9 Okt 2010

weits, lagi-lagi ini bahasannya

Cinta?
Apa yang pertama kali terlintas dipikiranmu ketika mendengar kata itu?
Apakah kau berpikir, itu indah, itu suci, itu bahagia, damai, tentram, sejuk, itulah sketsa surga?
Atau malah sebaliknya?
Kau akan berpikir, itu busuk, pembohong, dusta, menjijikkan, menyakitkan, dan itulah neraka dunia?
Cinta, jarang orang benar dalam mendeskripsikannya.
Satu mengatakan paradigma itu benar, lainnya mengatakan salah, salah dan salah besar.
Mungkin, cinta memang datang dengan baik-baik dan sopan. Mengetuk pintu hatimu dengan kelembutan. Dan ketika kau bukakan pintu itu, maka kau temukan dia sedang berdiri dengan wajahnya yang bersinar, membawa nampan berisi air suci dari telaga kautsar. Yang ketika kau minum, maka akan hilang dahagamu seumur hidup, maka ketika kau rasakan air itu mengaliri kerongkonganmu dan mengalir dalam tubuhmu, itu adalah kenikmatan pertama di dunia.
Namun, terkadang cinta juga akan dengan tega dan beringasnya melukaimu. Menggores hatimu dengan belati. Atau bahkan dia akan menancapkan paku bumi dihatimu dengan palu godam hingga hatimu berlumuran darah, bercucuran, terkapar dan tak karuan. Dia akan meninggalkanmu tiba-tiba saat kau mulai bahagia dengan kesejukan secangkir air telaga tadi. Ketika kau meraihnya, melarangnya pergi, maka dia takkan menghiraukanmu. Maka dia akan mengibaskan tangannya dari genggamanmu.
Dia akan biarkan mu sendirian termangu dibawah pohon musim gugur yang kering. Dia akan biarkanmu menangis tersedu-sedu, seolah dia tak punya rasa iba lagi.
Sesungguhnya, siapakah dia?
Kenapa dia begitu beraninya datang dan pergi sesuka hatinya.
Saat kita tak pernah mengundangnya datang, saat kita tak butuh dia, saat kita tak meminta dia untuk memberikan kesejukan, kenapa dia justru seolah menawarkan diskon besar-besaran yang sampai-sampai membuat mata kita terbelakak dan tak sanggup untuk menolak kedatangannya.
Dan kenapa saat kita sudah terlena dan sudah terbiasa dengan kedamaian, tiba-tiba dia melepas pegangannya?
Betapa piciknya cinta.
Seharusnya dia tahu, kita bukanlah mainan yang bisa seenaknya diambil dan ditinggalkan.
Seharusnya dia mengerti, menyakitkan rasa patah hati.
Seharusnya, sekali-kali dialah yang harus merasakan, bukan hanya kita terus-terusan. Dia juga harus merasakan, bagaimana rasanya dihancurkan, dikhianati, dipermainkan, dan dibuang ketika sudah tak dibutuhkan dan sudah membosankan.
Sial. kenapa lagi-lagi harus cinta?

Hamidah izzatu laily
3 september 2010
11:27 am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

BIG BIG thanks to you :)) silahkan beri komentar dan berkunjung kembali kawan. *hamidahsemi*