengsi dan gaya belaka, justru itu aku tau.. aku terlalu tau hingga kini aku telah sadar.. betapa banyak kutumpahkan waktuku diperjalanan dengan sia sia, betapa aku pernah lama sekali mendholimi diriku sendiri... Karena itulah aku merasa cukup aku yang pernah begitu, jangan kalian.
Aku ingin kalian sadar, murid murid manisku.., bahwa percuma sibuk dengan kawan, lawan, suka palsu, main main, dan haha hihi mu itu... percuma.. sungguh lebih baik kau rintis masa depan dan kau bangun istana mimpimu, hingga saat dewasa yang sesungguhnya telah tiba.. kau tak merasa kosong, kau tak melompong.

Berhentilah menipu orang lain terlebih menipu dirimu, berhenti murid murid sayangku.. cukup aku... cukup aku sebagai gurumu kali ini, yang pernah merasa sia sia di masa lalu, jangan kalian./ Hamidah 08:18 pm

Agustus yang tertinggal

Nanti jam 2 dini hari, saudara dekatku hendak menempuh perjalanan ke surabaya untuk selanjutnya terbang ke pulau sebrang. Menyelip diantara dedaunan hutan dan berdamai dengan alam juga hewan.

Betapa. Kehidupan memang begitu memilukan.
Betapa. Takdir sungguh menakjubkan.
Banyak kejutan kejutan.
Aku akan sangat sangat merindukan kalian, paklek ku, bulek ku, keponakan2 ku yang manis dan tampan ah... semuanya.

Jika Allah menghendaki aku magang di tanah sebrang, tentu saja akan kusempatkan bertandang, membawa kabar, membawa oleh oleh, dan membawa rindu dari tanah jawa yang takkan kering sampai kapanpun.
Semoga Allah memberkahi dan melindungi setiap perjalanan yang kita tempuh masing masing.
04 Agustus 2014/ 20:36

Kamar 5 Tahun

Sudah hampir lima tahun ada di kamar ini
Kamar yang jika hidup, pasti akan dengan fasih menceritakan segala perubahan pada diriku
Kamar yang melelapkanku dalam berbagai macam mimpi
Kamar yang tau betul isak tangisku kala mengadu pada Yang Maha Kuasa.
Kamar yang tak begitu luas. Kamar yang tiba tiba menyadarkanku bahwa waktu bermaraton sungguh cepat
Kamar yang pernah bergonta ganti gaya
Pernah berubah warna dan tata
Kamar yang pernah gelap, pernah redup, namun juga pernah sangat terang.
Kamar yang sungguh tak tahu, kapan akan benar benar kutinggalkan.

Hujan

Hujan adalah saat dimana kemunafikan manusia terungkap ke permukaan.
Mereka sebut hujan itu indah, hujan itu sejuk, hujan adalah anugerah.
Namun mereka mengumpat, mencaci, dan menghujat kala air tumpah dari pelataran langit dan menghujani baju baju setengah kering di jemuran, kala air mengubah halaman menjadi kubangan lumpur sapi madura, dan kala hujan menyerbu segenap rasa malas untuk beranjak dan bergerak.

Hujan adalah pujian, cacian, dan kemunafikan.

22 Agt 2014

Jenuh. Anybody can drag me to another place? 
Akhir akhir ini aku banyak tuntutan dr lingkunganku. Harus begini dan begitu. Kenapa hidup banyak sekali aturan? Saat saat seperti ini aku hanya ingin lari sejenak dari hiruk pikuk yang lama lama mencekik dan menyulitkan aliran nafas. 
Hash! Andai aku bisa pulang kerumah dan menumpah ruahkan segala keluh pada ibu. Sungguh takkan ada yang lebih indah selain berdamai dengan keadaan disaat saat seperti ini. 

2 Jul 2014

Pemimpin Gaduh

 







Tiap langkahnya ada sorot kamera wartawan
Beberapa jengkal dari mulutnya ada mic dijorokkan
Tiap gerak tangannya menginstruksi, ada tatapan mata penuh perhatian.
Tiap kebijakan, di aminkan dan dilaksanakan.
Benarkah ia pemimpin sejati? Pemimpin yang dekat dengan rakyat dan rajin turun ke got dan gorong gorong warga?
Benarkah yang demikian dikatakan baik hati? Sudah berwajah pribumi, nasionalis, islami pula.
Mendadak ibu pertiwi menutup telinganya tak nyaman, karena pekik kini menjadi teriak, karena percakapan kini menjadi kegaduhan luar biasa.
Indonesia tak melulu membutuhkan gaduh, rasional lah dalam berpikir dan memutuskan untuk bergaduh.
Indonesia tak butuh rakyat gaduh.
Kembalilah santun dan berwibawa dalam bercakap, pemimpin baik bukanlah pemimpin yang haus gaduh./ Hamidah2014

20 Jun 2014

Benturan kecil dan Benturan besar

Baru saja kepalaku terbentur...


Saat ini, saat aku menuliskan kalimat kalimat ini, baru 2 menit yang lalu kepalaku terbentur tembok. Tentu saja rasanya sakit, masih sama sakitnya sebagaimana saat kecil dahulu kepalaku sering terbentur.
Dahulu, ketika masih kecil aku "terlalu" sering terbentur, entah kepala, kaki, tangan, atau yang lainnya. Hal itu disebabkan oleh berbagai hal yang terkadang tak masuk akal, seperti kecerobohan dan gerak yang terlalu heboh sehingga kurang kontrol.
Sekarang, jika sudah besar dan aku masih saja terbentur, tentu alasannya juga sama, yaitu "kecerobohan".


Sesungguhnya tiap manusia yang beranjak dari kanak ke dewasa, telah banyak sekali berubah. Mengalami metamorfosis bak ulat melata yang mendadak bersayap dan terbang. Namun.. berbagai hal yang berkaitan dengan ketidaksempurnaan manusia masih tak bisa dihindari. Selamanya akan ada saja kekurangan kita, sedewasa apapun itu dan setua apapun nantinya. Sehingga hal-hal seperti kecerobohan dan kelalaian akan sangat mungkin untuk terjadi. Hal itulah yang menjadikan kita harus hati-hati, bijak, dan teliti menghadapi benturan masa kecil ataupun "benturan" masa dewasa.

19 Jun 2014

The Fish and A Ring


;
sumber: weheartit.com/entry/80339964/
I had a story titled
"The Fish And A Ring" 
this story tell us about King that can guess what will happen in the future, or maybe its known with a fortune teller. 


One day, the King seeing something about what will happen with his son, that still child. and he is very surprised and dismey (worry) because in the future his son will marry with a poor girl. 

so the king decided to go tho the poor girl's house. after found the home, he saw a doleful  (very sad; murung) man in front of the door. so he asked to the man, "What happened to you, why you look so doleful?"

"Its because i had a six child, and i cant give them some food." said the man.

"Dont be sad again, i will bring your last child, and i will keep your child. dont worry, i promise" The king looks very wise.

of course the old man happy when hear that, finally he give his child.

but, when the king pass the river, he throw away the child, because he dont want his son married with the poor girl in the future.

Nice fate happened to the poor child, he floating in the river and a fisherman found her. 

then, someday when the king going to fishing in the river with his friend, they are very thirsty, and then stopped in fisherman hut.

The King very surprised when know a girl that he throw away in the past still alive. so he planning to throw the girl to the forest far away from the city. 

the next day, the king's son going to hunting animals in the forest, and the fate happened, he meet with the poor girl, and falling in love. he wed the girl, and live happily ever after.

(I get this story from digital book stories in "Play Store", so if you wanna read another story, grab that fast! enjoy)

17 Jun 2014

Karena-mu harus ku naiki rembulan

Malam ini aku menemukan lagi rasi bintang pari dilangit selatan, masih sama persis tiada beda sebagaimana kala aku masih duduk dibangku sekolah menengah pertama.
Ya. Rasi bintang pari yang selalu nampak paling jelas dari yang lain.
Terkadang.. sekali-kali aku ingin berkesempatan menengok rasi bintang orion sang pemburu di langit barat.
Tentu saja dengan segenap kepercayaanku pada Tuhan,bahwa Ia menciptakan langit nampak sama dibelahan bumi manapun.
Menatap orion di langit selatan seolah bisa menyampaikan salamku pada seorang mahasiswa gila ilmu jauh beratus mil diujung eropa sana.
Ah... andai aku bisa kesana esok atau lusa, barangkali aku tak perlu bantuan orion yang rupanya sudah sibuk menyampaikan salam-salam para pecinta yang terpisah samudera.
Ah... andai bisa ku naiki bulan, maka aku akan beredar diatas atap-atap negri dan melihat seluruh hiruk pikuk jagat. Bahkan aku juga bisa menari-nari mengamati dirimu dari langit.

Tunggu, tapi jika aku menaiki bulan, aku akan jauh darimu, bahkan semakin menjauh 3,8 sentimeter tiap tahunnya. Mana mungkin aku mampu?

Pulanglah lebaran ini.. setidaknya agar aku tak perlu jauh jauh berkhayal menaiki bulan dan biarkan aku menjadi normal kembali.

20 Mei 2014

Jaga slalu hatimu



Sekali-kali kembali nostalgia dengan lagu anak muda yang beberapa tahun lalu cukup booming ini, boleh lah ya..
Dulu, jika kau pernah mendengar sebuah grup band bernama "seventeen" inilah salah satu judul lagunya yang membuatku berpikir lebih dalam.
Lagu yang berdurasi hampir 5 menit ini secara keseluruhan bercerita tentang seseorang yang berpesan kepada orang yang spesial dalam hidupnya, untuk senantiasa menjaga hati. Tentu saja dalam penafsiran kebanyakan anak muda, "jaga slalu hatimu" disini dimaknai berupa menjaga hatinya agar selalu setia pada pasangan, dan tidak membuka hati untuk laki-laki lain.

Namun inilah yang kusebut berpikir lebih dalam, entah mengapa akhir akhir ini aku lebih suka memikirkan sesuatu itu secara melingkar. Bayangkan, jika "jaga slalu hatimu" dimaknai berupa menjaga hati agar senantiasa mencintai Allah Ta'ala, menjaga hati dari iri, menjaga hati dari dengki. Menjaga segala racun hati yang menodai niat baik, dan menjaga hati bagi seorang istri agar senantiasa tawadhu pada suaminya berapa pun jarak membentang.

Ternyata, makna menjaga hati disini tak sesederhana yang aku pikirkan dahulu ketika pertama kali mendengar lagu ini, mungkin kah begitu pula denganmu? :)
Selamat mengeksplor pengetahuan, dan selamat memaknai lebih dalam apa yang ada di tiap tiap kehidupan./ Hamidah 13 Mei 2014, 21:13

"kau jaga slalu hatimu, saat jauh dariku
tunggu aku kembali 
ku.. mencintaimu slalu, menyayangimu sampai akhir menutup mata"

Menulislah !

Mengikuti mata kuliah yang sama sekali tak pernah kuharapkan, kemudian memilih duduk dibangku paling belakang.
Bermesraan dengan kertas dan tinta, bukan untuk mencatat pelajaran, namun untuk memulai dunia kecil yang terlalu lama telah kutinggal dan kuabaikan tanpa sengaja.
Aku mencintai sastra sebagaimana Qais mencintai Laila, hingga jatuh sakit dan gila.
Aku mendambakan dunia sastra dan menginginkan untuk selalu dekat dengannya., sedekat mata dan sang alis di muka-muka pria berjubah.
Aku merasa merdeka, bebas, tanpa rumus bahkan mulai bisa meneriakkan kalimat "Persetan dengan jurnal dan etika-etika!"
http://weheartit.com/entry/116300461/
Aku bisa berontak, aku bisa memaki, aku bisa bercinta, bercumbu, dan merayu tanpa harus telanjang atau melakukan hal seronok lainnya.
Tak perlu membakar ban mobil ditengah jalanan poros Ibu Kota untuk meluapkan kecewa dan patah hatimu pada pemerintah yang tidak pernah setia sebagai pecinta.
Tak perlulah membuat poster-poster raksasa untuk menyuarakan gerutumu yang sekalipun tak pernah digubris penghianat-penghianat cinta rakyatnya!
Hanyalah selembar kertas yang kau perlukan, lengkap bersama pena dan otak segar berhujan ide. Tumpahlah, larilah, buanglah segala kekejian,
segala sampah rumpah dan kertas plastik yang menyumpal di sekujur tulangmu. Kembalilah menjadi segar bugar dengan menyulap kebencian menjadi karya.
Menulislah! Bacalah kehidupan dan Menulislah!

Bismillah mulai menulis kembali/  Hamidah 16 Mei 2014

8 Mei 2014

Hari yang melelahkan...
Mengikuti sebuah komunitas baca alquran sehari satu juz.
Pergi kekampus dan kuliah.
Ke 3 sekolah menyampaikan surat delegasi untuk acara duta radio.
Mengantar mbak ratih yang sakit migrain 1 minggu tak sembuh sembuh, ke rumah sakit aisyiyah, lalu karena dokternya sedang libur.. maka ke klinik umm.

4 Mei 2014

Seutuhnya ●

Menjadi "seutuhnya" itu memanglah indah.

Seutuhnya Jawa, kau akan bahagia dengan campursari nya yang bercerita tentang angliyak numpak prau layar, tentang tamasya hingga sore hari, dan tentang lambaian wit klopo yang serasa memanggilmu untuk segera merapat kembali ke darat.

Seutuhnya menjadi Indonesia, akan membuatmu bangga menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Tak sekedar mengangkat telapak tanganmu dan menempelkan ujungnya ke pelipis. Tapi lebih dari itu, kau akan bergidik mendengar lantunan hawa kemerdekaan yang bagai sihir terkandung dalam lirik "Indonesia Raya".

Seutuhnya menjadikan kita setia.
Tiada malu dengan apa, siapa, kenapa, bagaimana dia.
Seutuhnya, menjadikan kita TOTAL, mustahil mendua!

Hamidah/ latepost 1 april 2014/ #NP angliyak numpak prau layar

27 Apr 2014

Merhaba Rajab! 

Tiba-tiba sudah Bulan Rajab saja, tiba-tiba pula sudah usia 20 saya hahaha, sebentar lagi bulan puasa, bulan bulan penuh lomba, lomba meraih ridho-Nya, lomba meraih surga, lomba menjadi lebih baik, dan... berlomba-lomba pula mencapai hajatan-hajatan yang belum diizinkan Allah Ta'ala. Barangkali jika kita rajin merayu pada Tuhan lewat doa dan perangai yang mulia, Beliau akan iba kemudian bimsalabim :)
aku masih akan terus percaya "MAN JADDA WA JADDA". usaha keras takkan pernah berkhianat, Hamidah. /27 april 2014, disela hiruk pikuk kehidupan, ditengah karomah dan kasih sayang-Nya. Innallaha ma'ana

21 Apr 2014

Generasi yang dibungkam mulutnya dan haram bertanya

Hari ini aku ke pasar minggu kota malang, pasar yang hanya akan ada pada hari minggu pagi ini menjual berbagai macam barang dengan harga miring.
Ada satu cerita yang kubawa dari jalan jalan pagi yang membuat gerah itu..
Ketika ada seorang penjual mainan anak berupa tikus tikusan, katak, cicak, dan hewan hewan semacam itu yang berbentuk lentur sekali seperti jeli, jika mainan itu dilempar maka akan melentur seolah hendak pecah, tapi akan kembali lagi ke bentuk semula. Sontak beberapa anak kecil sibuk melongokkan wajahnya melihati mainan ajaib tersebut, jangan kan mereka yang masih kecil, aku dan kakakku yang sudah dewasa saja cukup terkesima melihatnya, dan inilah kalimat yang muncul dari seorang anak kecil laki laki berkaus lengan pendek.
Mungkin kini dia masih duduk di sd kelas 1 atau 2, "pak.. ini cara buat nya gimana?" Itulah pertanyaan sederhana darinya, sungguh sederhana bukan.
Bapak penjual mainan yang bertopi seperti bang ocit ala sctv itu pun menjawab "ya nggak buat, ini bapak juga beli" jawabnya enteng. Tatapan anak kecil itupun masih penuh tanya, dahinya mengkerut sedikit, tanda tanya masih menyeruak di kepalanya, tentu saja aku tau sebabnya, karena pertanyaannya tak membuahkan jawab.
Aku pun merenung sejenak, inilah generasi kita.. generasi kecil.. daun muda indonesia yang kelak memimpin bangsa. Mereka pandai, mereka cerdas, banyak pertanyaan pertanyaan hebat didalam benak, namun sekian banyak itu pula yang tak mendapatkan jawab.

Sadarkah, kita di didik untuk tidak bertanya. Kita di didik untuk tidak tahu asal mula, kita di cetak menjadi generasi yang suka praktis, apatis, dan tau final saja. Kita tak pernah diajari proses, yang penting adalah hasil. Generasi konsumen bukan produsen. Seperti halnya mainan tadi, andaikan si penjual bukanlah distributor akhir dari china atau manusia manusia berlabel luar negeri, andaikan si penjual tadi adalah produsen nya, maka tentu pertanyaan bocah kecil itu mudah terjawab, pertanyaan yang bisa membuahkan pengetahuan dan ilmu berharga. Siapa tahu anak kecil itu mampu berinovasi dan melahirkan ide lebih cemerlang, melakukan perbaikan terhadap produk yang sudah ada. Menyenangkan bukan. Jika sudah begini salah siapa? Sebenarnya aku tak benar benar ingin tahu siapa subjek yang salah, mungkin lebih tepat jika kita memperbaiki kesalahan yang sudah berlangsung cukup lama. Mari menciptakan generasi produktif yang inovatif dan berkualitas./Hamidah 20 april 2014, menjelang lahirnya pejuang yang membuka sekat sekat kebodohan di masyarakat pribumi, salam kemerdekaan yang hakiki RA. Kartini

31 Mar 2014

Instrumen



Sebuah instrumen berdurasi 01:06 berjudul Music Scoring The Basket yang dulu menjadi soundtrack film ayat-ayat cinta berhasil menjadikan aku terharu. Tentu saja itu hanya instrumen yang tak ada lirik apapun didalamnya, namun entah hatiku benar-benar tersentuh oleh nya.
Terbayang olehku jalanan yang lekat dengan bangunan-bangunan bersejarah, atau sungai nil dan tembok tua saksi peradaban masa lalu, aku berjalan disana kemudian melihat lima sampai tujuh orang memainkan musik tradisional mereka dipinggir jalan dan aku ikut menari-nari bersama penonton lainnya. Sungguh menyenangkan bukan, berkeliling dunia dan menikmati segala hal yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada kita, kemudian bisa berbagi cerita kepada orang lain yang belum sempat menikmatinya sehingga menginspirasi mereka untuk terus berjuang sembari mensyukuri segala rizki yang dititipkan penguasa seluruh alam :) /Hamidah 12Februari2014

Si bocah SD dengan mimpinya menjadi "seniman"



ya. dan pukul sekian aku masih saja menghadap layar laptop yang berpendar malas. tentu saja aku tahu dia lelah. sama lelahnya seperti ku. bahkan jika boleh subjektif, tentu saja lebih lelah diriku ketimbang dia yang hanya akan menyala beberapa jam saja. aku? menyala nyaris 24 jam! menjadi manusia berlabel mahasiswa dan berkutat dengan tugas tugas tugas, seminar, dan beberapa kegiatan yang mungkin kah sudah pantas kusebut "kerja"?
ya. dan aku lupa menulis puisi. dan aku lupa membiarkan jemariku yang bermesraan dengan lembar kertas juga tinta untuk menumpah ruahkan irama hati. quality time kita menyebutnya. ah... puisi... prosa... cerpen dan lain sebagainya.. hanya terbengkalai dalam folder ku didalam laptop ini. folder yang telah lama, jarang kubuka, dan jarang pula kubersihkan debu debu nya. Barangkali jika dia benda nyata, akan nampak banyak sekali sarang laba-laba disana, nampak pula cat-cat yang mengelupas di beberapa sisi dan sudutnya, mengenaskan!
aku masih ingat betul, kala itu tahun 2006 awal, aku masih duduk dibangku SD kelas akhir, yang tertanam dibenakku adalah menjadi sastrawan, penyair, dan seniman. diantara hiruk pikuk anak SD kala itu yang sibuk bermimpi menjadi dokter, guru, polisi, atau pilot macam Zaharie MH370 barangkali, aku mempunyai mimpi yang berbeda.... "SENIMAN" begitulah dulu aku menyebutnya.
Kini? tanda tanya. hahahahaha kita tunggu saja, akankah benar ada seniman yang terlahir dari fakultas ilmu sosial ilmu politik yang notabene nol ketulusan disana, semua hanya berdasar pada azas kepentingan semata, karena politik mereka sebut-sebut rusuh dan kotor namun dengan sengaja mereka terjun dan berenang dengan berbagai gaya kodok dan dan gaya bebasnya. kita tunggu saja, toh... nyatanya kita setuju bukan kalau makna politik adalah seni mencapai kekuasaan? benarkah "SENIMAN" yang dulu kuimpikan kala SD adalah yang demikian? kumohon jangan. / hamidah 23:56 wib/ 29maret2014