31 Okt 2012

menjadi berontak di pengadilan TUHAN


Tak adakah yang mengaku memesankan tiket hidup untukku?
Aku kini sedang meragu
Kadang kita harus bersabar dalam keyakinan yang penuh keraguan
Sampai saat ini pun aku belum mengerti tentang kehidupan
Dalam gelak tawa, tangis, jerit lara, bahagia,
Terkadang kurasa dan kuraba tiada guna.
Diminta hidup, lantas dimatikan.
Diminta bernafas, lantas dienyahkan.
Diminta berdetak, lantas dihentikan.
Hanyalah waktu dalam saksi bisu yang mengetahui samudera panjang yang kuarungi.
Tak kutemukan Tuhan atau kiblat dalam musyrik yang kadang membutakanku.
Membuatku menjadi kafir yang pandir agama dan tak tau ilmu.
Yang aku tau hanya marah, resah, gundah, dan selebihnya hanyalah sampah.
Aku menjadi ifrid dalam diriku sendiri.
Aku menciptakan dajjal yang belum pula lahir, dalam pikiranku sendiri.
Aku ingin berontak, tapi pada siapa?
Sementara negara terus mendesak untuk beragama.
Sementara atheis dianggap hewan dan bukan manusia.
Aku ingin  demo, anarki dan sebagainya
Tapi kemana?
Melangkah dibilang salah.
Diam dikatai bedebah.
Aku ingin marah, tapi dimana?
Sementara DPR bukanlah gedung untuk mengadu tentang nasib, jalan hidup, problema, dan cinta.
Sementara Presiden bukanlah tempat dimintai pertanggung jawaban atas kelahiran.
Masih sama-kah yang samar dan yang terang?
Kurasa tak ada beda, sehingga menyulitkanku bergerak diatas panggung drama.
Menyulitanku menebak mana yang tanah, api, dan air nya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BIG BIG thanks to you :)) silahkan beri komentar dan berkunjung kembali kawan. *hamidahsemi*