11 Feb 2012

Merampok ala robin hood. Mencontek ala siapa?

Beberapa hari yang lalu aku melihat berita di sebuah stasiun televisi swasta (tv one:red) sedang sibuk membahas tentang seorang perampok asal Riau yang merampok demi tujuan mulia. Ia merampok untuk membantu seorang nenek yang kelaparan, dan tentunya merampok untuk dirinya sendiri, sebagai sang lakon.
Kala video pemeriksaan lelaki paruh baya itu diputar di tv, ia terlihat sedang berjalan menuju ruang pemeriksaan di sebuah kantor polisi dengan berjalan tenang dan senyum bahagia diwajahnya. Mungkin itu benar sebuah senyum kebanggaan karena dia merasa mencuri untuk tujuan mulia, atau mungkin senyum “pura-pura” bangga demi menutupi rasa malu.
Terlepas dari apa yang sedang disenyum kan nya, banyak pendapat malah mencuat mengomentari sikap lelaki itu. Ada yang mengutuk-ngutuk tidak setuju dengan tindakan perampokan yang dilakukannya walau ia berdalih untuk membantu nenek. Bahkan ada pula yang terang-terangan mengatakan setuju dan mengaku salut dengan sikapnya. Salah satunya adalah budayawan Sudjiwo Tedjo, yang juga ikut hadir di studio tv one malam itu. Dia mengatakan ”menurut saya perampokan yang mungkin terinspirasi dari Robin Hood ini jauh lebih mulia ketimbang para koruptor. Korupsi jelas-jelas merampok hak rakyat jelata dengan motif ingin memperkaya diri sendiri, dan korupsi jauh lebih global dampaknya. Contohnya saja korupsi dana anggaran jalan raya, kemudian kualitas jalan raya yang dibangun menjadi buruk, terjadilah kecelakaan dan itu menyebabkan kematian. Contoh lain, korupsi membuat rakyat miskin tidak mendapatkan haknya kemudian dia mati kelaparan. Itu bukan hanya wacana namun kenyataan yang benar-benar sedang terjadi dewasa ini. Sedangkan Robin Hood ala Indonesia ini merampok untuk membantu nenek kelaparan, walau mungkin dia juga menikmati hasil rampokan nya tersebut dalam artian tidak semuanya diberikan pada nenek itu, namun ini hebat.” begitulah kurang lebih opini yang dikemukakan mbah tedjo.
Sekarang, saya yang ingin beropini, namun bukan lagi tentang robin hood sang perampok mulia, namun tentang perampokan yang terjadi dibangku sekolah. Mencontek, jujur atau munafik kita pasti semua sudah paham apa makna kata itu. Tidak ada anak sekolah yang tidak mengerti maksud kata mencontek, ngrepek, menyalin jawaban teman atau apalah itu.
Jika merampok yang dilakukan pria Riau tersebut masih memuat nilai sosial ketimbang para koruptor, apakah mencontek masih juga bisa ditolerir? Masihkah ada seorang seperti sudjiwo tedjo yang akan mendukung kegiatan mencontek? Mungkin dulu tidak, tapi sekarang ada-walau tidak banyak.
Bagi semua orang, baik yang tidak melakukan atau yang melakukan, mencontek adalah hal buruk. Namun praktek mencontek sudah biasa terjadi bahkan semakin dianggap lumrah mulai dari jenjang pendidikan sekolah dasar sampai pada perguruan tinggi.
Bagi sebagian kalangan, mereka begitu menajis-najiskan perlakuan mencontek. Dengan alasan itu bukanlah hasil sendiri, itu tidak mengukur kemampuan diri, dan itu perbuatan curang. Namun justru ada pendapat berbeda yang mencuat mengomentari praktek mencontek.
Mencontek adalah hal biasa, bukan hal yang berlebihan yang perlu dibahas secara menggebu-gebu. Kita tahu mencontek adalah hal curang dan tidak jujur, dan ketidak jujuran akan berdampak pada perilaku individu itu dalam kehidupannya. Mungkin kala dia menjadi pemimpin dia akan berlaku curang dan tidak jujur pula. Namun kembali lagi, kita flashback, siapakah yang salah? Murid ataukah sistem? Sistem yang memaksa murid menjadi insan teladan sempurna yang cerdas dan membanggakan, sedang kemampuan siswa ibaratnya jauh panggang daripada api, namun sistem tak mau peduli.
Ulangan, ujian atau yang semacam itu bukanlah satu-satunya tolak ukur. Kala siswa mencontek dalam ujian atau ulangan, sepertinya itu bukan hanya didasari faktor ingin lulus saja. Jika diselami lebih dalam, maka akan banyak sekali faktor yang menyebabkan ”perilaku kepepet” itu muncul dibenak mereka. mungkin karena faktor pemahaman yang belum rampung, faktor orang tua yang terlalu berharapan besar dan mereka enggan mengecewakan, kemudian masih banyak lagi kemungkinan. Jika seorang murid tersebut mencontek, kemudian dia mencocokkan jawaban temannya dengan soal (tidak serta merta menyalin jawaban), mungkin itu bisa dianggap sebagai salah satu proses belajar. Dia memahami soal dan mengerti jawaban yang benar dari temannya.

Dari perampokan harta menuju perampokan prestasi. Indonesia memang masih dirundung duka kala berbincang masalah jujur dan idealisme. Indonesia masih miskin pendirian walau sudah ada pancasila yang kokoh dijadikan pondasi. Namun apalah arti bangunan yang sempurna jika hanya ada pondasi tanpa ada dinding dan atapnya?
Lagi-lagi semua nya adalah saling berkesinambungan dan tak ada pendahulu juga pengakhirnya. Kegiatan mencontek didasari sistem yang begitu egois dan semena-mena. Tidaklah setiap individu itu sama, mereka ingin melakukan hal mulia (mungkin dalam hatinya) namun tanpa kemampuan yang cukup, maka terjadilah hal seperti perampokan ala robin hood atau mencontek terdesak sistem.
10 februari 2012/19:23 hamidah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BIG BIG thanks to you :)) silahkan beri komentar dan berkunjung kembali kawan. *hamidahsemi*