27 Sep 2012

Ya nanti


Ya nanti jika aku telah menjelma ibu muda aku baru merawat diri.
Ya nanti, kalau suamiku kaya aku bisa mand susu, memutihkan tubuh layaknya gadis kota, menghentikan rutinitas sehari-hari mandi air sumur keruh yang bau amis.
Biar sekarang terik matahari menggigit sekujur kulit ini, menyulap menjadi hitam kusam.
Menjadikan para pria bergidik ”ih gadis sawah, ih gadis buruh”
Aku tak ada waktu merawat diri, sedang perut saja belum tentu terisi tiap hari.

Kalau presidenku sudah ganti, dan dia turun dari Arsy kemudian sempat berdialog dengan Tuhan memintakan kemakmuran diseluruh pelosok negeri.
Pasti tak ada lagi kisah tentang nasi aking yang tumpah di pematang sawah.
Akan habis sudah penderitaan dibalik capil ayam yang menemani kami ”bermain” diatas lumpur, berkubang bersama kebo-kebo hitam yang lebih dari sekedar kusam.
Ya nanti,
Jikalau malaikat turun ke bumi, meniupkan pesan dari Tuhan dan menjelmakan SMP kami menjadi sekolah layak disebut sekolah, tempat pendidikan.
Dengan guru-guru yang sabar mau berjibaku disini bersama anak pelosok tanpa sepatu dan tanpa seragam. Dengan guru-guru pandai yang mau ikut tenggelam dalam ironi anak desa negeri indonesia.
Ya... nanti.
Ya itu masih nanti.
Ya nanti Ya Tuhan, beratnya sebuah penantian.

26 september 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BIG BIG thanks to you :)) silahkan beri komentar dan berkunjung kembali kawan. *hamidahsemi*