21 Feb 2013

putih menuju (abu-abu) menuju hitam

kita melebur dalam putih
kemudian entah apa yang terjadi ketika kapur menjadi batu
putih menjelma hitam
kau boleh berlari sekuat kilat menyusuri langit yang disambut hujan
kau boleh bebas dari penjara tak bernama tak ber-sipir
kau boleh kemanapun dan jangan pernah kembali
karena ketika kembali
penjara sudah penuh dan tak ada namamu lagi
penjara pikiran dan hatiku ini sedang kubersihkan agar habis dari kosakata tentang mu
habis sudah kesabaranku menunggu
kita melebur jadi hitam pekat yang takkan pernah bisa kau bedakan
"sudahkah kita usai?"
begitu kita saling bertanya
namun masih bergunakah menunggu sesuatu yang abu-abu bagimu?
jika putih itu baik maka hitam itu buruk, aku dan kamu takkan pernah mengenal abu-abu

8 Feb 2013

Kabel charge dan baterai adalah Tuhan dan kekasihmu


Pernah melihat laptop? Kurasa semua akan serempak berkata iya.
Namun aku tak sedang ingin membahas IT, teknologi, komponen dan bagian-bagian benda itu secara mendetail, karena kebetulan aku bukan anak IT tapi mahasiswi komunikasi. 
Lebih baik aku berpuisi, bukankah itu lebih cocok untukku?
Aku sedang melihat tiga benda yang ada didepanku itu. dengan jeli.
Sebuah laptop, kabel charge, dan baterai laptop yang bisa dilepas.
Pasti sering melihatnya, namun mungkin kau tak memperdulikannya dengan rinci. Ada makna yang teramat hebat terkandung dalam tiga benda sederhana itu, yang kini untuk mendapatkan ketiga nya kau mungkin hanya perlu merogoh kocek satu setengah juta. Itu harga termurah, namun untuk mendapatkan yang bermerk buah berbekas gigitan, mungkin cukup dalam kau harus merogoh Sembilan atau dua belas juta. 
Beragam, harganya.
Kali ini juga bukan harga yang hendak ku jabarkan sebenarnya. 
Namun aku hanya ingin membuatmu melihat ketiga benda itu bukan sebagai benda, tapi melihat laptop itu sebagai dirimu. Melihat kabel charge itu sebagai Tuhan, dan melihat baterai itu sebagai kekasih yang sangat kau cintai saat ini.
Ketika kita hendak mati dalam keadaan low battery, lampu peringatan sudah menyala berkali-kali dan suara peringatan sudah berbunyi begitu riuh sehingga suasana menjadi genting. Apa yang biasanya kau lakukan? Meraih kabel charge? Ya! Kurasa itu dilakukan semua orang.
Namun kali ini ibaratkan kau sebagai latop dalam keadaan tak terpasang baterai. Apa yang akan kau lakukan ketika kau ingin menyalakan laptop atau membangkitkan dirimu? Meraih baterai yang kosong melompong atau meraih kabel charge yang akan dengan segera langsung menghubungkanmu dengan aliran listrik kemudian kau akan dapat nyala kembali?
Pikirkan sejenak.
Ya.mungkin kali ini jawabanku dan jawaban kalian akan sama. Yaitu mengambil kabel charge :)
Begitulah.
Ketika kita dalam keadaa terpuruk dan tersungkur begitu dalam, kekasih akan datang memberikan supply nasihat atau perlindungan yang mungkin “sejenak” akan membuat kita feel so good again. Tapi itu tak selamanya, kekasihmu adalah manusia, sama sepertimu. Mungkin ketika dia memelukmu kemudian meyakinkanmu dengan sungguh-sungguh if everythings gonna be okay, kau akan percaya. Tapi masih haruskah kau percaya jika dia sendiri yang rapuh, jika dia sendiri yang perlahan melepaskan pelukan dan berlari menjauh darimu?

Lain halnya dengan Tuhan. Lain sekali.
Kau boleh tersungkur, terjerembab, bahkan terdampar disuatu pulau tak berpenghuni sama sekali, atau mungkin berada di suatu planet tak beroksigen sekalipun, namun ketika Tuhan mengatakan KUN FAYAKUN, everything will really gonna be okay, really really gonna be okay. Mau dokter mengatakan kau akan mati dalam lima detik lagi, jika Tuhan tak menghendaki, maka lima puluh tahun kemudian pun kematian itu takkan bisa terjadi. 

Dan satu lagi yang harus kau sadari benar. 
Ketika kau sebagai laptop akan selalu membutuhkan kabel charge yang sebagai Tuhan, maka akuilah bahwa baterai sebagai kekasihmu itu juga membutuhkan kabel charge. Could it be strong or have power if battery haven’t supply with cable? Masih kah kau berfikir bahwa sebuah baterai akan berguna tanpa kekuatan yang diberikan kabel charge? Baterai hanya akan menjadi sampah tanpa kabel charge.
Karena kekasihmu sama, dia manusia, dan akan selalu dibawah kendali Tuhannya, sang pemberi kehidupan.

4 Feb 2013

sejenak menengok facebook



Ketika waktu berlalu dan perlahan semua berubah
Aku menengok sedikit kebelakang
Ada wajah-wajah yang tak asing bagiku
Beberapa orang di situ dan satunya lagi membisu
Kini aku kembali menatap kedepan
Sedikit terperangah aku melihat mereka berganti posisi ada di hadapanku
Lebih beda dan kini sedikit asing
Perjalanan takkan pernah sanggup kau tebak
Kusergah sebilah pisau dari balik badanku
Hendak kutusuk mereka satu persatu agar sirna dari kemerdekaan hidupku, namun kemudian buru-buru mereka hilang
Menjadi kabut,
Satunya pergi dengan senyuman tipis
Satunya menangis
Satu lagi meringis.
Ketiga manusia yang kuanggap benda. Masa lalu tetaplah masa lalu.
Tak berusaha kulupakan, namun dengan sengaja memang tak begitu ku hiraukan