1 Nov 2013

Hikayat penyair melarat

Ada penyair yang kaya raya
Ada penyair yang hidup melarat tapi bahagia dengan karyanya
Ia setiap hari menghela dan menghembus nafas kaya, walau tidurnya tak berbantal dan berguling
Baginya cukup tikar untuk alas, kertas dan tinta untuk menulis
Bahkan jika tak ada kertas dan tinta karena semuanya entah kenapa tiba tiba menjadi sangat mahal, ia akan menulis puisi diatas awan dengan limbah yang hitam pekat kemudian menghiasinya dengan remah debu yang menjadi semacam glitter bertaburan
Ia akan bahagia dengan dunianya
Ia akan mengubah sampah menjadi emas, hanya dengan imajinasinya
Ia akan menyulap kardus menjadi beton bercat putih mengkilat bak rumah raja, hanya dengan satu jentikan jari magic dalam otaknya.
Penyair melarat yang akan menjadi kaya raya,
Sesungguhnya kekayaan ada didalam sana, dalam sekali hingga nyaris hanya dirimu yg mampu melihatnya.

Penagih Hutang Pagi ini

Jangan takut nak, jangan takut....
Masih ada kabut, masih ada rembulan yang memutih, dan fajar masih sebercak.
Jangan takut,hari masih gelap
Petani pun belum pula menyiapkan cangkul untuk ke sawah
Anggaplah ini masih malam, jangan takut pagi menjelang
Bermimpilah lebih lama, Tuhan takkan biarkanmu bangun karena rengek ayam
Jangan takut pagi takkan datang
Jangan takut penangih hutang itu tiba
Pagi takkan ada
Esok takkan terjadi
Jangan takut nak, hidup kita akan selamanya malam, takkan ada subuh, takkan ada siang

Berbeda

3 dalam 1 kolong.
Aku selalu berdoa dulu sebelum membukanya.
Berharap sihir dongeng akan berlaku disini
Berharap 3 bungkus menjadi 3 kardus.
Aku memang selalu tamak, bukankah nyaris semua manusia begitu?
Ke3 nya dalam 1 kolong
Mereka bilang itu berbeda, walau sebenarnya sama.
Mereka bilang itu beragam, walau dimataku itu homogen.
Keriting tetap keriting, hanya bisa menjadi lunak jika dilebur panas puluhan derajat.
Mereka sama saja, tak ada beda. Itulah mengapa mereka tinggal ditempat yang sama, karena sungguh tak ada beda antara ketiganya.
Bahkan kurasa, akan sama sama mematikannya jika aku memakan mereka lima tahun berturut turut tanpa jeda.
Ah... hanya kemasan yang memaksa mereka menjadi beda.
Ah... mereka berbeda karena terpaksa, siapa tahu mereka tetangga, bahkan siapa tahu mereka lahir dari rahim yang sama.
Kita terlalu mudah tertipu, kita bahkan mudah melabeli sesuatu dengan satu tatapan saja. Sesungguhnya perbedaan bukan ditemukan dari kemasan, perbedaan ada disana, jauh didalam sana, didalam tutur katamu, didalam lembut sentuhmu, atau didalam gemertak gigimu yang meredam marah.
Kita berada didalam kolong yang sama, kolong langit namanya, tak kemana mana, disini takdir kita, nampak berbeda satu dengan yang lainnya, kita nampak tinggi rendah sedang kecil besar hitam merah hijau jingga, tapi masihkah kau percaya bahwa kemasan menentukan segala?
Sama halnya, dengan ketiga benda dalam kolong, mereka berbeda, tapi sama, dan mungkin benar benar beda. Telitilah.