31 Okt 2012

menjadi berontak di pengadilan TUHAN


Tak adakah yang mengaku memesankan tiket hidup untukku?
Aku kini sedang meragu
Kadang kita harus bersabar dalam keyakinan yang penuh keraguan
Sampai saat ini pun aku belum mengerti tentang kehidupan
Dalam gelak tawa, tangis, jerit lara, bahagia,
Terkadang kurasa dan kuraba tiada guna.
Diminta hidup, lantas dimatikan.
Diminta bernafas, lantas dienyahkan.
Diminta berdetak, lantas dihentikan.
Hanyalah waktu dalam saksi bisu yang mengetahui samudera panjang yang kuarungi.
Tak kutemukan Tuhan atau kiblat dalam musyrik yang kadang membutakanku.
Membuatku menjadi kafir yang pandir agama dan tak tau ilmu.
Yang aku tau hanya marah, resah, gundah, dan selebihnya hanyalah sampah.
Aku menjadi ifrid dalam diriku sendiri.
Aku menciptakan dajjal yang belum pula lahir, dalam pikiranku sendiri.
Aku ingin berontak, tapi pada siapa?
Sementara negara terus mendesak untuk beragama.
Sementara atheis dianggap hewan dan bukan manusia.
Aku ingin  demo, anarki dan sebagainya
Tapi kemana?
Melangkah dibilang salah.
Diam dikatai bedebah.
Aku ingin marah, tapi dimana?
Sementara DPR bukanlah gedung untuk mengadu tentang nasib, jalan hidup, problema, dan cinta.
Sementara Presiden bukanlah tempat dimintai pertanggung jawaban atas kelahiran.
Masih sama-kah yang samar dan yang terang?
Kurasa tak ada beda, sehingga menyulitkanku bergerak diatas panggung drama.
Menyulitanku menebak mana yang tanah, api, dan air nya?

RANGKUMAN BUKU "ILMU KOMUNIKASI SUATU PENGANTAR" karangan PROF. DEDDY MULYANA, M.A.,Ph.D.

Bab I. Mengapa kita berkomunikasi: Fungsi-fungsi komunikasi
Fungsi komunikasi menurut William I. Gordon:
1.       Fungsi social
Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia bisa dipastikan akan “tersesat”, karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan social.
2.       Fungsi ekspresif
Komunikasi ekspresif dapat dilakukan baik sendirian ataupun dalam kelompok. Orang dapat menyalurkan marah dengan mengumpat, berdecak pinggang, mengepalkan tangan seraya melototkan matanya.
3.       Fungsi ritual
Komunikasi ritual biasanya dilakukan secara kolektif (berkelompok). Sebagai contohnya dalam buku ini disebutkan ketika ibadah shalat kaum Muslim mengarah ke Ka’bah, ini melambangkan kesatuan dan persatuan umat muslim yang ber-Tuhan satu (Allah).
Ritual menciptakan perasaan tertib (a sense of order) dalam dunia yang tanpanya kacau balau.
4.       Fungsi instrumental
Komunikasi instrumental mempunyai beberapa tujuan umum: menginformasikan, mengajar, mendorong, dan mengubah sikap dan keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan dan juga menghibur. Bila diringkas maka semuanya itu dapat disebut membujuk (bersifat persuasif). Komunikasi disini diartikan sebagai instrument atau alat untuk mempersuasi orang lain.

BAB II. Hakikat, Definisi, dan Konteks Komunikasi
·         Komunikasi manusia berbeda dengan komunikasi hewan (dalam hal makna)
Komunikasi manusia lebih memiliki makna (meaningful) sedangkan komunikasi hewan tidak memiliki makna apalagi komunikasi tumbuhan.
·         Definisi komunikasi
Harus ada penafsiran dalam hal yang disebut komunikasi.
·         3 kerangka pemahaman komunikasi
1.       Tindakan satu arah
Pengiriman pesan dari komunikator ke komunikan tanpa ada timbal balik
2.        Sebagai interaksi
Pengiriman pesan dari komunikator ke komunikan dengan adanya feedback/timbal balik
3.       Sebagai transaksi
Semua pihak dianggap sumber juga penerima (dinamis) ada timbal balik yang terus menerus, hingga sulit membedakan mana komunikator dan mana yang komunikan.
·         Konteks komunikasi
1.       Aspek fisik                  : iklim, cuaca, suhu udara
2.       Aspek psikologis       : sikap, prasangka, emosi
3.       Aspek social               : norma kelompok, nilai social dan budaya
4.       Aspek waktu              : kapan berkomunikasi (jam, hari, tanggal)
·         Tingkat komunikasi
1.       Intrapribadi                                : dengan diri sendiri, contohnya berfikir
2.       Antarpribadi               : diadik, memungkinkan tatap muka secara langsung
3.       Kelompok                   : sekumpulan orang dalam jumlah besar, bersifat pasif
4.       Organisasi                   : kelompok dari kelompok-kelompok
5.       Massa                           : komunikasi menggunakan media massa
Konteks komunikasi lainnya
Komunikasi media (pertengahan) : antara tatap muka dengan komunikasi massa. Contohnya telepon, faximile, radio CB, E-mail.

BAB III. Prinsip-prinsip komunikasi
1.       Komunikasi adalah proses simbolik
Symbol = sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu lainnya
Sifat symbol/lambang adalah bersifat sembarang, suka-suka bergantung kesepakatan bersama, lambang tidak mempunyai makna dan kitalah yang memberi nya makna, lambang itu bervariasi.
2.       Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi.
Bahkan diam adalah sebuah komunikasi. Orang diam secara tidak sengaja telah mengirimkan pesan pada orang lain yang orang tsb dapat menafsirkan bahwa mungkin dia diam karena marah, malas, atau yang lainnya.
3.       Komunikasi memiliki dimensi isi dan dimensi hubungan
Dimensi isi: apa yang dikatakan (pesan verbal)
Dimensi hubungan: apa jenis salurannya, bagaimana cara mengatakannya (pesan non verbal)
4.       Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan
Mulai dari komunikasi yang tidak sengaja sama sekali sampai komunikasi terencana. Kesengajaan bukan merupakan syarat utama untuk berkomunikasi.
5.       Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
Konteks ruang: memakai baju merah saat pemakaman tidaklah sopan karena akan mengirimkan pesan bahwa kita tidak ikut berduka.
Konteks waktu: dering telepon malam hari atau tengah malam akan dipersepsikan berbeda dibandingkan jika telepon itu bordering siang hari.
6.       Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi
Siapa yang diajak bicara dan bagaimana sikap kita?
7.       Komunikasi bersifat sistemik
Sistem internal                  : kepribadian, pola pikir, sikap kita.
Sistem eksternal              : unsure diluar individu (kegaduhan, cahaya, dll)
8.       Semakin mirip latar belakang social budaya, semakin efektif-lah komunikasi
9.       Komunikasi bersifat Non sekuensial (komunikasi sirkuler/ dua arah)
1.      Komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional.
Prosesual            : terus berubah (orang tidak akan melintas disungai yang sama ke-2 kalinya)
Dinamis                                : terus berubah
Transaksional     : pengiriman-penerimaan pesan terus terjadi (bersamaan)
11.   Komunikasi bersifat irreversible (tidak dapat diubah)
Seperti kalimat to forgive but not forget. Maka berhati-hatilah dalam berkomunikasi dan berbicara karena apa yang telah kita ucapkan mungkin dapat dicabut dan dimaafkan namun takkan pernah bisa dilupakan.
12.   Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah
Panasea= obat mujarab. Maksudnya adalah, jangan jadikan komunikasi jalan utama untuk mengatasi masalah. Contohnya: meskipun pemerintah bersusah payah menjalin komunikasi yang baik dengan warga aceh, itu takkan berhasil bila pemerintah memperlakukan masyarakat di wilayah-wilayah itu secara tidak adil, dengan merampas kekayaan alam mereka dan mengangkutnya kepusat.

BAB IV. Model-model komunikasi
Model adalah representasi suatu fenomena, baik nyata ataupun abstrak, dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut. Menurut Sereno dan Mortensen model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Sedangkan B. Aubrey Fisher mengatakan model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model.


FUNGSI DAN MANFAAT MODEL
Gordon Wiseman dan Larry Barker mengemukakan ada tiga fungsi model komunikasi: pertama, melukiskan proses komunikasi; kedua, menunjukan hubungan visual; ketiga, membantu dalam mengemukakan dan memperbaiki kemacetan komunikasi. Deutch menyebutkan bahwa model memiliki empat fungsi: mengorganisasikan (kemiripan antara data dan hubungan), prediktif, memungkinkan peramalan dari sekedar tipe ya atau tidak hingga yang kuantitatif yang berkenaan dengan kapan dan berapa banyak, heuristik (menunjukan fakta-fakta dan metode baru yang tidak diketahui), pengukuran, mengukur fenomena yang diprediksi.
Fungsi-fungsi tersebut pada gilirannya merupakan basis untuk menilai suatu model:
Seberapa umum (general) model tersebut? Seberapa banyak bahan yang diorganisasikannya, dan seberaa efektif?
Seberapa heuristik model tersebut? Apakah ia membantu menemukan hubungan-hubungan baru, fakta, atau metode?
Seberapa penting prediksi yang dibuat dari model tersebut bagi bidang penelitian? Seberapa strategis prediksi itu pada tahap perkembangan bidang tersebut?
Seberapa akurat pengukuran yang dapat dikembangkan dengan model tersebut?


Irwin D.J. Bross menyebutkan beberapa keuntungan model. model menyediakan kerangka rujukan untuk memikirkan masalah, bila model awal tidak berhasil memprediksi. keuntungan lain pembuatan model adalah terbukanya problem abstraksi.

TIPOLOGI MODEL
Kita dapat menggolongkan model dengan berbagai cara. Model yang lebih penting adalah model simbolik yang terdiri dari model matematik dan model verbal; lalu model fisik yang terdiri dari model ikonik dan model analog.
Model verbal adalah model atau teori yang dinyatakan dengan kata-kata, meskipun bentuknya sangat sederhana. Model verbal sangat berguna terutama untuk menyatakan hipotesis atau menyajikan hasil penelitian. Model verbal ini sering dibantu dengan grafik, diagram, atau gambar. Contohnya adalah model struktur organisasi, yang dilihat dari perspektif komunikasi organisasi, tingkat-tingkat jabatan dan hubungan kerja (komunikasi formal) berbagai jabatan tersebut.
Model fisik secara garis besar terbagi dua, yakni model ikonik yang penampilan umumnya (rupa, bentuk, tanda) menyampaikan objek yang dimodelkan. Seperti model pesawat terbang, maket sebuah gedung atau kompleks. Sebagan model ikonik, selain menyerupai objek aslinya juga menunjukan sebagian fungsi penting objek yang dimodelkan. Contoh terbaik model ikonik ini adalah model kendaraan seperti pesawat terbang, kapal laut, kereta api. Menurut Bross, model menyajikan suatu proses abstraksi. Pesawat terbang yang sebenarnya menyajikan proses suatu abstraksi.
Perkembangan model simbolik, khususnya model matematik penting dalam profesi ilmuwan. Pembuatan model adalah upaya penting dalam memajukan ilmu pengetahuan dan kuantitas model yang dihasilkannya menandai kematangan ilmiah disiplin tersebut.
Berdasarkan model-model kounikasi Lasswell, Shannon dan Weaver serta Schramm, yang linier namun terkenal itu misalnya, muncul model-model yang sirkuler. Dilihat dari jumlah unsur yang mengidentifikasi dalam fenomena komunikasi, model-model lebih mutahir menambahkan unsur-unsur baru yang dalam model lama tidak disebut. Misalnya lingkungan fisik, seperti dalam model Gudykunst dan Kim. dan konteks waktu dalam model Tubbs.
Model Gerbner merupakan perluasan dari model Lasswell, model Westley dan MacLean dari model Newcomb dan model DeFleur dari model Shannon dan Weaver. Schramm yang mengemukakan teori peluru komunikasi (the bullet theory of communication) sebagai model verbal mengenai efel komunikasi pada tahun 1950-an harus merevisi modelnya tersebut dalam dekade berikutnya.

MODEL-MODEL KOMUNIKASI: SUATU PERKENALAN
Komunikasi bersifat dinamis, sebenarnya komunikasi telah dibuat oleh para pakar.

Model S – R
Model stimulus – respon (S – R) adalah model komunikasi paling dasar. Model ini depengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik. Model tersebut menggambarkan stimulus – respons. Model ini menunjukan komunikasi sebagai aksi reaksi yang sederhana. Bila seorang lelaki berkedip kepada seorang wanita, dan wanita itu kemudian tersipu malu, itulah pola S – R.
Pola S – R dapat pula berlangsung negatif, misalnya orang pertama menata kedua orang dengan tajam, dan kedua orang itu balik menatap, atau enunduk malu, atau malah memberontak.

Model Aristoteles
Model Aristoteles adalah model komunikasi paling klasik, yang sering juga disebut model retoris. Komunikasi terjadi ketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak dalam upaya mengubah sikap mereka. Tepatnya, ia mengemukakan tiga unsur dasar dalam proses komunikasi, yaitu pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener).


Model Lasswell
Model komunikasi Lasswell berupa ungkapa verbal, yakni
Who
Says What
In Which Channel
To Whom
With What Effect?


Model ini dikemukakan oleh Harold Lasswell tahun 1948 yang menggambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang diembannya alam masyarakat. Lasswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yaitu: pengawasan lingkungan, korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya. Lasswell mengaku bahwa tidak semua komunikasi bersifat dua arah.
Model Lasswell sering diterapkan dalam komunikasi massa. Model tersebut mengisyaratkan ahwa lebih dari satu saluran dapat membawa pesan. Model Lasswell dikritik karena model itu tampaknya mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan. Model ini juga terlalu menyederhanakan masalah.

Model Shannon dan Weaver
Model awal komunikasi dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949. Model ini sering disebut model matematis atau model teori informasi itu mungkin adalah model yang pengaruhnya paling kuat atas model dan teori komunikasi lainnya. Model Shannon dan Weaver ini menyoroti problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Dengan kata lain, model Shannon dan Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Saluran (channel) adalah medium yang mengirim sinyal (tanda) dari transmitter ke penerima (receiver).
Model Shannon dan Weaver dapat diterapkan kepada konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi publik, dan komunikasi massa.

Model Schramm
Menurut Wilburg Schramm, komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsur: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination). Sumber boleh jadi seorang individu atau suatu organisasi seperti surat kabar, stasiun televisi. Menurut Schramm, setiap orang dalam proses komunikasi adalah sekaligus sebagai enkoder dan dekoder. Kita secara konstan menyandi balik tanda-tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda-tanda tersebut.

Model Newcomb
Theodore Newcomb memandang komunikasi sebagai perspektif psikologi-sosial. Modelnya menyerupai diagram jaringan kelompok yang dibuat oleh para psikolog sosial dan menyerupai formulasi awal mengenai konsistensi kognitif. Dalam model komunikasi tersebut sering juga disebut model ABX atau model simetri Newcomb menggambarkan bahwa seseorang A, menyampaikan informasi terhadap seorang lainnya, B, mengenai sesuatu, X, model tersebut mengasumsikan bahwa orientasi A kepada B dan terhadap X saling bergantung dan ketiganya merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat orientasi.
1. Orientasi A terhadap X, yang meliputi sikap tehadap X sebagai objek yang harus didekati atau dihindari dan atribut kognitif (kepercayaan dan tatanan kognitif)
2. Orientasi A terhadap B, dalam pengertian yang sama
3. Orientasi B terhadap X
4. Orientasi B terhadap A

Model Westley dan MacLean
Westley dan MacLean ini dipengaruhi oleh model Newcomb, selain juga oleh Lasswell dan yang lainnya. Mereka menambahkan jumlah peristiwa, gagasan, objek dan orang yang tidak terbatass yang kesemuanya merupakan ”objek orientasi” menempatkan suatu peran C diantara A dan B, dan menyediakan umpan balik. Model Westley dan MacLean mencakup beberapa konsep penting yaitu umpan balik, perbedaan kemiripan komunikasi antarpribadi dengan komunikasi massa, dan pemimpin endapat yang penting sebagai unsur tambahan dalam komunikasi massa.

Model Gerbner
Model Gerbner adalah merupakan perluasan dari model Lasswell. Model ini terdiri dari model verbal dan model dragmatik. Model verbal Gerbner adalah sebagai berikut:
Seorang sumber
mempersepsi suatu kejadian
dan bereaksi
melalui suatu alat (maluran, media, rekayasa fisik, fasilitas administratif dan kelembagaan untuk distribusi dan kontrol)
untuk menyediakan materi
dalam suatu bentuk
dan konteks
yang mengandung isi
yang mempunyai suatu konsekuensi
Model Gerbner menunjukan bahwa sesorang mempersepsi suatu kejadian dan mengirimkan pesan kepadan suatu transmitter yang pada gilirannya mengirimkan sinyal pada pemerima (receiver), dalam transmisi itu sinyal menghadapi gangguan dan mucul sebagai SSS bagi sasaran (destination)

Model Berlo
Model ini dikenal dengan model SMCR (source, message, channel, receiver). Sumber (source) adalah pihak yang menciptakan pesan baik seseorang maupun suatu kelompok.
Pesan (message) adalah terjemahan gagasan kedalam kode simbolik seperti bahasa atau isyarat saluran (channel) adalam medium yang membawa pesan dan penerima (receiver) adalam orang yang menjadi sasaran komunikasi.


Model DeFleur
Menggambarkan komunikasi massa ketimbang komunikasi antar pribadi. Modelnya merupakan perluasan dari model yang dikemukakan para ahli lain khususnya Shannon dan Weaver dengan memasukan perangkan media massa (mass medium service) dan peragkat umpan balik (feedback).

Model Tubbs
Menggambarkan komunikasi yang paling mendasar yaitu komunikasi dua orang (diadik). Model komunikasi Tubbs sesuai dengan konsep komunikasi sebagai transaksi yang mengasumsikan kedua peserta sebagai pengirim sekaligus penerima pesan. Model Tubbs melukiskan baik komunikator satu atau dua terus menerus memperoleh masukan yakni rangsangan baik luar dalam maupun luar dirinya yang sudah berlalu baik yang sudah berlangsung juga semua pengalaman fisik maupun sosial.

Model Interaksional
Model interaksional merujuk pada model komunikasi yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial yang menggunakan perspektif interaksi simbolik dengan tokoh utamanya Herbert dan muridnya Blumer. Model interaksional sangat sulit digambarkan dengan diagramatik. Model verbal lebih disesuaikan dengan model ini.(http://icaherliafifah.blogspot.com/2010/11/resume-bab-4-buku-pengantar-ilmu.html)



BAB V. PERSEPSI: INTI KOMUNIKASI
-          Persepsi adalah proses menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita.
-          Persepsi adalah INTI KOMUNIKASI à interpretasi adalah INTI PERSEPSI.
-          Persepsi terdiri dari 3 aktivitas
1.       Seleksi
2.       Organisasi
3.       Interpretasi
-          Persepsi:
1.       Lingkungan fisik
a.       Lambang fisik
b.      Sifat luar ditanggapi
c.       Tidak bereaksi
2.       Lingkungan sosial (manusia)
a.       Lambang verbal dan non verbal
b.      Sifat luar dan dalam ditanggapi
c.       Bereaksi

A.      PERSEPSI TERHADAP LINGKUNGAN FISIK
Latar belakang pengalaman, budaya, dan suasana psikologis yang berbeda membuat kita berbeda dalam suatu objek (lingkungan fisik)
B.      PERSEPSI SOSIAL
1.       Persepsi didasarkan pengalaman
2.       Persepsi selektif
3.       Persepsi dugaan
4.       Persepsi evaluatif
5.       Persepsi kontekstual
C.      PERSEPSI DAN BUDAYA
1.       Kepercayaan, nilai, sikap
2.       Pandangan dunia
3.       Organisasi sosial
4.       Tabiat manusia
5.       Orientasi kegiatan
6.       Persepsi tentang diri dan orang lain
D.      KEKELIRUAN DAN KEGAGALAN PERSEPSI
1.       Kesalahan atribusi (memahami penyebab perilaku orang lain)
2.       Efek halo (kesan awal yang menjadikan kita menebak-nebak sifat orang lain)
3.       Stereotipe (menilai orang lain berdasarkan kelompoknya, bukan individunya)
4.       Prasangka (penilaian berdasarkan pengalaman)
5.       Gegar budaya (ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan budaya baru)





BAB VI. KOMUNIKASI VERBAL
-          Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata.
A.      ASAL USUL BAHASA
Bahasa adalah ekstensi perilaku sosial. Ketika belum mampu berbahasa verbal mereka berkomunikasi lewat gambar. 500 tahun lalu, manusia melakukan transisi komunikasi dengan memasuki era tulisan, dan bahasa lisan mulai banyak berkembang.
B.      FUNGSI BAHASA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
-          Untuk merancang solusi untuk memecahkan masalah hidup
-          Paling mendasar berfungsi utnuk menamai atau memberi julukan pada orang, objek, peristiwa.
-          Tiga fungsi bahasa (menurut Lary Barker):
1.       Penamaan: usaha untuk mengidentifikasi
2.       Interaksi: berbagi gagasan, emosi
3.       Trnasimisi Informasi: bertukar informasi
-          Tiga fungsi bahasa (menurut Book):
1.       Mengenal dunia disekitar kita
2.       Sarana untuk menghubungkan antar manusia
3.       Untuk hidup lebih teratur, saling memahami, percaya, satu tujuan.
C.      KETERBATASAN BAHASA
1.       Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek.
Kata-kata pada dasarnya bersifat parsial (tidak melukiskan sesuatu secara eksak). Contoh: mata kita bisa membedakan tujuh juta warna, tapi untuk menyediakan nama satu persatu untuk semuanya itu, tentu sulit karena berarti kita harus menyediakan tujuh juta nama.
2.       Kata-kata bersifat ambigu (tidak jelas) dan kontekstual (tergantung konteks). Karena kita berasal dari latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda, ruang dan waktu dapat mengubah makna kata.
3.       Kata-kata mengandung bias budaya.
Bahasa adalah PERLUASAN BUDAYA. Setiap bahasa menunjukkan suatu dunia simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pemikiran, pengalaman batin, dan kebutuhan pemakainya.
4.       Percampur adukan fakta, penafsiran (dugaan), dan penilaian (kekeliruan persepsi).
Bedakan FAKTA dengan DUGAAN agar PENILAIAN MENJADI BENAR. Kita sering mengganggap suatu peristiwa yang sebenarnya dugaan, kita anggap sebuah fakta.
D.      KERUMITAN MAKNA KATA (contoh: anak yang kencing disebut menyanyi)
Kitalah yang memberi makna pada kata. Makna dibagi menjadi dua:
1.       Makna denotatif: makna yang sebenarnya (murni)
2.       Makna konotatif: makna bercampur aduk dengan berbagai sebab dan alasan
Makna muncul dari berbagai hubungan khusus antara kata dengan manusia. Kita dapat menciptakan kata apa saja dengan arti apa saja, sejauh berdasarkan KESEPAKATAN.
-          Macam-macam rival bahasa:
1.       Bahasa daerah VS bahasa daerah
Karena lagi-lagi sosial budaya (sosbud) yang berbeda, kata yang sama pun bisa dimaknai berbeda. Contoh: “atos” dalam bahasa sunda bermakna “sudah”, sedangkan dalam bahasa jawa bermakna “keras”.
2.       Bahasa daerah VS Bahasa Indonesia
Contoh: “sok” dalam bahasa indonesia artinya “sombong”, sedangkan dalam bahasa sunda berarti “silahkan”. Setaip orang mempunyai gagasan pribadi mengenai suatu konsep. Kondisi emosional dan motivasional individu juga mempengaruhi makna yang ia berikan pada konsep tersebut.
3.       Bahasa Indonesia VS Bahasa Malaysia
Suatu negara menganggap bahasanya yang paling baik. Contoh: kereta di Malaysia artinya mobil di Indonesia.
4.       Bahasa daerah/ Bahasa Indonesia VS Bahasa asing lainnya
Contoh : Cincin dalam bahasa jepang artinya –alat kelamin- laki-laki.
E.       NAMA SEBAGAI SIMBOL
Fungsi pertama dari bahasa adalah penamaan. Nama dapat mempengaruhi hidup anda. Nama bersifat simbolik, nama memberikan suatu makna dan dapat mempersepsi cara perlakuan orang lain.
Contoh: anjing, babi à sama-sama nama hewan, tapi kedua hewan tersebut memiliki konotasi buruk (biasanya digunakan untuk mengumpat).
Nama juga bisa menyusahkan si empunya, contohnya ada orang yang bernama khadijah, maka ia secara tidak langsung harusnya bersikap baik dan santun seperti khadijah istri Nabi Muhammad dalam agama Islam.
F.       BAHASA GAUL
-          Latar belakang yang berbeda menjadikan cara berbicara juga berbeda.
-          Bahasa subkultural = Bahasa gaul = bahasa yang punya arti khusus dalam golongan tertentu.
-          Fungsi dari bahasa gaul:
1.       Sarana pertahanan diri: agar tidak bisa dipahami kelompok lain, terlebih kelompok lawan.
2.       Argot berfungsi sebagai sarana kebencian kelompok, terhadap kelompok lain.
3.       Argot sebagai sarana memelihara identitas dan solidaritas kelompok: membedakan mereka dengan kelompok lain.
-          Macam-macam bahasa gaul:
1.       Bahasa kaum selebritis
2.       Bahasa gay dan waria, bahasa selebritis mirip bahasa gay.
3.       Bahasa waria
G.     BAHASA WANITA VS BAHASA PRIA
Wanita dan pria memiliki bahasa yang belainan, ciri bahasa wanita adalah:
1.       Bahasa wanita tidak setegas bahasa pria, mereka biasa menggunakan kalimat yang mengandung ekor tanya, seperti “isn’t it?’’ “Right?”.
2.       Kurang percaya.
Wanita menggunakan kata penguat, seperti “so”, “very”.
3.       Frase melemahkan, contoh “maybe, perhaps”.
4.       Hiperkorek (resmi)
5.       Lebih sering menggunakan kutipan langsung.
6.       Intonasi pertanyaan.
7.       Kurang rasa humor.
8.       Enggan menyumpah dan memaki.
-          Wanita: pembicaran hubungan (berpusat pada perasaan, memilihari hubungan dengan orang lain)
-          Pria: pembicaraan laporan (berpusat pada Informasi faktual)
H.      RAGAM BAHASA INGGRIS
-          Orang inggris: bicara berbunga-bunga, banyak eufimisme.
-          Amerika: bicara langsung dan lugas.
-          Inggris filipina: khas karena dipengaruhi bahasa spanyol.
-          Inggris australia.
-          Inggris singapura.
I.        PENGALIHAN BAHASA
Kita perlu menguasai bahasa mitra komunikasi kita (minimal menguasai bahasa dunia, yaitu inggris)
1.       Kelemahan dalam penguasaan tata bahasa, struktur, kosakata: menghasilkan terjemahan yang membingungkan. Contoh: dragonfly bukan bermakna naga terbang tapi capung.
2.       Sejumlah kata serapan dari kata inggris mengalami perluasan. Contoh: keluarga – famili (padahal dalam bahasa inggris: family)
3.       Tetap dibiarkan dalam bahasa aslinya, karena sulit mencari padanannya. Contoh: printer, mouse, file.
4.       Frase atau kalimat bahasa indonesia tidak bisa diterjemahkan begitu saja secara kata per kata. Contoh: saya ingin buang air kecil, jika di terjemahkan ke dalam bahasa inggris tentu saja tidak menjadi begini, “I want to discard small water”.
J.        KOMUNIKASI KONTEKS TINGGI VS KOMUNIKASI KONTEKS RENDAH
-          Konteks rendah: pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung, lugas, terus terang.
Contoh: komunikasi pada program komputer.
-          Konteks tinggi: bersifat implisit, tidak langsung, tidak terus terang. Pernyataan verbal bisa berbeda dengan pernyataan non verbalnya.
Contoh: suku sunda-jawa yang berbicara berputar-putar tidak langsung pada inti masalah.
-          Orang indonesia cenderung berbicara tidak langsung atau menggunakan komunikasi konteks tinggi demi untuk menjaga harmoni.



BAB V. PERSEPSI: INTI KOMUNIKASI
-          Persepsi adalah proses menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita.
-          Persepsi adalah INTI KOMUNIKASI à interpretasi adalah INTI PERSEPSI.
-          Persepsi terdiri dari 3 aktivitas
1.       Seleksi
2.       Organisasi
3.       Interpretasi
-          Persepsi:
1.       Lingkungan fisik
a.       Lambang fisik
b.      Sifat luar ditanggapi
c.       Tidak bereaksi
2.       Lingkungan sosial (manusia)
a.       Lambang verbal dan non verbal
b.      Sifat luar dan dalam ditanggapi
c.       Bereaksi

A.      PERSEPSI TERHADAP LINGKUNGAN FISIK
Latar belakang pengalaman, budaya, dan suasana psikologis yang berbeda membuat kita berbeda dalam suatu objek (lingkungan fisik)
B.      PERSEPSI SOSIAL
1.       Persepsi didasarkan pengalaman
2.       Persepsi selektif
3.       Persepsi dugaan
4.       Persepsi evaluatif
5.       Persepsi kontekstual
C.      PERSEPSI DAN BUDAYA
1.       Kepercayaan, nilai, sikap
2.       Pandangan dunia
3.       Organisasi sosial
4.       Tabiat manusia
5.       Orientasi kegiatan
6.       Persepsi tentang diri dan orang lain
D.      KEKELIRUAN DAN KEGAGALAN PERSEPSI
1.       Kesalahan atribusi (memahami penyebab perilaku orang lain)
2.       Efek halo (kesan awal yang menjadikan kita menebak-nebak sifat orang lain)
3.       Stereotipe (menilai orang lain berdasarkan kelompoknya, bukan individunya)
4.       Prasangka (penilaian berdasarkan pengalaman)
5.       Gegar budaya (ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan budaya baru)



BAB VI. KOMUNIKASI VERBAL
-          Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata.
A.      ASAL USUL BAHASA
Bahasa adalah ekstensi perilaku sosial. Ketika belum mampu berbahasa verbal mereka berkomunikasi lewat gambar. 500 tahun lalu, manusia melakukan transisi komunikasi dengan memasuki era tulisan, dan bahasa lisan mulai banyak berkembang.
B.      FUNGSI BAHASA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
-          Untuk merancang solusi untuk memecahkan masalah hidup
-          Paling mendasar berfungsi utnuk menamai atau memberi julukan pada orang, objek, peristiwa.
-          Tiga fungsi bahasa (menurut Lary Barker):
1.       Penamaan: usaha untuk mengidentifikasi
2.       Interaksi: berbagi gagasan, emosi
3.       Trnasimisi Informasi: bertukar informasi
-          Tiga fungsi bahasa (menurut Book):
1.       Mengenal dunia disekitar kita
2.       Sarana untuk menghubungkan antar manusia
3.       Untuk hidup lebih teratur, saling memahami, percaya, satu tujuan.
C.      KETERBATASAN BAHASA
1.       Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek.
Kata-kata pada dasarnya bersifat parsial (tidak melukiskan sesuatu secara eksak). Contoh: mata kita bisa membedakan tujuh juta warna, tapi untuk menyediakan nama satu persatu untuk semuanya itu, tentu sulit karena berarti kita harus menyediakan tujuh juta nama.
2.       Kata-kata bersifat ambigu (tidak jelas) dan kontekstual (tergantung konteks). Karena kita berasal dari latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda, ruang dan waktu dapat mengubah makna kata.
3.       Kata-kata mengandung bias budaya.
Bahasa adalah PERLUASAN BUDAYA. Setiap bahasa menunjukkan suatu dunia simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pemikiran, pengalaman batin, dan kebutuhan pemakainya.
4.       Percampur adukan fakta, penafsiran (dugaan), dan penilaian (kekeliruan persepsi).
Bedakan FAKTA dengan DUGAAN agar PENILAIAN MENJADI BENAR. Kita sering mengganggap suatu peristiwa yang sebenarnya dugaan, kita anggap sebuah fakta.
D.      KERUMITAN MAKNA KATA (contoh: anak yang kencing disebut menyanyi)
Kitalah yang memberi makna pada kata. Makna dibagi menjadi dua:
1.       Makna denotatif: makna yang sebenarnya (murni)
2.       Makna konotatif: makna bercampur aduk dengan berbagai sebab dan alasan
Makna muncul dari berbagai hubungan khusus antara kata dengan manusia. Kita dapat menciptakan kata apa saja dengan arti apa saja, sejauh berdasarkan KESEPAKATAN.
-          Macam-macam rival bahasa:
1.       Bahasa daerah VS bahasa daerah
Karena lagi-lagi sosial budaya (sosbud) yang berbeda, kata yang sama pun bisa dimaknai berbeda. Contoh: “atos” dalam bahasa sunda bermakna “sudah”, sedangkan dalam bahasa jawa bermakna “keras”.
2.       Bahasa daerah VS Bahasa Indonesia
Contoh: “sok” dalam bahasa indonesia artinya “sombong”, sedangkan dalam bahasa sunda berarti “silahkan”. Setaip orang mempunyai gagasan pribadi mengenai suatu konsep. Kondisi emosional dan motivasional individu juga mempengaruhi makna yang ia berikan pada konsep tersebut.
3.       Bahasa Indonesia VS Bahasa Malaysia
Suatu negara menganggap bahasanya yang paling baik. Contoh: kereta di Malaysia artinya mobil di Indonesia.
4.       Bahasa daerah/ Bahasa Indonesia VS Bahasa asing lainnya
Contoh : Cincin dalam bahasa jepang artinya –alat kelamin- laki-laki.
E.       NAMA SEBAGAI SIMBOL
Fungsi pertama dari bahasa adalah penamaan. Nama dapat mempengaruhi hidup anda. Nama bersifat simbolik, nama memberikan suatu makna dan dapat mempersepsi cara perlakuan orang lain.
Contoh: anjing, babi à sama-sama nama hewan, tapi kedua hewan tersebut memiliki konotasi buruk (biasanya digunakan untuk mengumpat).
Nama juga bisa menyusahkan si empunya, contohnya ada orang yang bernama khadijah, maka ia secara tidak langsung harusnya bersikap baik dan santun seperti khadijah istri Nabi Muhammad dalam agama Islam.
F.       BAHASA GAUL
-          Latar belakang yang berbeda menjadikan cara berbicara juga berbeda.
-          Bahasa subkultural = Bahasa gaul = bahasa yang punya arti khusus dalam golongan tertentu.
-          Fungsi dari bahasa gaul:
1.       Sarana pertahanan diri: agar tidak bisa dipahami kelompok lain, terlebih kelompok lawan.
2.       Argot berfungsi sebagai sarana kebencian kelompok, terhadap kelompok lain.
3.       Argot sebagai sarana memelihara identitas dan solidaritas kelompok: membedakan mereka dengan kelompok lain.
-          Macam-macam bahasa gaul:
1.       Bahasa kaum selebritis
2.       Bahasa gay dan waria, bahasa selebritis mirip bahasa gay.
3.       Bahasa waria
G.     BAHASA WANITA VS BAHASA PRIA
Wanita dan pria memiliki bahasa yang belainan, ciri bahasa wanita adalah:
1.       Bahasa wanita tidak setegas bahasa pria, mereka biasa menggunakan kalimat yang mengandung ekor tanya, seperti “isn’t it?’’ “Right?”.
2.       Kurang percaya.
Wanita menggunakan kata penguat, seperti “so”, “very”.
3.       Frase melemahkan, contoh “maybe, perhaps”.
4.       Hiperkorek (resmi)
5.       Lebih sering menggunakan kutipan langsung.
6.       Intonasi pertanyaan.
7.       Kurang rasa humor.
8.       Enggan menyumpah dan memaki.
-          Wanita: pembicaran hubungan (berpusat pada perasaan, memilihari hubungan dengan orang lain)
-          Pria: pembicaraan laporan (berpusat pada Informasi faktual)
H.      RAGAM BAHASA INGGRIS
-          Orang inggris: bicara berbunga-bunga, banyak eufimisme.
-          Amerika: bicara langsung dan lugas.
-          Inggris filipina: khas karena dipengaruhi bahasa spanyol.
-          Inggris australia.
-          Inggris singapura.
I.        PENGALIHAN BAHASA
Kita perlu menguasai bahasa mitra komunikasi kita (minimal menguasai bahasa dunia, yaitu inggris)
1.       Kelemahan dalam penguasaan tata bahasa, struktur, kosakata: menghasilkan terjemahan yang membingungkan. Contoh: dragonfly bukan bermakna naga terbang tapi capung.
2.       Sejumlah kata serapan dari kata inggris mengalami perluasan. Contoh: keluarga – famili (padahal dalam bahasa inggris: family)
3.       Tetap dibiarkan dalam bahasa aslinya, karena sulit mencari padanannya. Contoh: printer, mouse, file.
4.       Frase atau kalimat bahasa indonesia tidak bisa diterjemahkan begitu saja secara kata per kata. Contoh: saya ingin buang air kecil, jika di terjemahkan ke dalam bahasa inggris tentu saja tidak menjadi begini, “I want to discard small water”.
J.        KOMUNIKASI KONTEKS TINGGI VS KOMUNIKASI KONTEKS RENDAH
-          Konteks rendah: pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung, lugas, terus terang.
Contoh: komunikasi pada program komputer.
-          Konteks tinggi: bersifat implisit, tidak langsung, tidak terus terang. Pernyataan verbal bisa berbeda dengan pernyataan non verbalnya.
Contoh: suku sunda-jawa yang berbicara berputar-putar tidak langsung pada inti masalah.
-          Orang indonesia cenderung berbicara tidak langsung atau menggunakan komunikasi konteks tinggi demi untuk menjaga harmoni.

 


 


Semoga rangkuman ini bermanfaat untuk kalian, utamanya mahasiswa yang sedang banyak tugas dan ujian. Rangkuman ini bertujuan mempermudah dalam proses belajar:) terimakasih banyak/29 oktober 2012/hamidah
mohon saran yang membangun jika memang masih ada kesalahan atau kekurangan :)