11 Apr 2013

merapat dalam dalam, #kamismalam


Bergalau itu adalah hal yang bodoh. Bodoh sekali. Seperti kerbau yang tuli, buta, dan bisu. Bahkan mati rasa, bahkan ketika dia dipecut dia tak merasa, dia tak meraung dia tak melihat dia tak mendengar. Itulah hanyut perasaanku malam ini. Sepulang dari kegiatan ku sehari-hari, aku baru sadar aku harus segera meninggalkan sebuah rutinitas indahku yang mulai aku awali lima bulan yang lalu.
OH TIDAK!
Akankah aku sanggup. Aku bukan sedang menggalaukan cinta, tapi aku menggalaukan masa depanku. Aku menggalaukan apa langkahku esok. Aku menggalaukan apa yang harus aku lakukan esok. Aku harus express ibaratnya. Orang tuaku mungkin tak bisa menungguku sukses terlalu lama, mungkin mereka segera ingin melihatku melempar topi toga, melihatku bekerja, menikah dan berkeluarga.
Mungkin benar, kata-kata mas rizal tadi, aku adalah tipe orang yang kurang dewasa, merenung dikamar bukan untuk memikirkan planning untuk esok namun hanya menggalau tak bersolusi. Tapi harus kemanakah aku berlari? Kemanakah hendak ku meraung sekencang dentum petir ditengah sunyi? Kemanakah aku hendak menumpahkan sejuta amarahku yang menggila ini? Sedang kurasa aku sudah berkali-kali mengadu pada Tuhan…. Aku berjuta kali menitik air mata perih, aku berdoa semampuku meminta. Tuhan….. hanya rintih kencang yang kusimpan dalam suara yang tertahan dan kemudian hanya menjadi pekikan.
Kegalauan ini sungguh tak bersolusi. Aku takut masa depan! Kemanakah aku hendak melangkah lagi esok pagi? Arah yang manakah yang hendak kutuju? Masihkah aku mempertahankan mimpiku yang itu yang seolah jalan ditempat tak ada kemajuan? Benarkah aku akan segera lulus lima semester lagi? Aku menginginkan jawab yang cukup jauh dari kenyataanku sekarang ini.
Sekarang aku sedang duduk diatas kasur tempatku tidur sehari-hari, ada sebuah laptop dipangkuanku, aku masih berkostum merah dengan celana biru muda yang baru saja kupakai pergi, jam diujung layar menunjukkan pukul 21:38. Cukup larut untukku dahulu sebagai anak SMA, namun sudah menjadi hal yang biasa ketika aku masih tetap membuka mata hingga pukul sebelas malam ketika memasuki bangku kuliah ini.
Aku selalu begini, selalu ingin mendahului segala, ketakutan dengan sesuatu yang belum pula terjadi, ingin buru-buru berlari, takut ketinggalan kereta sedang loket belum pula dibuka. Terlalu semangat? Bukan juga, ini lebih tepat disebut perasaan ketakutan yang berdasarkan pada lingkungan.
Aku takut… aku ketakutan dengan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi. Yang bahkan kemungkinan-kemungkinan itu tak berani kutuliskan disini. Aku terlalu penakut! Tapi aku terus memaksa diriku untuk menjadi pemberani. Namun kembali, bayang-bayang tentang sekeliling kembali mengejarku, melihat sekelilingku yang cukup terpuruk dengan kekurang suksesan nya, melihat orangtua saudaraku yang pergi lebih dulu menghadap Illahi. Itulah yang sering membuatku tanpa sebab menitikkan air mata didalam kamar, hendak tidur, dalam sujud, dalam doa seusai solat, masuk rumah, dijalan, sedang menyetir motor, bahkan ketika didalam kelas saat pelajaran.
Penakut dan si cengeng yang ingin sukses. Aku yakin tag line itu akan berubah menjadi pemberani dan si kuat yang telah berhasil sukses. Amin…
Hahaha, aku selalu membubuhkan kalimat-kalimat dan stigma positif diakhiran tulisan galau ku. Karena aku berharap, kegalauan itu akan terhapus dengan sebuah doa penyemangat. Leburlah kegalauan, hiduplah kebahagiaan. / hamidah 21 maret 2013

2 komentar:

  1. yapppp sama banget, tapi aku gak ampe nangis2 gitu bu idah.. cuma mikirin galau masa depan, takut bgt. hahaha

    BalasHapus
  2. tuh kan aku banyak temennya ternyata hihihi :D

    BalasHapus

BIG BIG thanks to you :)) silahkan beri komentar dan berkunjung kembali kawan. *hamidahsemi*